EKARISTI DAN ANAK-ANAK “Biarkan Anak-Anak Itu Datang kepada-Ku”

oleh Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap Uskup Agung Medan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Dalam berbagai kesempatan pastoral, saya masih menemukan pandangan yang mengatakan bahwa anak-anak belum perlu sungguh-sungguh dilibatkan dalam Perayaan Ekaristi karena mereka belum mengerti makna Ekaristi secara penuh. Ada yang beranggapan bahwa kehadiran mereka di gereja sering mengganggu suasana doa, sulit tenang, atau belum mampu mengikuti seluruh rangkaian perayaan. Tidak jarang pula orang tua memilih meninggalkan anak-anak di rumah atau merasa lebih nyaman mengikuti Misa tanpa kehadiran mereka. Ada temoat khusus anak-anak di wikayah gereja dan setelah komuni kudus mereka berbaris menerima berkat.

Pandangan seperti ini mengajak kita untuk kembali merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah rahmat sakramen terutama bergantung pada tingkat pengertian manusia, ataukah pertama-tama berasal dari karya Allah sendiri?

Dalam sejarah Gereja, pertanyaan ini pernah menjadi perdebatan teologis yang cukup panjang. Ada masa ketika sebagian kalangan menekankan bahwa penerimaan sakramen harus didahului pemahaman yang cukup matang. Namun Gereja secara bertahap semakin menegaskan bahwa daya guna sakramen tidak pertama-tama berasal dari kemampuan intelektual manusia, melainkan dari Kristus sendiri yang bertindak dalam sakramen.

Tradisi teologi Katolik mengenal prinsip ex opere operato, yaitu bahwa sakramen menghasilkan rahmat karena Kristus sendiri yang berkarya di dalamnya. Rahmat Allah tidak pertama-tama ditentukan oleh kecerdasan, usia, kemampuan berpikir, atau kedalaman refleksi penerimanya. Memang disposisi batin yang baik membantu seseorang menerima buah sakramen secara lebih sempurna, tetapi sumber rahmat tetaplah Allah sendiri.

Keyakinan inilah yang menjadi salah satu dasar penting bagi keputusan Gereja untuk semakin membuka jalan bagi anak-anak menerima Ekaristi Kudus. Dalam sejarah modern Gereja, tokoh yang sangat penting dalam hal ini adalah Pope Pius X. Melalui dekret Quam Singulari pada tahun 1910, Paus Pius X menegaskan bahwa anak-anak tidak perlu menunggu sampai memiliki pemahaman teologis yang sempurna untuk menerima Komuni Pertama. Cukuplah mereka telah mencapai usia akal budi (age of reason) dan mampu membedakan Roti Ekaristi dari roti biasa serta memiliki kerinduan untuk menerima Yesus.

Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap. memberikan berkat bagi anak-anak

Paus Pius X bahkan dikenal sebagai “Paus Komuni Sering”. Beliau menolak kecenderungan yang terlalu menuntut kesempurnaan pemahaman sebelum seseorang menerima Ekaristi. Menurut beliau, Ekaristi bukan hadiah bagi mereka yang sudah sempurna, melainkan makanan rohani yang membantu manusia bertumbuh menuju kedewasaan iman. Jika orang dewasa membutuhkan makanan rohani untuk bertumbuh, terlebih lagi anak-anak.

Sikap Gereja ini sebenarnya sangat sejalan dengan sikap Yesus sendiri. Ketika para murid berusaha menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, Yesus justru berkata: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka” (Mrk 10:14). Kata-kata ini bukan hanya ajakan untuk memberkati anak-anak, melainkan juga sebuah prinsip pastoral yang terus berlaku dalam kehidupan Gereja. Anak-anak bukan warga kelas dua dalam Kerajaan Allah. Mereka memiliki tempat istimewa di hati Kristus.

Karena itu, ketika seorang anak hadir dalam Ekaristi, sesungguhnya ia sedang belajar mengenal Tuhan bukan hanya melalui penjelasan dan pelajaran agama, melainkan melalui pengalaman. Seorang anak mungkin belum mampu menjelaskan makna kurban Kristus secara teologis. Ia mungkin belum memahami istilah transubstansiasi atau misteri Paskah. Namun ia dapat merasakan suasana doa, keheningan, nyanyian, tanda salib, penghormatan kepada altar, serta kehangatan komunitas umat beriman. Melalui pengalaman itu, rahmat Allah bekerja secara perlahan membentuk hati dan imannya.

Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita juga menerima banyak hal sebelum sepenuhnya memahaminya? Seorang anak menerima kasih orang tuanya jauh sebelum ia mampu menjelaskan arti kasih. Ia menikmati kehangatan keluarga sebelum mengerti teori tentang keluarga. Demikian pula dalam kehidupan iman. Pengalaman sering mendahului pengertian. Hati sering dibentuk lebih dahulu sebelum akal mampu merumuskan maknanya.

Oleh sebab itu saya mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Medan untuk semakin membuka ruang bagi anak-anak dalam kehidupan liturgi kita. Kehadiran mereka bukan gangguan bagi Ekaristi, melainkan tanda bahwa Gereja memiliki masa depan. Tangisan mereka, langkah-langkah kecil mereka, pertanyaan-pertanyaan polos mereka, bahkan kegelisahan mereka dalam mengikuti Misa merupakan bagian dari perjalanan mereka menuju Kristus.

Saya juga mengajak para orang tua untuk tidak takut membawa anak-anak ke gereja. Jangan menunggu mereka “cukup besar” atau “cukup mengerti”. Justru melalui kebiasaan menghadiri Ekaristi sejak dini, mereka belajar mencintai Tuhan. Iman tidak lahir hanya dari pengetahuan, tetapi juga dari perjumpaan yang terus-menerus dengan Allah dalam komunitas Gereja.

Kepada para pastor, katekis, petugas liturgi, guru agama, dan seluruh komunitas umat beriman, marilah kita membangun budaya Gereja yang ramah anak. Gereja yang ramah anak bukan berarti mengurangi kesakralan liturgi, melainkan menghadirkan kesakralan itu dengan cara yang mampu menyentuh hati mereka. Anak-anak perlu merasa bahwa gereja adalah rumah mereka, altar adalah tempat mereka bertemu Yesus, dan komunitas umat adalah keluarga besar yang menerima mereka dengan sukacita.

Pada akhirnya, Ekaristi adalah misteri kasih Allah yang melampaui kemampuan akal manusia. Tidak seorang pun, bahkan teolog terbesar sekalipun, mampu memahami secara sempurna seluruh kedalaman misteri Tubuh dan Darah Kristus. Kita semua datang sebagai anak-anak di hadapan Allah. Jika demikian, janganlah kita menutup pintu yang telah dibuka oleh Kristus sendiri.

Marilah kita mendengar kembali suara Tuhan yang bergema sepanjang zaman:

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Semoga setiap anak di Keuskupan Agung Medan semakin mengenal, mencintai, dan mengalami Yesus yang hadir dalam Ekaristi Kudus, sumber dan puncak seluruh kehidupan Gereja.

Salam dan berkat apostolik,

Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap Uskup Agung Medan
Deus Meus et Omnia

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com