
Komsoskam.com | Medan – Pengurus Profesional dan Usahawan Katolik Keuskupan Agung Medan (PUKAT KAM) periode 2026–2029 resmi dilantik dalam Perayaan Ekaristi yang berlangsung di Gereja Katolik Katedral Medan, Jumat (10/7). Pelantikan tersebut menjadi momentum penguatan peran para profesional dan pengusaha Katolik untuk menjalankan usaha yang berlandaskan nilai kejujuran, pelayanan, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Misa pelantikan dipimpin dengan dihadiri Pastor Yoseph Pandia, OFM Conv., yang mewakili Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap. Dalam homilinya, Pastor Yoseph menegaskan bahwa Pukat KAM tidak hanya dipanggil menjadi organisasi yang menghimpun para pelaku usaha, tetapi juga menjadi wadah pembinaan pengusaha Katolik yang mengedepankan integritas.
Mengutip Injil hari itu, Pastor Yoseph mengingatkan bahwa para pengusaha Katolik diutus untuk menghadapi berbagai tantangan dunia usaha yang kerap diwarnai praktik ketidakjujuran.
“Bagai domba diutus di tengah serigala, demikianlah kamu diutus di tengah dunia, di mana ketidakjujuran adalah serigala yang menjadi tantangan profesionalitas pengusaha. Maka sebagai pengusaha Katolik, kalian harus mampu melawan ketidakjujuran itu,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan seorang pengusaha tidak semata diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh, melainkan dari kemampuan menghadirkan manfaat dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Berdasarkan Surat Keputusan Uskup Agung Medan, susunan kepengurusan Pukat KAM periode 2026–2029 menetapkan RD. Benno Ola Tage sebagai Moderator. Dewan Penasihat terdiri atas Parlindungan Purba, Henry Jhon Hutagalung, Albert Pakpahan, Prof. Johannes Tarigan, Johannes Sembiring, Jonas Hudaya, Gregorius Marbun, Dr. Lie King Fuan, dan Nita Ernawati.
Sementara itu, Badan Pengurus Harian dipimpin oleh Hendry Wigin sebagai ketua, yang membawahi sejumlah bidang, antara lain Pertanian, Sosial Ekonomi, UMKM, Pendidikan dan Pelatihan, Spiritual, Sekretariat, serta Bendahara.
Dalam acara ramah tamah usai pelantikan, Hendry Wigin menyampaikan bahwa pada periode sebelumnya PUKAT KAM telah memfokuskan program kerja pada pengembangan sektor pertanian umat. Salah satu capaian yang dinilai berhasil adalah pendampingan petani di Desa Paluh Gelombang yang mampu meningkatkan intensitas tanam padi hingga empat kali dalam setahun, dengan produktivitas rata-rata mencapai 7–9 ton gabah per hektare setiap panen.
Penanggung Jawab Bidang Pertanian PUKAT KAM, Dr. Dr. Ing. Andy Wahab Sitepu, menyebut keberhasilan tersebut sebagai pencapaian yang luar biasa di Indonesia.
“Sejauh yang kami ketahui, sistem tanam padi hingga empat kali dalam setahun ini merupakan yang terbaik yang berhasil diterapkan di Indonesia,” katanya.
Pada periode kepengurusan 2026–2029, Pukat KAM berencana memperluas pendampingan kepada sektor hortikultura melalui program budidaya kentang yang akan dilaksanakan bekerja sama dengan Paroki Berastagi.
Menurut Hendry Wigin, program tersebut diyakini memiliki prospek yang baik karena didukung penggunaan Enzym Fitofit, produk yang dikembangkan Pukat KAM dan telah diaplikasikan pada berbagai komoditas pertanian, seperti padi, tomat, bawang, cabai, serta tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, jeruk, dan kopi. Produk tersebut diklaim mampu membantu mengendalikan berbagai penyakit tanaman yang disebabkan jamur maupun bakteri.
Pada kesempatan yang sama, anggota Dewan Penasihat Handrik Sitompul mengajak para pengusaha Katolik untuk membangun semangat kolaborasi dalam dunia usaha.
Ia menegaskan bahwa Pukat KAM diharapkan menjadi ruang bagi para pelaku usaha untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan bertumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan dalam persaingan bisnis.
Pelantikan pengurus Pukat KAM periode 2026–2029 diharapkan menjadi awal penguatan peran organisasi dalam membangun dunia usaha yang berintegritas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi, serta menghadirkan nilai-nilai iman Katolik dalam praktik bisnis sehari-hari. Leo Semba