Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap yang kukenal

8,511 total views, 3 views today

RP. Benny Manurung, OFMCap.

Aku hanya ban serap untuk KAM,” begitu pernah dituturkan oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga di sebuah majalah Katolik (Menjemaat atau Hidup, saya lupa). Kalimat itu diungkapkan sebagai tanggapan beliau ketika diangkat menjadi ‘uskup Koajutor’* (uskup yang mempunyai hak pengganti uskup sebelumnya) untuk Keuskupan Agung Medan pada tahun 2004. Ketika Mgr Kornelius Sipayung ditunjuk oleh Vatikan menjadi Uskup Agung KAM pada 08 Desember 2018, beliau juga mengatakan: “Aku hanya mempersiapkan jalan”. Kalimat ini diungkapkannya pada saat wawancara dengan majalah Hidup di sela-sela pertemuan di gedung KWI, Jakarta. Dua kalimat ini adalah ungkapan kerendahan hati seorang fransiskan sejati, pengikut Santo Fransiskus Assisi yang hina dina dan rendah hati.

Saya tidak ingat persis kapan pertama kali mengenal Mgr. Anicetus Sinaga. Yang pasti saya belum pernah berjumpa beliau ketika masih bertugas sebagai uskup di Keuskupan Sibolga (1981-2004). Ketika beliau menjadi Uskup koajutor di KAM saya masih frater nopis di Parapat. Yang paling saya ingat (dulu) ialah suara beliau yang ‘khas’. Bahkan saya hampir berhasil meniru suara beliau, dan menjadi candaan bersama teman-teman (Mea maxima culpa!).

Suara dan sikap beliau memang sangat khas, berbeda dengan Mgr. Pius Datubara dengan suara agat berat. (Memang, setelah belajar sedikit hal beberapa tahun ini di sini, saya semakin mengerti arti perbedaan ini: memang kedua uskup tercinta secara psikologis sangat berbeda dan mempunyai kekhasan). Lagunya yang terkenal, “Appanella” bagiku dulu tidak menarik karena sering diulang dan dinyanyikan dengan nada tinggi. Namun, setelah saya tahu sejarah lagu ini dan beliau sendiri yang menggubahnya (saya tidak ingat persis apakah penulis asli atau penggubah syair?), ada sense mysterium-nya juga bila mendengar lagu ini dinyanyikan oleh beliau. Beliau kurang bisa mengikuti ritme musik keyboard juga. Pernah saya mengiringi beliau ketika menyanyikan Appanella, dan beberapa orang justru melirik ke arahku ketika antara musik dan lagu tidak seirama. Yang melirik seakan mengingatkan supaya mengiringi dengan baik dan menyesuaikan irama. Saya bingung karena ritme/tempo keyboard selalu stabil. Namun, justru di sinilah terasa kalau lagu “Appanella” itu khas darinya; lagunya ‘gak seperti lagu kebanyakan. Lagu itu menjadi unik, dan hanya beliau pemilik dan penyanyi lagu itu, tak ter-cover.

Pernah suatu ketika saya menjaga seorang pastor yang sakit di RS Elisabeth Medan (sekitar 2006), saya berjumpa beliau di depan rumah sakit. (Dan, apakah ini pertemuan yang pertama sekali secara langsung? Saya tidak ingat). Beliau masih uskup koajutor saat itu (beliau resmi menjadi uskup KAM pada 12 Februari 2009). “Ingot janjinta i da?” (ingat janji kita, ya?), kata beliau padaku ketika tahu saya seorang frater. Saya agak bingung waktu itu, seingatku tidak pernah ada janji antara aku dengan monsignore ini. Janji apa, Mgr? tanyaku. “Na tolu i: Ketaatan, kemiskinan, kemurnian,” kata beliau. Saya tersenyum mendengar janji ini, dan seorang uskup mengingatkannya. Dan, sangat benar, waktu itu memang meskipun masih frater kami sudah mengucapkan janji (Namanya “kaul sementara” yang dibarui setiap tahun). Dan, ternyata kalimat itu adalah nasihat andalan beliau setiap bertemu setiap religius. Ungkapan itu hendak menunjukkan tanggung jawab dan peran beliau sebagai seorang uskup dan bapa yang mengayomi dan menuntun anak-anaknya.

Hal yang unik juga saya rasa dulu adalah kotbah beliau yang terkesan itu-itu saja: tentang Hamalimon Batak Toba “Si Raja Indainda” dan putri Mulajadi NabolonSi Boru Deak Parujar” (Ibu segala yang hidup). Dan, kalimat yang sering ditekankan oleh beliau juga adalah sense mysterium tremendum (gentar) dan mysterium fascinosum (kagum) berhadapan dengan keilahian. Saya sama sekali tidak paham dengan istilah ini dulu. Hal sangat berbeda dengan kotbah uskup sebelumnya, Mgr. A.G.Pius Datubara, yang sangat karismatis dengan suara yang berat. Namun, akhirnya aku paham juga. Ternyata isi kotbah beliau ini adalah inti dari disertasi doktoral beliau yang berjudul: “Toba-Batak High God: Transcendence and Immanence” dan konsep itu termuat lagi dalam bukunya yang lain: Dendang Bakti. Ini pun baru saya tahu lama kemudian ketika kuliah di STFT St. Yohanes Pematangsiantar (2006-2013). Ketika saya menemukan dan membaca isi buku tersebut, beberapa kali buku itu menjadi bahan rujukan/referensi dalam menuliskan kebudayaan Batak Toba. Kalau anda seorang Batak, membaca buku ini tentu akan sangat menarik. Saya kutip satu kisah mistik tentang Si Boru Deak Parujar (Ibu segala yang hidup) di sini:

