KESABARAN ILAHI

540 total views, 1 views today

19 Juli 2020
Hari Minggu Biasa XVI

Keb 12:13.16-19; Rom 8:26-27; Mat 13:24-43/Hari Minggu Biasa XVI
Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai

Kerajaan Surga seumpama penabur yang menaburkan benih yang baik. Malam hari musuh menaburkan benih lalang. Keduanya tumbuh bersama. Hamba tuan itu minta izin mencabut lalang agar gandum bisa tumbuh baik. Sikap hamba itu melukiskan sikap manusia yang sering kurang sabar. Sikap tuan itu melambangkan kesabaran dan kemurahan hati Tuhan.

Kitab Suci adalah buku suci perihal kesabaran Allah kepada umat-Nya. Walau para nabi berbicara perihal kemarahan Allah, tapi pemarah bukanlah sifat Allah. Ia kaya akan rahmat, kesetiaan dan dengan senang hati menarik kembali apa yang telah diancamkan-Nya ketika umat kembali ke jalan yang benar. Pengampunan Allah jauh melampaui dosa-kesalahan manusia. Allah memberi peluang sampai batas yang paling jauh supaya kita bertobat. Allah tak pernah menutup pintu pertobatan. Allah itu sabar tapi juga adil. Ia tidak toleran dengan kejahatan. Ia memberi waktu yang cukup. Saat panen, pada ahir zaman, rumput akan dicabut dan dibakar.

Yesus datang untuk mewujudkan kesabaran ilahi. Dia tak pertama-tama bertindak selaku hakim yang memisahkan yang jahat dengan yang baik, tapi gembala yang datang bagi pendosa. Yesus memberi waktu dan menuntun pendosa menelusuri jalan pertobatan. Tidak satu dosa pun bisa memutuskan hubungan dengan Allah. Semua diundang masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Baca juga  ALLAH SUNGGUH DEKAT

Setelah 12.000 percobaan untuk mengembangkan bola lampu listrik, Thomas A. Edison menyerahkan bola lampu yang sudah rampung pada asistennya. Orang itu membawanya dengan sangat hati-hati menaiki tangga langkah demi langkah. Pada langkah terkahir kakinya tersandung, bola lampu jatuh dan pecah. Seluruh tim harus bekerja 24 jam lagi untuk membuat satu bola lampu yang baru. Setelah selesai, Edison memandang sekeliling dan sekali lagi menyerahkan bola lampu itu kepada orang yang sama. Edison tahu ada nilai yang dipertaruhkan, lebih dari sekedar sebuah bola lampu.

Kedua benih gandum dan ilalang hidup dalam hati manusia. Akibatnya, kita tidak selalu hidup sesuai dengan panggilan kita. Pemisahan antara yang baik dan yang jahat terjadi setelah kematian. Selagi hidup, peluang untuk berubah ke jalan kebaikan tetap terbuka. Kematangan hidup rohani sering melewati jalan berliku yang menuntut pertobatan terusmenerus.

Gereja bertugas menginkarnasikan kesabaran Allah. Allah menerapkan cinta kasih sebagai hukum tertinggi. Bila Allah memperlakukan kita dengan hati-hati, kelembutan dan belas kasih kita mesti meniru jalan Allah sendiri. Dalam menyikapi kesalahan dan kekurangan sesama, kita diajak belajar dari Tuhan, yang kuasa dan keadilan-Nya tampak dalam pengampunan, belas kasih, kesabaran dan kelemahalembutan.

Akibat kelemahan dan kerapuhan kita, kita tak pantas mengemis belas kasih Tuhan. Tapi, Allah itu pangjang sabar. Ia memberi kita peluang untuk berubah. Anehnya, kesalahan dan kesilafan kecil orang lain sering membuat kita marah hebat. Kita kerap mengeluhkan dan tegas kepada orang lain, tapi maklum dan memaafkan diri sendiri.

Baca juga  Romo Magnis: Komunikasi Uskup, Pastor dengan Tokoh Muslim Sungguh Penting

Kita perlu makin sabar, rendah hati dan sadar bahwa kita bisa menjadi skandal. Dalam diri kita terdapat benih ilalang. Orang benar dan bijak ialah mereka yang sabar dan menyangi manusia, tanpa dipengaruhi oleh baik atau buruknya perilakunya. Tuhan berbelas kasih dan sabar, kita perlu sabar dan menyadari bahwa kita juga mahluk yang rapuh dan menantikan belas kasih dan pengampunan dari Tuhan. Amin.

Facebook Comments

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply