Kakek-Nenek Korea Menjaga Nyala Iman Lintas Generasi

Cho Ki-Sik dan Lee Seung-Jin berdoa rosario bersama keduanya cucu mereka (Foto: Byun Kyung-Mi)

Komsoskam.com|| Keluarga Katolik menunjukkan bahwa teladan sederhana dalam kehidupan sehari-hari menjadi cara paling efektif mewariskan iman kepada anak dan cucu.

Sebelum memulai liburan keluarga, pasangan lanjut usia asal Korea Selatan, Cho Ki-sik dan Lee Seung-jin, selalu melakukan satu hal terlebih dahulu: mencari gereja atau tempat ziarah Katolik yang berada di dekat tujuan perjalanan mereka.

Bagi pasangan ini, menghadiri Misa bukanlah selingan yang mengganggu agenda liburan, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan itu sendiri.

“Ke mana pun kami pergi, hal pertama yang kami cari adalah tempat untuk mengikuti Misa. Liburan keluarga terasa lengkap hanya jika kami dapat berdoa bersama,” ujar Lee.

Kedua cucu mereka, Hwang Si-won dan Hwang Ye-chan, tumbuh dengan menyaksikan kebiasaan-kebiasaan kecil namun konsisten itu—baik di rumah, selama perjalanan, maupun dalam kehidupan menggereja.

“Awalnya mereka hanya mengikuti kami. Tetapi perlahan-lahan doa menjadi sesuatu yang mereka lakukan atas kemauan sendiri,” kata Cho.

Keluarga Cho (69) dan Lee (74), umat Paroki Gongdeok-dong di Keuskupan Agung Seoul, terdiri atas tiga generasi umat Katolik yang dipersatukan oleh keyakinan sederhana: anak-anak pertama-tama belajar iman bukan melalui nasihat, melainkan dengan melihat orang dewasa menghidupinya.

Putri mereka, Lee Yeon-ji (44), bersama suaminya, Hwang Jun-hyeop (44), merupakan anggota Paroki Santo Yohanes Jichuk-dong di Keuskupan Uijeongbu. Seperti banyak keluarga muda lainnya, mereka sering mengandalkan bantuan kedua orang tua untuk merawat anak-anak mereka, Si-won (11) dan Ye-chan (8), di tengah kesibukan bekerja.

Namun, dukungan sang kakek dan nenek tidak berhenti pada urusan makan, sekolah, atau pekerjaan rumah. Mereka juga selalu menanyakan apakah kedua cucunya mengikuti Misa Minggu, doa apa yang mereka ucapkan, serta tindakan baik apa yang telah mereka lakukan kepada sesama. Bahkan tindakan kebaikan sekecil apa pun selalu mendapat apresiasi.

“Kami tidak pernah memaksakan iman kepada mereka. Kami hanya ingin mereka melihat bahwa doa dan Misa adalah bagian alami dari kehidupan sehari-hari,” tutur Cho.

Kini Si-won telah terbiasa membuat tanda salib dan berdoa sebelum maupun sesudah makan siang di sekolah. Ia juga setia berdoa pagi dan malam serta rutin mendaraskan Rosario.

“Saya sering melihat kakek dan nenek berdoa, jadi saya ikut melakukannya secara alami. Berdoa Rosario membuat hati dan pikiran saya menjadi tenang,” katanya.

Tantangan Gereja di Tengah Masyarakat yang Menua

Kisah keluarga Hwang menjadi semakin relevan ketika Gereja Katolik merayakan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia pada 26 Juli. Peringatan yang ditetapkan Paus Fransiskus pada 2021 itu bertujuan menegaskan peran kakek-nenek sebagai jembatan antargenerasi sekaligus saksi iman yang mewariskan pengalaman hidup kepada generasi muda.

Pesan tersebut memiliki arti khusus bagi Gereja Katolik di Korea Selatan yang kini menghadapi dua tantangan besar sekaligus, yakni meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan menurunnya partisipasi kaum muda dalam kehidupan menggereja.