“Batara Guru (yang berasal dari Mulajadi Nabolon) memperoleh satu orang laki-laki dan enam orang perempuan. Yang paling bungsu disebut Siboru Deak Parujar.  Mulajadi Nabolon memerintahkan supaya Siboru Deak Parujar dinikahkan dengan Raja Odap-odap. Namun, Siboru Deak Parujar menolak untuk menikah. Melihat itu, Mulajadi Nabolon marah lalu melemparkan Siboru Deak Parujar ke banua tonga yang penuh dengan air. Melihat itu, Mulajadi Nabolon menjadi kasihan. Ia meminta Siboru Deak Parujar kembali ke banua ginjang tetapi ia tidak mau. Mulajadi Nabolon lalu mengirimkan tanah untuk diolah oleh Siboru Deak Parujar. Dari tanah itulah, Siboru Deak Parujar menciptakan bumi yang pertama. Namun, Naga Padoha yang bertanduk tujuh menghancurkan dunia pertama itu. Kembali Siboru Deak Parujar meminta segenggam tanah ke banua ginjang. Bukan hanya tanah, juga pedang dan tangkai pohon kehidupan, Hariara Tumburjati. Lalu, Siboru Deak Parujar menikam Naga Padoha dengan pedang itu. Naga Padoha tidak mati hanya dilemahkan. Sementara itu, Siboru Deak Parujar menimbuninya dengan tanah. Timbunan tanah yang dibuat Siboru Deak Parujar itu semakin besar dan tinggi. Naga Padoha tidak mati tetapi tetap hidup di bawah bumi. Dia tidak berdaya kecuali sekali-sekali mengetarkan bumi dan menggelorakan laut. Untuk itu, orang Batak yakin bahwa gempa yang terjadi adalah akibat dari ulah Naga Padoha di bawah bumi. Bila terjadi demikian, Orang Batak akan menyerukan “Suhul”. Menyerukan suhul berarti mengingatkan gagang pedang yang pernah ditusukkan oleh Siboru Deak Parujar pada Naga Padoha untuk menundukkannya”.

Pada saat saya ditahbiskan oleh Mgr. Anicetus Sinaga menjadi imam, 14 Februari 2014, lewat umpasa batak saat kotbah beliau menekankan pentingnya komitmen. Aku merasa sangat semangat. “Putra-putraku”, ujar beliau menekankan kedekatan seorang gembala (atau “Putri-putriku” kalau sapaan itu ditujukan kepada para suster). Dan, tak jarang juga beliau, dengan suara yang kuat menegur para imam dan biarawan/wati untuk tetap ingat akan luhurnya panggilan mereka.

Satu hal lain yang sangat khas dari monsignor ini adalah fisiknya yang kuat dan jarang sakit. Menurut penuturan beberapa orang, beliau jarang sakit. Selain itu, beliau juga seorang pekerja tulen dan sangat hobby menulis. Pernah pada suatu pertemuan imam Balita KAM (imam yang umur tahbisannya lima tahun ke bawah) di PPU Pematangsiantar pada 06 Agustus 2014, kami melihat beliau tiba dari suatu kunjungan. Sangat letih karena perjalanan yang panjang. Saya dengar panitia pertemuan menanyakan bahan pertemuan dari oppug apakah sudah siap biar di-fotocopy. Kata beliau belum dan masih akan dituliskan setelah ini, padahal waktu itu saya lihat jam sudah hampir jam 11 malam. Besok paginya bahan tertulis itu sudah fix dan ada di atas meja kami masing-masing. Ketulusan hati memang membuat tetap fit, bugar, dan bersemangat dalam pekerjaan/panggilan.

Selamat jalan Mgr. Anicetus! 07 November 2020, pkl. 18.00 WIB, engkau telah menghadap Sang Pencipta. Kami bangga pernah memiliki gembala seperti dirimu. Di tengah kesedihan dalam beberapa waktu terakhir ini, kami mendoakanmu.

Sungguh duka yang mendalam. Dalam waktu singkat empat imam (RD. Tola Harefa, RP Servatius, RP Teophil, RP Barnabas Winkler) dan seorang uskup (Mgr. Anicetus Sinaga) dari Keuskupan Sibolga meninggal dunia di tengah-tengah situasi pandemi covid-19. Mari kita bawakan mereka dalam doa-doa kita. Amin.

Roma, 08 November 2020.

 

Facebook Comments
Baca juga  Pesta Emas 50 Tahun Paroki Beato Dionysius Sumbul

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply