
1Raj 19:9a, 11–13a; Mzm 85; Roma 9:1–5; Mat 14:22–33
Jangan Takut! Aku Ini
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Setiap orang pasti pernah mengalami “badai” dalam hidupnya. Ada badai penyakit yang tidak kunjung sembuh, badai ekonomi yang mengguncang keluarga, badai relasi yang retak, badai kehilangan orang yang dikasihi, badai kegagalan, bahkan badai kecemasan akan masa depan. Dalam situasi seperti itu, doa kita hampir selalu sama: “Tuhan, hilangkan badai ini!” Kita ingin persoalan segera selesai, penderitaan segera berakhir, dan hidup kembali tenang. Namun Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang sangat mengejutkan. Ketika para murid diterjang angin sakal dan ombak besar, Yesus tidak langsung menghentikan badai itu. Ia justru datang kepada mereka berjalan di atas air dan berkata, “Tenanglah! Aku ini. Jangan takut!” Seolah-olah Yesus ingin mengajarkan bahwa kehadiran-Nya jauh lebih penting daripada berubahnya keadaan.
Kalimat “Aku ini” bukan sekadar cara Yesus memperkenalkan diri. Dalam bahasa Yunani, ungkapan Ego Eimi mengingatkan kita pada nama Allah yang diwahyukan kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Artinya, Yesus sedang menyatakan bahwa Allah sendiri hadir di tengah badai kehidupan manusia. Inilah inti iman Kristen. Allah bukan hanya Allah yang bekerja ketika hidup berjalan baik. Ia adalah Allah yang masuk ke dalam badai bersama kita. Ia tidak berdiri di pantai sambil berteriak memberi petunjuk. Ia datang mendekat. Ia berjalan di atas ombak yang menakutkan itu. Karena itu pesan Injil hari ini bukanlah, “Jangan takut karena badai akan segera berhenti,” tetapi, “Jangan takut, karena Aku ada bersamamu.”
Betapa sering kita mencari Tuhan hanya supaya masalah kita selesai. Kita berpikir, jika penyakit sembuh, barulah kita bersyukur; jika ekonomi membaik, barulah kita merasa Tuhan dekat; jika keluarga kembali harmonis, barulah kita percaya. Namun Yesus mengubah cara berpikir kita. Ia seakan berkata, “Jangan hanya mencari hidup tanpa badai. Carilah Aku yang menyertaimu di dalam badai.” Sebab hidup tanpa badai belum tentu membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Sebaliknya, banyak orang justru menemukan Tuhan secara mendalam ketika melewati badai kehidupan. Yang memberi damai bukan karena badai sudah hilang, tetapi karena mereka menyadari bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan mereka.
Puncak Injil ini terjadi ketika Petrus mulai tenggelam. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia mampu berjalan di atas air. Tetapi ketika ia mulai memandang angin dan ombak, ia kehilangan keberanian. Lalu ia berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Injil mencatat sesuatu yang sangat indah: “Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus.” Kata “segera” menunjukkan bahwa kasih Allah tidak pernah terlambat. Yesus tidak membiarkan Petrus tenggelam lebih dahulu agar ia belajar dari kesalahannya. Ia tidak berkata, “Bukankah sudah Aku bilang?” Sebelum memberikan nasihat, Yesus lebih dahulu memberikan tangan-Nya. Inilah wajah Allah yang kita imani: Allah yang pertama-tama menyelamatkan, baru kemudian membimbing.
Bacaan pertama semakin memperkaya pesan ini. Nabi Elia juga sedang mengalami badai batin. Ia kecewa, letih, takut, bahkan ingin menyerah. Namun Allah tidak hadir dalam angin ribut, gempa bumi, atau api. Allah hadir dalam suara angin sepoi-sepoi basa. Mengapa? Karena Allah sering bekerja bukan dengan menghilangkan semua persoalan secara ajaib, tetapi dengan menghadirkan damai di dalam hati orang yang percaya. Begitulah Tuhan bekerja juga dalam hidup kita. Ia hadir melalui doa yang menenangkan hati, melalui Sabda yang menguatkan, melalui keluarga yang mendampingi, melalui sahabat yang mendengarkan, melalui Ekaristi yang menghidupkan kembali harapan kita. Kehadiran Allah sering kali lembut, tetapi justru itulah yang menguatkan kita untuk terus melangkah.
Saudara-saudari, dunia saat ini dipenuhi oleh ketakutan. Orang takut kehilangan pekerjaan karena perkembangan teknologi. Orang muda takut menghadapi masa depan yang tidak pasti. Banyak keluarga takut akan krisis ekonomi. Gereja pun menghadapi berbagai tantangan. Dalam situasi seperti ini, sangat mudah jika kita lebih sibuk menghitung besarnya ombak daripada menyadari besarnya kasih Allah. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengubah fokus hidup. Jangan menjadikan ketakutan sebagai pusat hidup kita. Jadikan Kristus sebagai pusatnya. Orang yang memegang tangan Kristus mungkin tetap berjalan di tengah badai, tetapi ia tidak akan berjalan sendirian.
Maka marilah kita pulang hari ini dengan membawa satu keyakinan yang mengubah hidup: Tuhan tidak selalu mengubah situasi kita, tetapi Tuhan selalu menyertai kita di dalam situasi itu. Ia tidak selalu menghilangkan salib kita, tetapi Ia memikulnya bersama kita. Ia tidak selalu menghentikan badai, tetapi Ia selalu mengulurkan tangan-Nya agar kita tidak tenggelam. Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya berdoa, “Tuhan, hilangkan badai ini.” Berdoalah juga, “Tuhan, peganglah tanganku, supaya aku tetap setia berjalan bersama-Mu.” Sebab tangan Kristus jauh lebih kuat daripada badai apa pun. Dan selama tangan itu menggenggam kita, kita tidak perlu takut. “Jangan takut! Aku ini.”
Amin.