TAHUN PASTORAL KEEMPAT: KELUARGA SEJAHTERA (1)

 7,993 total views,  6 views today

  1. Keluarga Katolik memiliki etos kerja kristiani yang kuat

Salah satu keprihatinan Sinode VI KAM terhadap keluarga Katolik adalah lemahnya etos kerja yang mengakibatkan munculnya masalah ekonomi dalam keluarga. Banyak keluarga yang bersikap minimalis dan kurang bersemangat dalam bekerja atau bekerja seadanya (lih. LAS 68).

Untuk ini Sinode melihat pentingnya sebuah gerakan pertobatan; menjadi pekerja keras yang bersemangat. Hal ini menjadi sangat penting di tengah zaman milenial yang cenderung membudayakan hidup santai dan individual.

Keluarga perlu memahami etos kerja yang dijiwai oleh nilai-nilai iman (Kristiani) dan melakukan pekerjaannya dengan etos yang kuat. Ajaran Sosial Gereja (khususnya Rerum Novarum dan Laborem Exercens) menggariskan prinsip-prinsip dasar kerja, mengajak umat untuk melihat kerja pertama-tama sebagai rahmat dan kesempatan untuk mewujudkan martabatnya sebagai pribadi. Kerja adalah juga panggilan untuk berpartisipasi dalam karya kasih untuk keselamatan manusia, maka maksud dan tujuan pekerjaan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga kepedulian dan sikap solider kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan demikian pekerjaan secara spiritual hendaknya mendekatkan orang kepada Allah.

  1. Keluarga Katolik mampu memenuhi kebutuhan dasar

Setiap manusia secara dasariah berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Sebagai orang kristiani kita terpanggil dan berkewajiban untuk mampu hidup secara mandiri di mana setiap umat Katolik mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya secara  wajar dan pantas. Mandiri sebagai orang kristiani juga terindikasi dari kemampuan untuk mengembangkan dan mengaktualisasi dirinya secara positif sehingga memiliki kapasitas untuk menyumbangkan segala kemampuann dan sumber dayanya dalam seluruh aspek hidupnya (bdk. Mandiri dalam Nilai KAM no. 2).

Ketika umat Katolik telah sampai kepada kualitas ini, diharapkan hidupnya menjadi sejahtera dan bahagia. Kebutuhan dasar manusia umumnya sama yaitu kebutuhan primer dan prinsipil bagi seorang manusia untuk dapat hidup secara layak dan manusiawi. Jadi kebutuhan dasar manusia ini adalah hal-hal atau unsur-unsur utama dan prinsipil yang dibutuhkan manusia untuk menjaga keseimbangan dan harmonisasi hidup baik di tingkat fisik, psikologis dan spiritual.

Di tingkat fisik, manusia bisa dapat melanjutkan kehidupannya ketika makanannya terjamin dengan nutrisi yang sehat. Dapat hidup dengan nyaman ketika pakaian, rumah dan barang-barang penunjang utama dalam hidup dia miliki dan pakai secara wajar (bdk. DADh no.11).

Di tingkat psikologis, manusia wajib mengecap pendidikan  minimal sampai ke tingkat SLTA (idealnya sarjana), sehingga memiliki pengetahun dan  kebijaksanaan agar mampu mendapatkan keahlian dan pekerjaan sebagai jalan baginya untuk mengaktualisasi diri. Dalam ranah ini seorang kristiani juga sudah mampu menjalin relasi yang baik dan sehat dengan sesamanya. Mampu hidup berdampingan dan saling bekerja sama demi tujuan bersama. Maka terdapat di situ kualitas persaudaran, persahabatan, bela rasa  dan toleransi yang tinggi (bdk. DADh no. 10).

Di tingkat spiritual, manusia kristiani dikatakan sejahtera ketika dia mampu menemukan makna hidup di dunia ini yang bersumber pada Kristus sebagai Inspirator utama. Dia percaya kepada Tuhan sebagai sumber awal dan akhir hidupnya. Sejahtera secara spiritual berarti umat kristiani mampu hidup dalam cinta dan kasih sayang yang tulus. Tau hidup berasal dari mana dan akan berakhir kemana.  Sejahtera secara spiritual berarti seorang pribadi yang  mampu menghayati  hidup ini sebagai sebuah anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri dan dibaktikan.

Ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai seorang kristiani yang sejati, maka hidupnya akan sungguh-sungguh seimbang dan selaras. Dia akan dengan sendirinya terpanggil dan merasa bertanggung jawab untuk memberdayakan dan membantu sesamanya untuk mengalami hal yang sama yaitu mandiri serta mampu memmenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Setiap orang kristiani harus terpanggil untuk sampai kepada kesadaran ini agar terciptalah hidup sejahtera bagi seluruh umat kristiani di keuskupan kita ini.

Facebook Comments
Baca juga  Covid-19 Menguji Adrenalin Kemanusiaan Setiap Insan

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply