Renungan Harian Uskup Mgr Kornelius Sipayung OFMCap,Pekan XVII Masa Biasa,Rabu 29 Juli 2026

 

 

Peringatan Wajib Santo Marta, Maria, dan Lazarus
Yer 15:10.16-21; Mzm 59:2-4.10-11.17-18; Yoh 11:19-27

“Menjadi Gereja Betania: Mendengarkan, Melayani, dan Menjadi Kesaksian”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Hari ini Gereja merayakan tiga sahabat Yesus sekaligus: Marta, Maria, dan Lazarus. Menarik bahwa Gereja tidak hanya memperingati satu orang kudus, tetapi satu keluarga. Seolah-olah Gereja ingin mengatakan bahwa kekudusan bukan hanya lahir dari pribadi-pribadi yang hebat, tetapi juga dari sebuah komunitas yang hidup bersama Kristus. Rumah di Betania menjadi tempat di mana Yesus merasa diterima, dikasihi, dan disambut. Dari keluarga ini kita belajar bahwa Gereja yang hidup membutuhkan tiga dimensi yang tidak boleh dipisahkan: mendengarkan Sabda, melayani dengan kasih, dan menjadi kesaksian hidup akan karya Allah.

Maria mengajarkan dimensi pertama: mendengarkan Sabda. Ia duduk di kaki Yesus dan membiarkan hidupnya dibentuk oleh Sabda. Semua pembaruan hidup selalu dimulai dari hati yang mau mendengar. Gereja tidak akan memiliki arah bila kehilangan kebiasaan mendengarkan Tuhan. Banyak persoalan dalam keluarga, paroki, dan masyarakat muncul bukan karena kita kurang pandai berbicara, tetapi karena kita kurang mau mendengarkan: mendengarkan Sabda Tuhan, mendengarkan hati nurani, dan mendengarkan sesama. Hanya orang yang mau mendengar Allah yang mampu memahami manusia dengan benar.

Tetapi Yesus tidak hanya menghendaki murid yang mendengar. Marta mengajarkan dimensi kedua, yaitu melayani dengan kasih. Kasih yang sejati selalu bergerak. Kasih tidak berhenti sebagai doa atau perasaan, tetapi menjadi tindakan nyata. Gereja dipanggil memberi makan yang lapar, menghibur yang berduka, mengunjungi yang sakit, mendampingi yang lemah, dan membangun persaudaraan. Namun pelayanan yang tidak lahir dari Sabda mudah berubah menjadi aktivisme. Orang menjadi sibuk, tetapi kehilangan sukacita; banyak bekerja, tetapi sedikit berdoa; banyak mengurus urusan Tuhan, tetapi perlahan melupakan Tuhan sendiri. Karena itu Maria dan Marta tidak boleh dipertentangkan. Sabda melahirkan pelayanan, dan pelayanan menjadi buah dari Sabda.

Lalu hadir Lazarus, yang mungkin tampak paling sedikit berbicara dalam Injil, tetapi justru menjadi kesaksian hidup yang paling kuat. Setelah dibangkitkan oleh Yesus, keberadaan Lazarus sendiri menjadi pewartaan. Banyak orang percaya kepada Yesus karena melihat Lazarus hidup kembali. Artinya, tujuan mendengarkan Sabda dan melayani bukan sekadar menjadi orang yang saleh atau rajin bekerja, tetapi supaya hidup kita sendiri menjadi Injil yang dapat dibaca orang lain. Kesaksian adalah buah dari Sabda yang dihidupi dan kasih yang dipraktikkan.

Inilah yang dibutuhkan Gereja zaman ini. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi orang yang hidupnya memancarkan kehadiran Tuhan. Dunia membutuhkan keluarga yang menjadi Betania, tempat orang menemukan damai. Dunia membutuhkan pelayan Gereja yang bukan hanya sibuk bekerja, tetapi wajahnya memancarkan sukacita Kristus. Dunia membutuhkan umat yang ketika dilihat orang, mereka dapat berkata, “Aku melihat Kristus hidup dalam dirinya.”

Bacaan pertama dari Nabi Yeremia memperlihatkan bahwa menjadi saksi Tuhan tidak selalu mudah. Yeremia mengalami penolakan, kesepian, dan penderitaan. Namun ia berkata, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-Mu, aku menikmatinya.” Sabda Tuhan menjadi kekuatan yang membuatnya tetap setia. Inilah yang dialami pula oleh Marta, Maria, dan Lazarus. Persahabatan dengan Yesus tidak membebaskan mereka dari air mata, tetapi memberi mereka kekuatan untuk melewati semuanya. Maka kesaksian Kristen bukan berarti hidup tanpa salib, melainkan tetap memancarkan harapan di tengah salib.

Saudara-saudari, marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah saya lebih seperti Maria yang mendengar tetapi belum bergerak melayani? Ataukah saya lebih seperti Marta yang sibuk bekerja tetapi mulai kehilangan saat teduh bersama Tuhan? Ataukah hidup saya sudah seperti Lazarus, sehingga kehadiran saya sendiri membuat orang semakin percaya kepada Kristus? Ketiga dimensi ini harus bertumbuh bersama. Mendengarkan tanpa melayani akan menjadi iman yang pasif. Melayani tanpa mendengarkan akan menjadi pelayanan yang melelahkan. Tetapi ketika keduanya bersatu, hidup kita akan berubah menjadi kesaksian yang menghidupkan banyak orang.

