
Paus Leo XIV menjawab pertanyaan para wartawan saat dalam penerbangan dari Equatorial Guinea ke Roma pada 23 April 2026 (Foto:Vatikan Media)
ROMA, KOMPAS — Pope Leo XIV menegaskan bahwa Tahta Suci tidak menyetujui pemberkatan formal bagi pasangan sesama jenis. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persatuan Gereja Katolik tidak seharusnya bergantung pada isu-isu seksual, dan semua orang tetap diterima dalam Gereja.
Pernyataan tersebut disampaikan Paus dalam konferensi pers di dalam pesawat kepausan pada 23 April 2026, saat perjalanan pulang dari Equatorial Guinea menuju Rome, setelah menyelesaikan kunjungan pastoral selama 11 hari di Afrika.
Dalam kesempatan itu, Paus Leo menanggapi keputusan Kardinal Reinhard Marx di Jerman yang mengizinkan pemberkatan pasangan sesama jenis di keuskupannya. Paus menegaskan bahwa Vatikan telah menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap praktik tersebut.
“Persatuan atau perpecahan Gereja seharusnya tidak berpusat pada isu seksual,” ujar Paus. Ia menambahkan bahwa ada persoalan moral lain yang lebih penting, seperti keadilan, kesetaraan, kebebasan, dan hak beragama.
Namun, Paus membedakan antara pemberkatan formal terhadap pasangan dengan berkat umum yang diberikan kepada semua umat. Ia merujuk pada pendekatan Paus Pope Francis yang menekankan bahwa semua orang dapat menerima berkat.
“Semua orang diundang, semua orang diterima,” kata Paus Leo, mengutip semangat inklusivitas Gereja.
Soroti Migrasi dan Keadilan Global
Selain isu internal Gereja, Paus Leo juga menyinggung persoalan migrasi. Ia menegaskan bahwa setiap negara berhak mengatur perbatasannya, namun para migran harus tetap diperlakukan secara manusiawi.
“Para migran adalah manusia. Mereka tidak boleh diperlakukan lebih buruk daripada hewan,” ujarnya.
Paus juga mengkritik negara-negara maju yang dinilai belum cukup membantu negara berkembang, khususnya di Afrika. Ia menekankan pentingnya mengatasi akar masalah migrasi, seperti kurangnya kesempatan ekonomi.
Sikap terhadap Konflik Iran
Menanggapi konflik yang melibatkan Iran, Paus menyerukan dialog dan perlindungan terhadap warga sipil. Ia juga mengecam keras hukuman mati dan segala bentuk tindakan yang merenggut nyawa secara tidak adil.
“Saya mengutuk semua tindakan yang tidak adil dan penghilangan nyawa manusia,” tegasnya.
Diplomasi Vatikan
Paus Leo turut membela pendekatan diplomasi Vatikan yang tetap menjalin hubungan dengan negara-negara otoriter. Menurutnya, pendekatan ini bertujuan membuka ruang dialog dan memperjuangkan keadilan secara diam-diam, termasuk upaya pembebasan tahanan politik.
Refleksi Kunjungan ke Afrika
Menutup kunjungannya, Paus Leo menyampaikan bahwa perjalanan ke Afrika memberikan pengalaman spiritual yang mendalam. Ia menyebut benua tersebut sebagai sumber “harta iman, harapan, dan kasih” yang memperkaya pelayanannya sebagai pemimpin Gereja Katolik.
Ia juga menegaskan bahwa Afrika memiliki peran penting dalam masa depan Gereja, terutama dalam misi dan pertumbuhan iman umat.(VATICAN NEWS, 24 April 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr