
Para peserta pertemuan pertama dialog Katolik dan Konfusianisme di Seoul pada 4-5 Agustus (Foto: supplied).
Komsoskam.com|| SEOUL — Dialog perdana antara Gereja Katolik dan tradisi Konfusianisme di Korea Selatan menegaskan pentingnya solidaritas dan kerja sama nyata untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan harmonis di tengah kehidupan yang semakin plural.
Dialog internasional yang disponsori Vatikan tersebut berlangsung di Seoul pada 4–5 Agustus. Sekitar 150 peserta dari berbagai negara hadir dalam First International Catholic-Confucian Colloquium, yang mengangkat tema “Langit Baru, Bumi Baru dan Datong (Harmoni Agung, Kesatuan Agung): Dialog Kristen–Konfusianisme untuk Membangun Masyarakat Ideal.”
Pertemuan ini diselenggarakan oleh Dikasteri untuk Dialog Antaragama Vatikan, bekerja sama dengan Konferensi Waligereja Korea (CBCK), Akademi Konfusianisme Sungkyunkwan, serta Sekolah Pascasarjana Teologi dan Institut Penelitian Teologi Universitas Sogang.
Sekitar 35 anggota delegasi Vatikan turut ambil bagian dalam pertemuan tersebut. Para peserta lainnya datang dari Korea Selatan, Kamboja, China, Hong Kong, Indonesia, Italia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat, dan Vietnam.
Mencari titik temu di tengah krisis
Dalam pidato utama, Prefek Dikasteri untuk Dialog Antaragama, Kardinal George Jacob Koovakad, mengajak peserta melihat titik temu antara visi Konfusianisme tentang Datong dan gambaran Kristiani mengenai “Langit Baru dan Bumi Baru”.
Menurut Koovakad, kedua gagasan tersebut lahir dari komunitas yang menghadapi krisis sosial, politik, dan moral yang mendalam. Tradisi yang diwariskan kemudian diolah secara kreatif untuk menghadirkan sebuah cakrawala harapan yang mampu menuntun manusia menghadapi ketidakpastian dan perubahan.
Karena itu, agama tidak cukup hanya berbicara mengenai kehidupan spiritual, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membangun masyarakat yang lebih manusiawi.
“Agama mempunyai tanggung jawab yang mendalam untuk menawarkan kebijaksanaan etis dan spiritualnya demi membangun masyarakat yang adil dan manusiawi, memajukan pembaruan etika, keharmonisan sosial, serta kesejahteraan seluruh keluarga manusia,” kata Koovakad.
Sekretaris Dikasteri untuk Dialog Antaragama, Monsinyur Indunil Janakaratne Kodithuwakku Kankanamalage, menyebut pertemuan tersebut sebagai sebuah momentum bersejarah.
“Hari ini sungguh merupakan hari bersejarah. Babak baru telah dibuka dalam hubungan antara Kekristenan dan Konfusianisme, dengan cakrawala kerja sama yang lebih luas untuk melayani umat manusia,” ujarnya.
Jejak sejarah Kekristenan di Korea
Presiden Konferensi Waligereja Korea, Uskup Mathias Ri Iong-hoon, mengingatkan bahwa sejarah Kekristenan di Korea memiliki hubungan yang erat dengan tradisi intelektual Konfusianisme.
Menurut dia, para leluhur Korea pada masa lalu menemukan kebenaran iman Katolik ketika mereka mempelajari kitab-kitab Konfusianisme. Pemikiran tersebut menjadi salah satu pintu yang membantu mereka mengenal dan mendalami iman Katolik.
“Para leluhur kita di Korea menemukan kebenaran iman Katolik ketika mereka menyelidiki kitab-kitab Konfusianisme, yang sangat menginspirasi dan menyentuh jiwa mereka,” katanya.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa perjumpaan antara kedua tradisi bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Namun, dialog yang diselenggarakan Vatikan kali ini membuka ruang baru untuk mengembangkan hubungan tersebut dalam konteks dunia modern.
Dari dialog menuju tindakan nyata
Pembahasan dalam kolokium tidak berhenti pada persoalan sejarah atau teologi. Para peserta berusaha menemukan bagaimana nilai-nilai Kristen dan Konfusianisme dapat diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat dewasa ini.
