
“Saya berdoa setiap hari, tetapi bukan karena saya sedang berada di Piala Dunia.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di tengah dunia sepak bola yang sering dipenuhi ambisi, ego, dan tekanan untuk menang dengan cara apa pun, perkataan Luis de la Fuente justru terasa begitu menyegarkan.
Pelatih tim nasional Spanyol itu berhasil membawa negaranya meraih berbagai prestasi bergengsi, termasuk menjuarai Euro 2024 dan kemudian mengantar Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026. Di balik keberhasilan itu, ada sesuatu yang jarang menjadi sorotan media: imannya kepada Kristus.
Yang menarik, Luis de la Fuente tidak pernah menganggap Tuhan sebagai “jalan pintas” menuju kemenangan. Ketika ditanya apa yang ia doakan sebelum pertandingan penting, jawabannya sangat berbeda dari yang mungkin dibayangkan banyak orang.
“Akan tidak adil meminta Tuhan menolong saya tetapi tidak menolong lawan.”
Pernyataan ini menunjukkan kedewasaan iman yang luar biasa. Baginya, doa bukanlah alat untuk memaksa Tuhan berpihak kepada Spanyol. Tuhan bukan pendukung satu tim sepak bola tertentu. Sebaliknya, doa adalah ungkapan syukur, penyerahan diri, dan permohonan agar diberi kesehatan, kebijaksanaan, dan kekuatan untuk menjalani tanggung jawab dengan baik.
Berdoa Setiap Hari, Bukan Hanya Saat Final
Luis de la Fuente mengaku bahwa ia berdoa setiap hari. Ia bersyukur ketika bangun pagi karena masih diberi kehidupan, kesehatan, dan kesempatan untuk bekerja. Kebiasaan itu tidak berubah meskipun ia memimpin tim nasional di panggung terbesar sepak bola dunia.
Ketika banyak orang mengira ia membuat tanda salib sebelum pertandingan karena takhayul, ia menjawab dengan sangat sederhana: itu bukan superstisi, melainkan ungkapan iman. Bahkan ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak percaya pada takhayul.
Kemenangan Tidak Menentukan Nilai Hidup
Dalam sebuah wawancara, Luis mengatakan bahwa kemenangan maupun kekalahan tidak menentukan siapa dirinya.
Prestasi memang membanggakan, tetapi identitasnya tidak dibangun di atas trofi. Identitasnya dibangun di atas keyakinan bahwa ia ingin hidup selaras dengan prinsip-prinsip Kristiani yang diyakininya sejak kecil.
Ia berasal dari keluarga Katolik dan mengatakan bahwa iman memberikan ketenangan, keberanian mengambil keputusan, serta menjaga keseimbangan emosinya di tengah tekanan dunia sepak bola profesional.
Memimpin Seperti Seorang Ayah
Para pemain Spanyol berkali-kali menggambarkan hubungan mereka dengan sang pelatih bukan sekadar hubungan profesional.
Luis de la Fuente membangun budaya “keluarga” di dalam tim nasional. Ia menekankan kepercayaan, kejujuran, persatuan, dan perhatian kepada setiap pemain. Baginya, tim bukan hanya kumpulan individu berbakat, tetapi sebuah keluarga yang saling menguatkan.
Pendekatan inilah yang membuat banyak pemain merasa dipercaya dan berkembang bersama dirinya sejak level tim muda hingga tim senior.
Kesaksian yang Langka
Di dunia olahraga modern, tidak banyak tokoh yang berbicara tentang iman secara terbuka tanpa menjadikannya alat promosi.
Luis de la Fuente justru melakukannya dengan rendah hati. Ia tidak memaksakan keyakinannya kepada siapa pun. Ia hanya mengatakan, “Saya Katolik,” lalu menjalani hidup sesuai dengan pengakuan itu.
Kesaksiannya bukan terutama melalui kata-kata, melainkan melalui cara ia memimpin, menghormati lawan, menjaga kerendahan hati saat menang, dan tetap tenang ketika menghadapi tekanan.
Memuliakan Tuhan Lewat Sepak Bola
Barangkali inilah pelajaran terbesar dari kisah Luis de la Fuente.
Kemuliaan Tuhan tidak hanya tampak di dalam gereja atau di mimbar. Kemuliaan Tuhan juga dapat terlihat di ruang ganti pemain, di pinggir lapangan, di ruang konferensi pers, bahkan ketika seseorang mengangkat trofi—asal semua itu dilakukan dengan hati yang tetap mengakui bahwa segala sesuatu adalah anugerah.
Trofi memang berharga.
Namun, karakter, kerendahan hati, dan iman yang tetap teguh ketika sorotan dunia tertuju kepadanya jauh lebih bernilai.
Seperti yang ditunjukkan Luis de la Fuente, kemenangan terbesar bukanlah mengangkat Piala Dunia, melainkan tetap setia kepada Tuhan, baik ketika menang maupun ketika kalah.
#Ambros Tamba