Renungan Uskup Mgr Kornelius Sipayung OFMCap,Pekan Biasa XVIII,Senin 03

Yer 28:1-17; Mzm 119:29.43.79-80.95.102; Mat 14:22-36

Jangan Takut! Aku Ini. Peganglah Tangan-Ku

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Ada kalanya hidup kita seperti perahu para murid dalam Injil hari ini. Angin sakal bertiup, ombak mengguncang, malam terasa panjang, dan kita merasa berjuang sendirian. Kita pernah mengalami badai penyakit, kegagalan, persoalan keluarga, tekanan ekonomi, kehilangan orang yang dikasihi, atau masa depan yang tidak pasti. Dalam situasi seperti itu, Yesus tidak pertama-tama menghardik badai. Sebelum badai berhenti, Ia lebih dahulu datang menghampiri para murid dan berkata, “Tenanglah! Jangan takut! Aku ini!” Inilah kabar gembira Injil hari ini. Tuhan tidak selalu menghilangkan badai seketika, tetapi Ia tidak pernah membiarkan kita menghadapi badai sendirian.

Kalimat Yesus sungguh luar biasa. Pertama, “Jangan takut!” Ketakutan sering kali lebih berbahaya daripada badai itu sendiri. Ketakutan membuat kita kehilangan harapan, mengambil keputusan yang salah, bahkan meragukan penyertaan Tuhan. Kedua, Yesus berkata, “Aku ini!” Artinya, kehadiran-Nya lebih penting daripada berubahnya situasi. Selama Yesus ada bersama kita, selalu ada harapan. Petrus mengalami hal itu. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia mampu berjalan di atas air. Tetapi ketika ia lebih memperhatikan angin dan ombak daripada Yesus, ia mulai tenggelam. Bukankah demikian juga hidup kita? Kita tenggelam bukan karena besarnya badai, tetapi karena kita melepaskan pandangan dari Kristus.

Saat Petrus mulai tenggelam, ia hanya sempat berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Injil mengatakan, “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus.” Betapa indah gambaran ini. Tuhan tidak memarahi Petrus terlebih dahulu. Ia tidak berkata, “Rasakan akibatnya!” Sebaliknya, Ia mengulurkan tangan-Nya. Tangan Tuhan selalu lebih cepat daripada kejatuhan kita. Inilah tangan yang sama yang mengangkat orang berdosa, menyentuh orang sakit, memberkati anak-anak, dan akhirnya dipakukan di salib demi keselamatan kita. Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya memandang ombak. Peganglah tangan Kristus. Tangan-Nya tidak pernah terlambat menyelamatkan.

Bacaan pertama memperlihatkan perbedaan antara nabi palsu Hananya dan Nabi Yeremia. Hananya menawarkan harapan yang mudah: semua akan segera baik-baik saja. Yeremia justru menyampaikan kebenaran Allah, meskipun tidak menyenangkan. Ini mengajarkan bahwa iman bukanlah janji hidup tanpa badai, melainkan keyakinan bahwa Allah tetap setia di tengah badai. Tuhan tidak selalu memberi jalan yang paling mudah, tetapi selalu memberi penyertaan yang paling setia. Itulah sebabnya pemazmur berkata, “Firman-Mu menjadi peganganku.” Ketika segala sesuatu berubah, Sabda Tuhan tetap menjadi tempat berpijak.

Saudara-saudari terkasih, mungkin hari ini kita sedang berada di tengah badai kehidupan. Dengarkanlah tiga kalimat Yesus yang menjadi kekuatan kita.

er 28:1-17; Mzm 119:29.43.79-80.95.102; Mat 14:22-36

Jangan Takut! Aku Ini. Peganglah Tangan-Ku

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Ada kalanya hidup kita seperti perahu para murid dalam Injil hari ini. Angin sakal bertiup, ombak mengguncang, malam terasa panjang, dan kita merasa berjuang sendirian. Kita pernah mengalami badai penyakit, kegagalan, persoalan keluarga, tekanan ekonomi, kehilangan orang yang dikasihi, atau masa depan yang tidak pasti. Dalam situasi seperti itu, Yesus tidak pertama-tama menghardik badai. Sebelum badai berhenti, Ia lebih dahulu datang menghampiri para murid dan berkata, “Tenanglah! Jangan takut! Aku ini!” Inilah kabar gembira Injil hari ini. Tuhan tidak selalu menghilangkan badai seketika, tetapi Ia tidak pernah membiarkan kita menghadapi badai sendirian.