Sejumlah tema dibahas, antara lain kepemimpinan yang berbudi luhur, persaudaraan universal, pendidikan moral dalam masyarakat plural, serta penggunaan dan pembagian sumber daya secara bertanggung jawab demi keberlanjutan ekologis.
Dalam pernyataan bersama yang disahkan pada 5 Agustus, kedua pihak menegaskan bahwa perjumpaan yang autentik tidak berarti menghapus perbedaan.
“Perjumpaan yang autentik tidak menghapus perbedaan, tetapi justru memperdalam pemahaman, memperkuat kepercayaan, dan memperkaya kita semua.”
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa kesejahteraan manusia berawal dari pembentukan pribadi yang berbudi luhur, penuh belas kasih, dan bertanggung jawab.
Transformasi pribadi, kehidupan yang beretika, serta kepedulian terhadap sesama dipandang sebagai fondasi bagi terbentuknya keluarga, komunitas, dan masyarakat yang sehat.
Kedua pihak juga sepakat bahwa masyarakat yang adil dan damai membutuhkan kepemimpinan yang berlandaskan integritas, kerendahan hati, semangat melayani, dan penghormatan terhadap sesama.
Perhatian terhadap kelompok rentan, generasi mendatang, dan lingkungan hidup juga ditegaskan sebagai tanggung jawab moral dan spiritual bersama. Karena itu, masyarakat didorong untuk mengembangkan pola hidup yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Ren dan kasih
Kepala Akademi Konfusianisme Sungkyunkwan, Choi Jong-soo, melihat adanya kedekatan antara konsep Ren, atau kebajikan kasih dan kemanusiaan dalam Konfusianisme, dengan ajaran kasih dalam Kekristenan.
Menurut Choi, keduanya pada dasarnya memiliki perhatian yang sama terhadap martabat manusia dan keadilan sosial.
“Keharmonisan sejati tidak terletak pada upaya menjadi sama, tetapi pada kesediaan untuk bergandengan tangan demi kebaikan bersama sambil menghormati perbedaan satu sama lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolokium tersebut memperlihatkan adanya kesesuaian mendasar antara cita-cita Konfusianisme tentang Datong dan visi Kristiani mengenai “Langit Baru dan Bumi Baru.”
Membuka babak baru
Para penyelenggara dan peserta menilai pertemuan tersebut sebagai langkah penting dalam membangun hubungan yang lebih erat antara kedua tradisi.
Monsinyur Kankanamalage mengatakan, pertemuan yang mempertemukan umat Kristen dan Konfusian dari berbagai negara itu membantu kedua pihak untuk saling mengenal, mengatasi prasangka, dan menyembuhkan luka-luka masa lalu.
Pertemuan berikutnya telah disepakati untuk diselenggarakan di Indonesia pada 2028 dan Hong Kong pada 2030. Rencana tersebut menunjukkan bahwa dialog perdana di Seoul mendapat sambutan positif dan membuka peluang bagi kerja sama yang lebih luas.
Uskup Ri menilai keterlibatan langsung Vatikan dalam membuka dialog global dengan tradisi Konfusianisme memiliki arti penting.
“Walaupun kita selalu membicarakannya dalam perspektif sejarah, seperti hubungan dengan para Yesuit pada abad ke-17 hingga ke-19, saya kira penting bagi Vatikan untuk terus mengembangkan dialog ini dalam konteks zaman sekarang,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Profesor Jonathan Y. Tan dari Case Western Reserve University, Amerika Serikat. Menurutnya, dialog tersebut merupakan langkah penting untuk menghidupkan kembali hubungan antara Kekristenan dan Konfusianisme dalam konteks dunia kontemporer.
Pertemuan di Seoul akhirnya memperlihatkan satu pesan sederhana: perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang bagi manusia untuk bekerja bersama.
Dalam masyarakat yang semakin plural, baik tradisi Kristen maupun Konfusianisme ditantang untuk membawa kekayaan spiritual dan moralnya keluar dari ruang internal masing-masing, lalu mengubahnya menjadi tindakan nyata bagi sesama, terutama bagi mereka yang rentan, generasi mendatang, dan bumi yang menjadi rumah bersama.