Delapan Tahun Setelah Bom Surabaya: Ketika Luka Tak Pernah Benar-Benar Sembuh, Namun Kasih Tetap Menang

Wenny Hudoyo (kiri) bersama Puteranya, Vincensius Evan dan Nathanael Ethan  Hudoyo yang menjadi korban bom di salah satu Gereja Katolik Surabaya,18 Mei 2018 (Foto:supplied)

Komsoskam.com|| Setiap kali seseorang bertanya tentang dua anaknya, mata Wenny Hudoyo segera berkaca-kaca. Delapan tahun telah berlalu sejak Minggu pagi yang mengubah hidupnya untuk selamanya. Namun, kenangan itu tetap hidup, seolah baru terjadi kemarin.

Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Saya sering bertanya, mengapa kedua anak saya yang tidak pernah menyakiti siapa pun harus menjadi korban kebencian. Sampai hari ini saya tidak pernah menemukan jawabannya.”

Kalimat itu terucap perlahan, diselingi suara yang tertahan oleh tangis.

Pada 13 Mei 2018, Vincentius Evan Hudoyo yang berusia 11 tahun dan adiknya, Nathanael Ethan Hudoyo, 8 tahun, datang ke Tambah Pos ‹ Komsoskam.com — WordPress bersama keluarga mereka untuk mengikuti Misa Minggu. Tak seorang pun membayangkan bahwa pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir.

Dua remaja bersaudara mengendarai sepeda motor yang telah dipenuhi bahan peledak, lalu menerobos halaman gereja. Ledakan dahsyat memecah keheningan ibadah. Dalam hitungan detik, enam umat kehilangan nyawa, termasuk Evan dan Ethan. Kedua pelaku pun tewas di lokasi.

Bagi Wenny, waktu memang terus berjalan. Namun rasa kehilangan tidak pernah mengenal kalender.

Gereja yang Menjadi Tempat Air Mata

Sebagai seorang Katolik yang taat, Wenny tetap datang mengikuti Misa setiap Minggu. Namun, setiap langkah menuju gereja selalu menjadi perjalanan batin yang berat.

Bangunan gereja yang dahulu menghadirkan rasa damai kini juga menyimpan kenangan yang begitu menyakitkan.

“Setiap kali memasuki gereja, saya merasa seperti memasuki tempat duka. Selalu ada ketakutan bahwa tragedi seperti itu bisa terjadi lagi. Saya ingin berteriak, tetapi akhirnya saya hanya bisa berlutut dan menyerahkan semua rasa sakit itu kepada Tuhan,” katanya.

Iman tidak menghapus luka. Namun iman memberinya kekuatan untuk tetap melangkah.

Pagi yang Tak Pernah Dilupakan

Pastor Aloysius Widyawan Louis masih mengingat jelas pagi itu.

Ketika ledakan terjadi, ia sedang menghadiri sebuah rapat. Begitu menerima kabar, ia segera bergegas menuju gereja.

Sesampainya di sana, pemandangan yang menyambutnya sulit dilupakan.

Darah masih membasahi halaman gereja. Polisi sibuk mengamankan lokasi. Tangis keluarga korban bercampur dengan kepanikan umat yang berlarian mencari anggota keluarga mereka.

“Saya dipenuhi kemarahan, kesedihan, sekaligus kekecewaan. Sulit memahami bagaimana manusia bisa melakukan tindakan sekejam itu,” kenangnya.

Baginya, gereja selalu menjadi rumah bagi siapa saja yang mencari kedamaian. Karena itulah, serangan tersebut terasa begitu melukai, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.

Ketika Sebuah Keluarga Menjadi Pelaku

Bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela bukanlah satu-satunya serangan hari itu.

Dalam dua hari, 13–14 Mei 2018, tiga gereja dan Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya menjadi sasaran aksi teror yang terkoordinasi.

Sedikitnya 12 warga sipil meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Yang paling mengejutkan dunia bukan hanya besarnya serangan, melainkan cara aksi itu dilakukan.

Menurut laporan Human Rights Watch, tiga keluarga yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), jaringan ekstremis yang berhubungan dengan ISIS, melibatkan anak-anak mereka sendiri yang berusia antara sembilan hingga delapan belas tahun.

Anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain justru dibawa menuju kematian atas nama ideologi.

ISIS kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyebutnya sebagai operasi “mati syahid”.

Karena seluruh pelaku tewas dalam aksi bom bunuh diri, tidak pernah ada persidangan yang dapat mengungkap secara lengkap jaringan maupun proses radikalisasi yang melahirkan tragedi itu.