Marilah kita memohon pada  ini agar keluarga-keluarga kita menjadi Betania-Betania baru. Rumah yang dipenuhi Sabda Tuhan seperti Maria, rumah yang dipenuhi pelayanan kasih seperti Marta, dan rumah yang menjadi kesaksian nyata akan kuasa Kristus seperti Lazarus. Dengan demikian, siapa pun yang datang kepada kita tidak hanya mendengar tentang Yesus, tetapi sungguh mengalami kehadiran-Nya melalui cara kita hidup.
Amin.

Rumah di Betania menjadi tempat di mana Yesus merasa diterima, dikasihi, dan disambut. Dari keluarga ini kita belajar bahwa Gereja yang hidup membutuhkan tiga dimensi yang tidak boleh dipisahkan: mendengarkan Sabda, melayani dengan kasih, dan menjadi kesaksian hidup akan karya Allah.

Maria mengajarkan dimensi pertama: mendengarkan Sabda. Ia duduk di kaki Yesus dan membiarkan hidupnya dibentuk oleh Sabda. Semua pembaruan hidup selalu dimulai dari hati yang mau mendengar. Gereja tidak akan memiliki arah bila kehilangan kebiasaan mendengarkan Tuhan. Banyak persoalan dalam keluarga, paroki, dan masyarakat muncul bukan karena kita kurang pandai berbicara, tetapi karena kita kurang mau mendengarkan: mendengarkan Sabda Tuhan, mendengarkan hati nurani, dan mendengarkan sesama. Hanya orang yang mau mendengar Allah yang mampu memahami manusia dengan benar.

Tetapi Yesus tidak hanya menghendaki murid yang mendengar. Marta mengajarkan dimensi kedua, yaitu melayani dengan kasih. Kasih yang sejati selalu bergerak. Kasih tidak berhenti sebagai doa atau perasaan, tetapi menjadi tindakan nyata. Gereja dipanggil memberi makan yang lapar, menghibur yang berduka, mengunjungi yang sakit, mendampingi yang lemah, dan membangun persaudaraan. Namun pelayanan yang tidak lahir dari Sabda mudah berubah menjadi aktivisme. Orang menjadi sibuk, tetapi kehilangan sukacita; banyak bekerja, tetapi sedikit berdoa; banyak mengurus urusan Tuhan, tetapi perlahan melupakan Tuhan sendiri. Karena itu Maria dan Marta tidak boleh dipertentangkan. Sabda melahirkan pelayanan, dan pelayanan menjadi buah dari Sabda.

Lalu hadir Lazarus, yang mungkin tampak paling sedikit berbicara dalam Injil, tetapi justru menjadi kesaksian hidup yang paling kuat. Setelah dibangkitkan oleh Yesus, keberadaan Lazarus sendiri menjadi pewartaan. Banyak orang percaya kepada Yesus karena melihat Lazarus hidup kembali. Artinya, tujuan mendengarkan Sabda dan melayani bukan sekadar menjadi orang yang saleh atau rajin bekerja, tetapi supaya hidup kita sendiri menjadi Injil yang dapat dibaca orang lain. Kesaksian adalah buah dari Sabda yang dihidupi dan kasih yang dipraktikkan.

Inilah yang dibutuhkan Gereja zaman ini. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi orang yang hidupnya memancarkan kehadiran Tuhan. Dunia membutuhkan keluarga yang menjadi Betania, tempat orang menemukan damai. Dunia membutuhkan pelayan Gereja yang bukan hanya sibuk bekerja, tetapi wajahnya memancarkan sukacita Kristus. Dunia membutuhkan umat yang ketika dilihat orang, mereka dapat berkata, “Aku melihat Kristus hidup dalam dirinya.”

Bacaan pertama dari Nabi Yeremia memperlihatkan bahwa menjadi saksi Tuhan tidak selalu mudah. Yeremia mengalami penolakan, kesepian, dan penderitaan. Namun ia berkata, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-Mu, aku menikmatinya.” Sabda Tuhan menjadi kekuatan yang membuatnya tetap setia. Inilah yang dialami pula oleh Marta, Maria, dan Lazarus. Persahabatan dengan Yesus tidak membebaskan mereka dari air mata, tetapi memberi mereka kekuatan untuk melewati semuanya. Maka kesaksian Kristen bukan berarti hidup tanpa salib, melainkan tetap memancarkan harapan di tengah salib.

Saudara-saudari, marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah saya lebih seperti Maria yang mendengar tetapi belum bergerak melayani? Ataukah saya lebih seperti Marta yang sibuk bekerja tetapi mulai kehilangan saat teduh bersama Tuhan? Ataukah hidup saya sudah seperti Lazarus, sehingga kehadiran saya sendiri membuat orang semakin percaya kepada Kristus? Ketiga dimensi ini harus bertumbuh bersama. Mendengarkan tanpa melayani akan menjadi iman yang pasif. Melayani tanpa mendengarkan akan menjadi pelayanan yang melelahkan. Tetapi ketika keduanya bersatu, hidup kita akan berubah menjadi kesaksian yang menghidupkan banyak orang.

Marilah kita memohon pada peringatan Santo Marta, Maria, dan Lazarus ini agar keluarga-keluarga kita menjadi Betania-Betania baru. Rumah yang dipenuhi Sabda Tuhan seperti Maria, rumah yang dipenuhi pelayanan kasih seperti Marta, dan rumah yang menjadi kesaksian nyata akan kuasa Kristus seperti Lazarus. Dengan demikian, siapa pun yang datang kepada kita tidak hanya mendengar tentang Yesus, tetapi sungguh mengalami kehadiran-Nya melalui cara kita hidup.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com