Statistik Gereja menunjukkan bahwa jumlah umat Katolik di Korea Selatan telah melampaui enam juta jiwa. Namun, kehadiran umat dalam Misa Minggu terus menurun, sementara hampir sepertiga umat kini berusia 65 tahun ke atas.

Dalam situasi seperti itu, kebiasaan sederhana keluarga Hwang menghadirkan pertanyaan pastoral yang penting bagi banyak paroki: bagaimana menjaga agar iman tetap hidup ketika waktu bersama keluarga semakin terbatas dan praktik hidup beragama tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang otomatis diwariskan?

Orangtua Juga Harus Terus Bertumbuh

Bagi Hwang Jun-hyeop, perjalanan iman anak-anaknya justru menjadi cermin bagi kehidupan rohaninya sendiri.

Ia mengikuti program Mother and Father School, sebuah program pembinaan iman yang diselenggarakan Dewan Kerasulan Awam Gereja Katolik Korea bersama Sunshine Pastoral Center Keuskupan Agung Seoul, sebanyak dua kali.

Menurutnya, ia menyadari bahwa tidak mungkin membimbing anak-anak bertumbuh dalam iman jika dirinya sendiri tidak lebih dahulu bertumbuh.

“Saya sadar, saya tidak bisa meminta anak-anak berdoa jika saya sendiri tidak berdoa bersama mereka. Iman mereka membuat saya kembali melihat kehidupan iman saya sendiri,” ujarnya.

Keluarga ini juga mengikuti program Chiro, yang dikembangkan Sunshine Pastoral Center. Program tersebut mempertemukan orangtua dan anak-anak untuk belajar iman bersama melalui permainan, percakapan, dan berbagai kegiatan keluarga.

Melalui program itu, keluarga-keluarga dengan anak-anak seusia dapat saling mendukung dan menjalani pembinaan iman sebagai sebuah perjalanan bersama.

Pengaruhnya bahkan mengalir ke arah sebaliknya.

Ketika Si-won mengikuti Misa pagi setiap hari selama sebulan sebagai persiapan menjadi putra altar, sang ayah selalu mendampinginya.

“Justru iman saya sendiri semakin bertumbuh ketika mengikuti Misa bersama anak saya. Saya merasa lebih banyak belajar daripada mengajar,” kata Hwang.

Iman Dihidupi, Bukan Sekadar Diajarkan

Direktur Riset Sunshine Pastoral Center, Cheon Jin-ah, menegaskan bahwa setiap orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk membantu generasi muda bertumbuh dalam iman.

Lembaganya meluncurkan program Mother and Father School pada 2021 ketika pandemi Covid-19 menyebabkan banyak kelas katekese di paroki terhenti. Program tersebut bertujuan membantu para orangtua menjadi katekis pertama bagi anak-anak mereka.

Menurut Cheon, banyak orangtua akhirnya menyadari bahwa iman tidak dapat diwariskan hanya melalui aturan atau pelajaran agama di paroki.

“Anak-anak tidak bertumbuh dalam iman hanya karena orang dewasa mengatakan apa yang harus dilakukan. Mereka perlu melihat orang dewasa menjalani iman dengan sukacita dan konsisten,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di pundak orangtua atau kakek-nenek. Seluruh umat, terutama generasi yang lebih tua, memiliki pengalaman hidup dan nilai-nilai yang dapat membantu kaum muda menemukan tempat mereka di dalam Gereja.

“Gereja harus terus menyelenggarakan pembinaan iman dalam komunitas, sementara keluarga menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak-anak membangun relasi pribadi dengan Kristus. Jika kedua peran ini berjalan bersama, Gereja akan bertumbuh bersama generasi mudanya,” ujar Cheon.

Bagi keluarga Cho, Lee, anak-anak dan cucu-cucu mereka, pertumbuhan iman tidak selalu dimulai dari peristiwa besar. Iman justru tumbuh di tempat-tempat yang sederhana: di meja makan keluarga, sebelum makan siang di sekolah, di bangku gereja saat Misa pagi, atau dalam perjalanan liburan yang selalu diawali dengan mengikuti Perayaan Ekaristi.

(UCA NEWS, 27 Juli 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com