Korban di Kedua Sisi

Kini Pastor Widyawan melayani mahasiswa setelah sebelumnya menjabat Dekan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Selama bertahun-tahun merenungkan tragedi itu, ia sampai pada sebuah kesimpulan yang tidak mudah diterima.

“Yang paling mengejutkan adalah bahwa pelakunya merupakan satu keluarga. Dalam banyak hal, mereka juga korban, yaitu korban dari ideologi kekerasan.”

Pernyataan itu tidak dimaksudkan untuk menghapus kesalahan para pelaku.

Sebaliknya, hal itu menjadi peringatan bahwa radikalisme dapat merusak hati manusia, bahkan menghancurkan fungsi paling dasar sebuah keluarga yang semestinya menjadi tempat pertama anak belajar mengasihi Tuhan dan sesama.

Pandangan yang sama disampaikan Pastor Ignatius Kurdo Irianto, mantan Pastor Paroki Santa Maria Tak Bercela yang kini menjabat Vikaris Jenderal Bidang Pastoral Keuskupan Surabaya.

Menurutnya, memahami bahwa para pelaku juga telah dimanipulasi oleh ideologi kebencian justru membantu umat untuk menemukan jalan menuju pengampunan.

“Mereka adalah korban dari cara pandang yang keliru terhadap agama lain,” ujarnya.

Dari Trauma Menuju Persaudaraan

Ironisnya, tragedi itu justru mempererat hubungan antarumat beragama di Surabaya.

Alih-alih membalas kebencian dengan kebencian, umat Katolik memilih membuka pintu dialog yang lebih luas.

Hubungan

Setiap kali seseorang bertanya tentang dua anaknya, mata Wenny Hudoyo segera berkaca-kaca. Delapan tahun telah berlalu sejak Minggu pagi yang mengubah hidupnya untuk selamanya. Namun, kenangan itu tetap hidup, seolah baru terjadi kemarin.

Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Saya sering bertanya, mengapa kedua anak saya yang tidak pernah menyakiti siapa pun harus menjadi korban kebencian. Sampai hari ini saya tidak pernah menemukan jawabannya.”

Kalimat itu terucap perlahan, diselingi suara yang tertahan oleh tangis.

Pada 13 Mei 2018, Vincentius Evan Hudoyo yang berusia 11 tahun dan adiknya, Nathanael Ethan Hudoyo, 8 tahun, datang ke Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Surabaya bersama keluarga mereka untuk mengikuti Misa Minggu. Tak seorang pun membayangkan bahwa pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir.

Dua remaja bersaudara mengendarai sepeda motor yang telah dipenuhi bahan peledak, lalu menerobos halaman gereja. Ledakan dahsyat memecah keheningan ibadah. Dalam hitungan detik, enam umat kehilangan nyawa, termasuk Evan dan Ethan. Kedua pelaku pun tewas di lokasi.

Bagi Wenny, waktu memang terus berjalan. Namun rasa kehilangan tidak pernah mengenal kalender.

Gereja yang Menjadi Tempat Air Mata

Sebagai seorang Katolik yang taat, Wenny tetap datang mengikuti Misa setiap Minggu. Namun, setiap langkah menuju gereja selalu menjadi perjalanan batin yang berat.

Bangunan gereja yang dahulu menghadirkan rasa damai kini juga menyimpan kenangan yang begitu menyakitkan.

“Setiap kali memasuki gereja, saya merasa seperti memasuki tempat duka. Selalu ada ketakutan bahwa tragedi seperti itu bisa terjadi lagi. Saya ingin berteriak, tetapi akhirnya saya hanya bisa berlutut dan menyerahkan semua rasa sakit itu kepada Tuhan,” katanya.

Iman tidak menghapus luka. Namun iman memberinya kekuatan untuk tetap melangkah.

Pagi yang Tak Pernah Dilupakan

Pastor Aloysius Widyawan Louis masih mengingat jelas pagi itu.

Ketika ledakan terjadi, ia sedang menghadiri sebuah rapat. Begitu menerima kabar, ia segera bergegas menuju gereja.

Sesampainya di sana, pemandangan yang menyambutnya sulit dilupakan.

Darah masih membasahi halaman gereja. Polisi sibuk mengamankan lokasi. Tangis keluarga korban bercampur dengan kepanikan umat yang berlarian mencari anggota keluarga mereka.

“Saya dipenuhi kemarahan, kesedihan, sekaligus kekecewaan. Sulit memahami bagaimana manusia bisa melakukan tindakan sekejam itu,” kenangnya.

