
Yes 55:1-3; Rom 8:35.37-39; Mat 14:13-21
“Bawa Kemari, Kepada-Ku”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ada satu benang merah yang menghubungkan bacaan pertama dan Injil hari ini, yaitu undangan Allah. Dalam bacaan pertama, melalui Nabi Yesaya, Allah berseru, “Hai semua orang yang haus, datanglah kepada air… datanglah, beli dan makan tanpa uang dan tanpa membayar.” Allah mengundang semua orang yang lapar dan haus untuk datang kepada-Nya. Yang menarik, Allah tidak langsung berbicara kepada umat, tetapi melalui seorang nabi. Yesaya menjadi jembatan yang mengantar manusia kepada Allah. Lalu Tuhan melanjutkan undangan itu dengan kalimat yang sangat indah: “Dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup.” Jadi, datang kepada Tuhan bukan hanya berarti mendekat secara fisik, tetapi menjadi pendengar Sabda-Nya. Sebab hidup yang sejati lahir ketika kita mendengarkan Allah dan membiarkan Sabda-Nya mengenyangkan kelaparan terdalam hati kita.
Undangan yang sama muncul kembali dalam Injil. Menjelang malam, para murid melihat kenyataan yang memprihatinkan. Ribuan orang berada di tempat yang sunyi tanpa makanan. Mereka mengingatkan Yesus dengan niat yang baik, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanan.” Mereka sadar bahwa kelaparan dapat berakibat fatal. Namun Yesus justru memberi jawaban yang mengejutkan, “Kamu harus memberi mereka makan.” Para murid tentu terkejut. Bagaimana mungkin mereka memberi makan lebih dari lima ribu orang? Mereka hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Di sinilah Yesus mengucapkan kalimat yang menjadi tema homili kita hari ini: “Bawa kemari kepada-Ku.”
Perhatikan, Yesus tidak meminta sesuatu yang besar. Ia tidak berkata, “Carilah lebih banyak roti.” Ia hanya berkata, “Bawa apa yang ada kepada-Ku.” Inilah tugas para murid. Mereka tidak diminta menciptakan mukjizat. Mereka hanya diminta membawa apa yang mereka miliki kepada Yesus. Lima roti dan dua ikan memang sangat sedikit, tetapi ketika dibawa kepada Kristus, yang sedikit itu berubah menjadi kelimpahan. Di sinilah kita belajar bahwa Allah selalu memulai dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang tidak kita miliki. Yang menjadi persoalan bukan sedikit atau banyaknya, tetapi apakah kita bersedia membawanya kepada Tuhan.
Namun ada satu hal yang sering kita lupakan. Membawa kepada Yesus berarti berani melepaskan apa yang kita miliki. Lima roti dan dua ikan itu harus dilepaskan dari tangan pemiliknya agar dapat diletakkan di tangan Yesus. Selama roti itu tetap digenggam, mukjizat tidak akan pernah terjadi. Mukjizat dimulai ketika ada orang yang berani berkata, “Tuhan, inilah yang kumiliki. Aku menyerahkannya kepada-Mu.” Orang itu melepaskan miliknya, para murid membawanya kepada Yesus, Yesus memberkatinya, lalu mengembalikannya menjadi berkat bagi banyak orang. Mukjizat selalu lahir dari penyerahan. Sebaliknya, kalau semua orang memilih mengg. enggam miliknya sendiri karena takut kekurangan, tidak akan pernah ada mukjizat.
Bukankah ini juga yang sering terjadi dalam hidup kita? Kita berkata, “Saya hanya punya sedikit waktu.” “Saya hanya punya sedikit kemampuan.” “Saya hanya punya sedikit uang.” “Saya hanya orang biasa.” Padahal Yesus tidak pernah bertanya berapa banyak yang kita miliki. Ia hanya bertanya, “Apakah engkau mau membawa dan menyerahkannya kepada-Ku?” Hari ini pun mukjizat masih terjadi ketika ada orang tua yang menyerahkan keluarganya kepada Tuhan, ketika orang muda menyerahkan masa depannya kepada Tuhan, ketika umat menyerahkan tenaga, pikiran, dan hartanya demi pelayanan Gereja, ketika seseorang menyerahkan luka dan dosanya kepada belas kasih Tuhan. Apa yang diserahkan kepada Kristus tidak pernah sia-sia; semuanya diubah menjadi rahmat.
Bacaan kedua semakin meneguhkan kita. Santo Paulus berkata, “Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?” Tidak ada penderitaan, kesulitan, kelaparan, bahaya, bahkan maut yang mampu memisahkan kita dari kasih-Nya. Mengapa? Karena kasih Kristus selalu lebih besar daripada segala keterbatasan kita. Jika lima roti dan dua ikan saja mampu mengenyangkan ribuan orang, maka hidup kita yang sederhana pun dapat menjadi berkat besar apabila diserahkan kepada Tuhan.
Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan kembali mengucapkan dua undangan yang saling melengkapi. Dalam bacaan pertama Ia berkata, “Datanglah kepada-Ku… dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup.” Dalam Injil Ia berkata, “Bawa kemari kepada-Ku.” Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang haus akan Dia, lalu bawalah kepada-Nya apa pun yang kita miliki. Jangan takut melepaskannya. Sebab yang kita lepaskan ke dalam tangan Kristus tidak akan hilang; justru akan diubah menjadi berkat yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan.
Marilah kita pulang hari ini dengan satu keyakinan: mukjizat tidak dimulai dari kelimpahan, tetapi dari keberanian untuk melepaskan dan menyerahkan. Selama kita terus menggenggam hidup kita sendiri, mukjizat tidak akan terjadi. Tetapi ketika kita berani membawa dan meletakkan semuanya di tangan Yesus, Dia akan memberkati, memecah, melipatgandakan, dan menjadikan hidup kita makanan yang menghidupkan banyak orang.
Amin.