Kotbah Mgr Kornelius Sipayung OFMCap Minggu, HR Tubuh dan Darah Kristus (CORPUS CHRISTI

Ul 8:2-3.14b-16a; Mzm 147:12-13.14-15.19-20; 1Kor 10:16-17; Yoh 6:51-58

“Allah Memberi Roti Agar Manusia Tinggal di Dalam Kristus”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Banyak orang melihat Ekaristi sebagai sebuah ritual yang dilakukan setiap Minggu. Ada pula yang melihatnya sebagai kenangan akan Perjamuan Terakhir. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita masuk lebih dalam. Benang merah seluruh bacaan adalah ini: Allah memberi roti agar manusia tinggal di dalam Dia. Sejak awal sejarah keselamatan, Allah selalu memberi makan umat-Nya, bukan sekadar untuk menghilangkan lapar jasmani, tetapi untuk membawa mereka masuk ke dalam persekutuan hidup dengan-Nya.

Dalam bacaan pertama, Musa mengingatkan bangsa Israel tentang perjalanan mereka di padang gurun. Selama empat puluh tahun mereka mengalami lapar, kehausan, dan ketidakpastian. Namun justru di tengah situasi itu Allah memberi manna dari surga. Musa menjelaskan bahwa Allah melakukan semuanya itu agar umat memahami satu kebenaran besar:

“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan.” Allah ingin membebaskan umat-Nya dari ilusi bahwa hidup bergantung pada kekuatan, kekayaan, atau kemampuan manusia semata. Manna menjadi sekolah iman. Setiap hari mereka belajar bahwa hidup adalah anugerah dan bahwa Allah sendirilah sumber kehidupan mereka.

Mazmur tanggapan melanjutkan tema yang sama. Pemazmur memuji Tuhan yang memberi damai, memberi gandum terbaik, dan mengutus Sabda-Nya ke seluruh bumi. Dalam tradisi Gereja, gandum dan Sabda ini selalu dipandang sebagai gambaran Ekaristi. Sebelum umat menerima Tubuh Kristus, mereka terlebih dahulu mendengarkan Sabda Kristus. Meja Sabda dan Meja Ekaristi tidak pernah dipisahkan. Allah memberi makan umat-Nya melalui Sabda dan Sakramen. Ia tidak hanya mengajar dari jauh, tetapi memberi diri-Nya sendiri sebagai santapan bagi umat-Nya.

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus membawa kita lebih jauh lagi. Ia bertanya:

“Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus?” Ekaristi bukan hanya soal hubungan pribadi antara saya dan Tuhan. Ekaristi membentuk Gereja. Karena roti itu satu, maka kita yang banyak menjadi satu tubuh. Di altar, segala perbedaan status, suku, bahasa, jabatan, dan kekayaan dipersatukan dalam Kristus. Maka tidak mungkin seseorang menerima Tubuh Kristus tetapi tetap memelihara kebencian, perpecahan, atau ketidakpedulian terhadap sesama. Komuni dengan Kristus harus menghasilkan komunio dengan saudara-saudari kita.

Puncaknya terdapat dalam Injil Yohanes. Yesus berkata:

“Akulah roti hidup yang turun dari surga.” Dan lebih tegas lagi: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Inilah salah satu pernyataan paling radikal dalam seluruh Injil. Yesus tidak berkata bahwa Ekaristi hanya lambang atau kenangan. Ia berbicara tentang sebuah persekutuan yang nyata dan mendalam. Tujuan Ekaristi bukan sekadar agar kita menerima Kristus, melainkan agar kita tinggal dalam Kristus dan Kristus tinggal dalam diri kita. Dalam bahasa Yohanes, “tinggal” berarti hidup dalam relasi yang tetap, mendalam, dan mengubah seluruh keberadaan kita.

Karena itu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya perayaan tentang roti dan anggur yang dikonsekrir. Ini adalah perayaan tentang Allah yang memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia. Dalam Ekaristi, Kristus yang wafat dan bangkit terus hadir sebagai kurban keselamatan, sebagai kehadiran nyata, dan sebagai persekutuan yang mengubah hidup. Ia tidak hanya memberi sesuatu kepada kita. Ia memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Tidak ada agama lain yang memiliki misteri kasih seperti ini: Allah menjadi santapan bagi umat-Nya agar umat-Nya mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.

Namun pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah kita sungguh tinggal di dalam Kristus setelah menerima Komuni Kudus? Banyak orang menerima Ekaristi setiap Minggu, tetapi tetap hidup seolah-olah Kristus tidak hadir dalam dirinya. Mereka menerima Tubuh Kristus di altar, tetapi tidak menjadi tubuh Kristus bagi sesamanya. Mereka makan roti surgawi, tetapi tidak membagikan kasih surgawi. Padahal Ekaristi selalu mengandung perutusan. Kita menerima Kristus agar kita menjadi kehadiran Kristus di tengah dunia. Kita diberi makan agar mampu memberi makan mereka yang lapar akan kasih, pengampunan, keadilan, perhatian, dan pengharapan.

Di dunia saat ini, banyak orang mengalami kelaparan yang lebih dalam daripada kelaparan fisik. Ada yang lapar akan makna hidup, lapar akan kasih sayang, lapar akan pengampunan, lapar akan persaudaraan, dan lapar akan harapan. Ada keluarga yang retak, orang muda yang kehilangan arah, masyarakat yang terpecah oleh kebencian, dan banyak orang yang merasa sendirian. Maka setelah menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita diutus untuk menjadi roti yang dipecah-pecahkan bagi sesama. Seperti Kristus memberikan diri-Nya bagi dunia, demikian pula kita dipanggil memberikan waktu, perhatian, kemampuan, dan kasih kita bagi orang lain.

Saudara-saudari terkasih,

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita bahwa Allah memberi roti bukan hanya untuk mengenyangkan manusia, tetapi agar manusia tinggal di dalam Dia. Dari manna di padang gurun, gandum terbaik dalam mazmur, roti yang satu dalam surat Paulus, hingga Roti Hidup dalam Injil Yohanes, semuanya menunjuk kepada Kristus. Karena itu marilah kita datang kepada Ekaristi bukan sekadar sebagai kewajiban Minggu, melainkan sebagai perjumpaan dengan Kristus yang hidup. Dan setelah menerima-Nya, marilah kita pergi untuk menjadi roti kasih bagi dunia yang lapar akan Allah. Sebab tujuan akhir Ekaristi bukan hanya agar Kristus hadir di altar, tetapi agar Kristus hidup dalam diri kita dan melalui kita menjangkau dunia.

Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com