Baginya, gereja selalu menjadi rumah bagi siapa saja yang mencari kedamaian. Karena itulah, serangan tersebut terasa begitu melukai, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.

Ketika Sebuah Keluarga Menjadi Pelaku

Bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela bukanlah satu-satunya serangan hari itu.

Dalam dua hari, 13–14 Mei 2018, tiga gereja dan Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya menjadi sasaran aksi teror yang terkoordinasi.

Sedikitnya 12 warga sipil meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Yang paling mengejutkan dunia bukan hanya besarnya serangan, melainkan cara aksi itu dilakukan.

Menurut laporan Human Rights Watch, tiga keluarga yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), jaringan ekstremis yang berhubungan dengan ISIS, melibatkan anak-anak mereka sendiri yang berusia antara sembilan hingga delapan belas tahun.

Anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain justru dibawa menuju kematian atas nama ideologi.

ISIS kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyebutnya sebagai operasi “mati syahid”.

Karena seluruh pelaku tewas dalam aksi bom bunuh diri, tidak pernah ada persidangan yang dapat mengungkap secara lengkap jaringan maupun proses radikalisasi yang melahirkan tragedi itu.

Korban di Kedua Sisi

Kini Pastor Widyawan melayani mahasiswa setelah sebelumnya menjabat Dekan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Selama bertahun-tahun merenungkan tragedi itu, ia sampai pada sebuah kesimpulan yang tidak mudah diterima.

“Yang paling mengejutkan adalah bahwa pelakunya merupakan satu keluarga. Dalam banyak hal, mereka juga korban, yaitu korban dari ideologi kekerasan.”

Pernyataan itu tidak dimaksudkan untuk menghapus kesalahan para pelaku.

Sebaliknya, hal itu menjadi peringatan bahwa radikalisme dapat merusak hati manusia, bahkan menghancurkan fungsi paling dasar sebuah keluarga yang semestinya menjadi tempat pertama anak belajar mengasihi Tuhan dan sesama.

Pandangan yang sama disampaikan Pastor Ignatius Kurdo Irianto, mantan Pastor Paroki Santa Maria Tak Bercela yang kini menjabat Vikaris Jenderal Bidang Pastoral Keuskupan Surabaya.

Menurutnya, memahami bahwa para pelaku juga telah dimanipulasi oleh ideologi kebencian justru membantu umat untuk menemukan jalan menuju pengampunan.

“Mereka adalah korban dari cara pandang yang keliru terhadap agama lain,” ujarnya.

Dari Trauma Menuju Persaudaraan

Ironisnya, tragedi itu justru mempererat hubungan antarumat beragama di Surabaya.

Alih-alih membalas kebencian dengan kebencian, umat Katolik memilih membuka pintu dialog yang lebih luas.

Hubungan

Setiap kali seseorang bertanya tentang dua anaknya, mata Wenny Hudoyo segera berkaca-kaca. Delapan tahun telah berlalu sejak Minggu pagi yang mengubah hidupnya untuk selamanya. Namun, kenangan itu tetap hidup, seolah baru terjadi kemarin.

Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Saya sering bertanya, mengapa kedua anak saya yang tidak pernah menyakiti siapa pun harus menjadi korban kebencian. Sampai hari ini saya tidak pernah menemukan jawabannya.”

Kalimat itu terucap perlahan, diselingi suara yang tertahan oleh tangis.

Pada 13 Mei 2018, Vincentius Evan Hudoyo yang berusia 11 tahun dan adiknya, Nathanael Ethan Hudoyo, 8 tahun, datang ke

 bersama keluarga mereka untuk mengikuti Misa Minggu. Tak seorang pun membayangkan bahwa pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir.

Dua remaja bersaudara mengendarai sepeda motor yang telah dipenuhi bahan peledak, lalu menerobos halaman gereja. Ledakan dahsyat memecah keheningan ibadah. Dalam hitungan detik, enam umat kehilangan nyawa, termasuk Evan dan Ethan. Kedua pelaku pun tewas di lokasi.

Bagi Wenny, waktu memang terus berjalan. Namun rasa kehilangan tidak pernah mengenal kalender.

Gereja yang Menjadi Tempat Air Mata

Sebagai seorang Katolik yang taat, Wenny tetap datang mengikuti Misa setiap Minggu. Namun, setiap langkah menuju gereja selalu menjadi perjalanan batin yang berat.

Bangunan gereja yang dahulu menghadirkan rasa damai kini juga menyimpan kenangan yang begitu menyakitkan.