Kalimat Yesus sungguh luar biasa. Pertama, “Jangan takut!” Ketakutan sering kali lebih berbahaya daripada badai itu sendiri. Ketakutan membuat kita kehilangan harapan, mengambil keputusan yang salah, bahkan meragukan penyertaan Tuhan. Kedua, Yesus berkata, “Aku ini!” Artinya, kehadiran-Nya lebih penting daripada berubahnya situasi. Selama Yesus ada bersama kita, selalu ada harapan. Petrus mengalami hal itu. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia mampu berjalan di atas air. Tetapi ketika ia lebih memperhatikan angin dan ombak daripada Yesus, ia mulai tenggelam. Bukankah demikian juga hidup kita? Kita tenggelam bukan karena besarnya badai, tetapi karena kita melepaskan pandangan dari Kristus.

Saat Petrus mulai tenggelam, ia hanya sempat berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Injil mengatakan, “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus.” Betapa indah gambaran ini. Tuhan tidak memarahi Petrus terlebih dahulu. Ia tidak berkata, “Rasakan akibatnya!” Sebaliknya, Ia mengulurkan tangan-Nya. Tangan Tuhan selalu lebih cepat daripada kejatuhan kita. Inilah tangan yang sama yang mengangkat orang berdosa, menyentuh orang sakit, memberkati anak-anak, dan akhirnya dipakukan di salib demi keselamatan kita. Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya memandang ombak. Peganglah tangan Kristus. Tangan-Nya tidak pernah terlambat menyelamatkan.

Bacaan pertama memperlihatkan perbedaan antara nabi palsu Hananya dan Nabi Yeremia. Hananya menawarkan harapan yang mudah: semua akan segera baik-baik saja. Yeremia justru menyampaikan kebenaran Allah, meskipun tidak menyenangkan. Ini mengajarkan bahwa iman bukanlah janji hidup tanpa badai, melainkan keyakinan bahwa Allah tetap setia di tengah badai. Tuhan tidak selalu memberi jalan yang paling mudah, tetapi selalu memberi penyertaan yang paling setia. Itulah sebabnya pemazmur berkata, “Firman-Mu menjadi peganganku.” Ketika segala sesuatu berubah, Sabda Tuhan tetap menjadi tempat berpijak.

Saudara-saudari terkasih, mungkin hari ini kita sedang berada di tengah badai kehidupan. Dengarkanlah tiga kalimat Yesus yang menjadi kekuatan kita. “Jangan takut.” Jangan biarkan ketakutan menguasai hati. “Aku ini.” Tuhan hadir lebih dekat daripada yang kita sadari. Dan yang ketiga, meskipun tidak diucapkan dengan kata-kata, tetapi ditunjukkan melalui tindakan-Nya: “Peganglah tangan-Ku.” Selama kita tetap berpegang pada Kristus, badai tidak akan menghancurkan kita. Mungkin badai belum berhenti, tetapi kita tidak akan tenggelam, karena tangan Tuhan selalu menopang kita. Marilah kita melangkah dengan iman, sebab kehadiran Kristus jauh lebih besar daripada badai apa pun yang kita hadapi.
Amin.

” Tuhan hadir lebih dekat daripada yang kita sadari. Dan yang ketiga, meskipun tidak diucapkan dengan kata-kata, tetapi ditunjukkan melalui tindakan-Nya: “Peganglah tangan-Ku.” Selama kita tetap berpegang pada Kristus, badai tidak akan menghancurkan kita. Mungkin badai belum berhenti, tetapi kita tidak akan tenggelam, karena tangan Tuhan selalu menopang kita. Marilah kita melangkah dengan iman, sebab kehadiran Kristus jauh lebih besar daripada badai apa pun yang kita hadapi.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com