“Setiap kali memasuki gereja, saya merasa seperti memasuki tempat duka. Selalu ada ketakutan bahwa tragedi seperti itu bisa terjadi lagi. Saya ingin berteriak, tetapi akhirnya saya hanya bisa berlutut dan menyerahkan semua rasa sakit itu kepada Tuhan,” katanya.

Iman tidak menghapus luka. Namun iman memberinya kekuatan untuk tetap melangkah.

Pagi yang Tak Pernah Dilupakan

Pastor Aloysius Widyawan Louis masih mengingat jelas pagi itu.

Ketika ledakan terjadi, ia sedang menghadiri sebuah rapat. Begitu menerima kabar, ia segera bergegas menuju gereja.

Sesampainya di sana, pemandangan yang menyambutnya sulit dilupakan.

Darah masih membasahi halaman gereja. Polisi sibuk mengamankan lokasi. Tangis keluarga korban bercampur dengan kepanikan umat yang berlarian mencari anggota keluarga mereka.

“Saya dipenuhi kemarahan, kesedihan, sekaligus kekecewaan. Sulit memahami bagaimana manusia bisa melakukan tindakan sekejam itu,” kenangnya.

Baginya, gereja selalu menjadi rumah bagi siapa saja yang mencari kedamaian. Karena itulah, serangan tersebut terasa begitu melukai, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.

Ketika Sebuah Keluarga Menjadi Pelaku

Bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela bukanlah satu-satunya serangan hari itu.

Dalam dua hari, 13–14 Mei 2018, tiga gereja dan Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya menjadi sasaran aksi teror yang terkoordinasi.

Sedikitnya 12 warga sipil meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Yang paling mengejutkan dunia bukan hanya besarnya serangan, melainkan cara aksi itu dilakukan.

Menurut laporan Human Rights Watch, tiga keluarga yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), jaringan ekstremis yang berhubungan dengan ISIS, melibatkan anak-anak mereka sendiri yang berusia antara sembilan hingga delapan belas tahun.

Anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain justru dibawa menuju kematian atas nama ideologi.

ISIS kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyebutnya sebagai operasi “mati syahid”.

Karena seluruh pelaku tewas dalam aksi bom bunuh diri, tidak pernah ada persidangan yang dapat mengungkap secara lengkap jaringan maupun proses radikalisasi yang melahirkan tragedi itu.

Korban di Kedua Sisi

Kini Pastor Widyawan melayani mahasiswa setelah sebelumnya menjabat Dekan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Selama bertahun-tahun merenungkan tragedi itu, ia sampai pada sebuah kesimpulan yang tidak mudah diterima.

“Yang paling mengejutkan adalah bahwa pelakunya merupakan satu keluarga. Dalam banyak hal, mereka juga korban, yaitu korban dari ideologi kekerasan.”

Pernyataan itu tidak dimaksudkan untuk menghapus kesalahan para pelaku.

Sebaliknya, hal itu menjadi peringatan bahwa radikalisme dapat merusak hati manusia, bahkan menghancurkan fungsi paling dasar sebuah keluarga yang semestinya menjadi tempat pertama anak belajar mengasihi Tuhan dan sesama.

Pandangan yang sama disampaikan Pastor Ignatius Kurdo Irianto, mantan Pastor Paroki Santa Maria Tak Bercela yang kini menjabat Vikaris Jenderal Bidang Pastoral Keuskupan Surabaya.

Menurutnya, memahami bahwa para pelaku juga telah dimanipulasi oleh ideologi kebencian justru membantu umat untuk menemukan jalan menuju pengampunan.

“Mereka adalah korban dari cara pandang yang keliru terhadap agama lain,” ujarnya.

Dari Trauma Menuju Persaudaraan

Ironisnya, tragedi itu justru mempererat hubungan antarumat beragama di Surabaya.

Alih-alih membalas kebencian dengan kebencian, umat Katolik memilih membuka pintu dialog yang lebih luas.

Hubungan persahabatan dengan umat Islam dan komunitas agama lain semakin erat.

Setiap tanggal 13 Mei, Gereja Santa Maria Tak Bercela menyelenggarakan doa bersama lintas agama untuk mengenang para korban sekaligus menegaskan kembali komitmen membangun persaudaraan, menghormati martabat manusia, dan menjaga persatuan.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana tetapi kuat: terorisme tidak boleh memutus tali persaudaraan.

Memilih Kasih

Bagi Wenny Hudoyo, kehilangan dua anak adalah luka yang akan dibawanya seumur hidup.

Namun, ia menolak membiarkan kebencian mengambil alih hidupnya.

“Saya menolak terorisme dan segala bentuk kekerasan, apalagi yang dilakukan atas nama agama. Agama seharusnya mengajarkan cinta kasih. Kita harus menghapus kebencian dan membiarkan kasih menang.”

Baginya, martabat manusia bertumbuh ketika seseorang sungguh mengenal dan mengasihi Tuhan. Dan kasih kepada Tuhan hanya menjadi nyata apabila diwujudkan dalam perbuatan baik kepada sesama.

Delapan tahun telah berlalu.

Bekas ledakan di halaman gereja telah lama dibersihkan. Dinding-dinding yang rusak telah diperbaiki. Aktivitas umat kembali berjalan seperti sediakala.

Namun, bagi keluarga korban, ada ruang dalam hati yang tidak pernah dapat dipugar sepenuhnya.

Meski demikian, mereka memilih untuk terus hidup.

Bukan dengan dendam.

Melainkan dengan harapan.

Karena mereka percaya, kebencian mungkin dapat merenggut nyawa, tetapi hanya kasih yang mampu memulihkan kemanusiaan.

semakin erat.

Setiap tanggal 13 Mei, Gereja Santa Maria Tak Bercela menyelenggarakan doa bersama lintas agama untuk mengenang para korban sekaligus menegaskan kembali komitmen membangun persaudaraan, menghormati martabat manusia, dan menjaga persatuan.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana tetapi kuat: terorisme tidak boleh memutus tali persaudaraan.

Memilih Kasih

Bagi Wenny Hudoyo, kehilangan dua anak adalah luka yang akan dibawanya seumur hidup.

Namun, ia menolak membiarkan kebencian mengambil alih hidupnya.

“Saya menolak terorisme dan segala bentuk kekerasan, apalagi yang dilakukan atas nama agama. Agama seharusnya mengajarkan cinta kasih. Kita harus menghapus kebencian dan membiarkan kasih menang.”

Baginya, martabat manusia bertumbuh ketika seseorang sungguh mengenal dan mengasihi Tuhan. Dan kasih kepada Tuhan hanya menjadi nyata apabila diwujudkan dalam perbuatan baik kepada sesama.

Delapan tahun telah berlalu.

Bekas ledakan di halaman gereja telah lama dibersihkan. Dinding-dinding yang rusak telah diperbaiki. Aktivitas umat kembali berjalan seperti sediakala.

Namun, bagi keluarga korban, ada ruang dalam hati yang tidak pernah dapat dipugar sepenuhnya.

Meski demikian, mereka memilih untuk terus hidup.

Bukan dengan dendam.

Melainkan dengan harapan.

Karena mereka percaya, kebencian mungkin dapat merenggut nyawa, tetapi hanya kasih yang mampu memulihkan kemanusiaan.

semakin erat.

Setiap tanggal 13 Mei, Gereja Santa Maria Tak Bercela menyelenggarakan doa bersama lintas agama untuk mengenang para korban sekaligus menegaskan kembali komitmen membangun persaudaraan, menghormati martabat manusia, dan menjaga persatuan.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana tetapi kuat: terorisme tidak boleh memutus tali persaudaraan.

Memilih Kasih

Bagi Wenny Hudoyo, kehilangan dua anak adalah luka yang akan dibawanya seumur hidup.

Namun, ia menolak membiarkan kebencian mengambil alih hidupnya.

“Saya menolak terorisme dan segala bentuk kekerasan, apalagi yang dilakukan atas nama agama. Agama seharusnya mengajarkan cinta kasih. Kita harus menghapus kebencian dan membiarkan kasih menang.”

Baginya, martabat manusia bertumbuh ketika seseorang sungguh mengenal dan mengasihi Tuhan. Dan kasih kepada Tuhan hanya menjadi nyata apabila diwujudkan dalam perbuatan baik kepada sesama.

Delapan tahun telah berlalu.

Bekas ledakan di halaman gereja telah lama dibersihkan. Dinding-dinding yang rusak telah diperbaiki. Aktivitas umat kembali berjalan seperti sediakala.

Namun, bagi keluarga korban, ada ruang dalam hati yang tidak pernah dapat dipugar sepenuhnya.Meski demikian, mereka memilih untuk terus hidup.Bukan dengan dendam.Melainkan dengan harapan.Karena mereka percaya, kebencian mungkin dapat merenggut nyawa, tetapi hanya kasih yang mampu memulihkan kemanusiaan.

(Yakobus Embu Lato, UCA NEWS, 30 Juli 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com