Gereja Korea Selatan Anugerahi Penghargaan kepada Penasihat Vatikan Bidang Kecerdasan Buatan

Uskup Agung Chung Soon-Taick (tengah)para pemenang Mistery Awards ke 20 di Universitas Katolik Seoul pada bulan  9 Juni (Foto: Keuskupan Agung Seoul)

Oleh Reporter UCA News

SEOUL, Korea Selatan – Keuskupan Agung Seoul memberikan penghargaan bergengsi kepada imam Fransiskan asal Italia, Paolo Benanti, atas kontribusinya dalam pengembangan etika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan tata kelola teknologi.

Penghargaan tersebut diberikan dalam Mystery of Life Awards (Penghargaan Misteri Kehidupan) ke-20 yang diselenggarakan di The Catholic University of Korea, Seoul, pada 9 Juni 2026.

Benanti menerima Achievement Award in Humanities and Social Sciences (Penghargaan Prestasi Bidang Humaniora dan Ilmu Sosial) sebagai pengakuan atas kiprahnya dalam mengembangkan refleksi etis mengenai AI dan teknologi digital.

Acara penghargaan diselenggarakan oleh Komite Kehidupan Keuskupan Agung Seoul. Hadir dalam kesempatan itu antara lain Uskup Agung Seoul Peter Chung Soon-taick, Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok, Kardinal Emeritus Seoul Andrew Soo-jung Yeom, serta Uskup Auksilier Seoul Job Yo-bi Koo.

Dalam pidato penerimaannya, Benanti merefleksikan makna “misteri kehidupan” di tengah dunia yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan.

“Kata misteri menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui perhitungan, tidak dapat direduksi menjadi data semata, dan menuntut bukan hanya analisis, tetapi juga sikap hormat,” ujarnya.

Keuskupan Agung Seoul mendirikan Mystery of Life Awards pada tahun 2006 dengan tujuan membela martabat dan nilai kehidupan manusia serta mempromosikan bioetika Katolik dalam masyarakat.

Benanti juga memperingatkan bahaya ketika manusia dipandang hanya sebagai kumpulan data.

“Sistem AI tidak tahu bagaimana melihat seorang pribadi. Mereka hanya melihat pola, korelasi, sinyal perilaku, dan vektor preferensi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dianggap sebagai takdir yang tidak dapat diubah.

“Teknologi bukanlah takdir. Martabat manusia harus menjadi ukuran dalam setiap keputusan dan pilihan teknologi yang kita buat.”

Selain menjadi penasihat Vatikan mengenai isu-isu kecerdasan buatan, Benanti juga menjabat sebagai ketua Komisi Kecerdasan Buatan untuk Informasi Pemerintah Italia. Ia juga pernah menjadi anggota United Nations High-level Advisory Body on Artificial Intelligence.

Penerima Penghargaan Lainnya

Selain Benanti, tiga penerima lainnya juga mendapat penghargaan atas kontribusi mereka dalam bidang masing-masing:

  • Won-Suk Chung menerima penghargaan prestasi bidang Ilmu Hayati atas penelitiannya mengenai penyakit neurodegeneratif.
  • Sujeong Kim menerima penghargaan dorongan (Encouragement Award) bidang Humaniora dan Ilmu Sosial atas karya-karyanya mengenai etika perawatan dalam pelayanan medis.
  • Human Resource Development Foundation menerima penghargaan kategori aktivitas atas pelayanan mereka kepada komunitas Dalit di India serta komitmennya dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan martabat manusia.

Para pemenang menerima plakat penghargaan atas nama Uskup Agung Chung serta hadiah uang sebesar 100 juta won (sekitar Rp1,2 miliar) untuk kategori Achievement Award dan 30 juta won (sekitar Rp360 juta) untuk kategori Encouragement Award.

Martabat Kehidupan Harus Menjadi Dasar Masyarakat

Dalam sambutannya, Uskup Agung Chung menyampaikan apresiasi kepada para penerima penghargaan yang telah menjadi saksi nilai luhur kehidupan manusia melalui bidang keahlian mereka.

“Melalui penghargaan ini, saya berharap nilai kehidupan semakin luas dibagikan dan budaya penghormatan terhadap kehidupan semakin berakar dalam masyarakat kita,” katanya.

Sementara itu, Perdana Menteri Kim Min-seok menegaskan bahwa perlindungan terhadap kehidupan bukan hanya persoalan agama, melainkan juga tanggung jawab nasional dan sosial.

“Masalah yang paling sering dibahas pemerintah saat ini adalah kecelakaan kerja, bunuh diri, dan keselamatan publik. Semua itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan sistem dan regulasi.”

Ia menambahkan bahwa tanpa penghormatan yang kuat terhadap martabat manusia dan nilai kehidupan, berbagai institusi yang ada tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut secara mendasar.

Penghargaan tahun ini kembali menegaskan perhatian Gereja Katolik Korea terhadap isu-isu bioetika, martabat manusia, dan tantangan etis yang muncul seiring perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan.

SEOUL, Korea Selatan – Keuskupan Agung Seoul memberikan penghargaan bergengsi kepada imam Fransiskan asal Italia, Paolo Benanti, atas kontribusinya dalam pengembangan etika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan tata kelola teknologi.

Penghargaan tersebut diberikan dalam Mystery of Life Awards (Penghargaan Misteri Kehidupan) ke-20 yang diselenggarakan di The Catholic University of Korea, Seoul, pada 9 Juni 2026.

Benanti menerima Achievement Award in Humanities and Social Sciences (Penghargaan Prestasi Bidang Humaniora dan Ilmu Sosial) sebagai pengakuan atas kiprahnya dalam mengembangkan refleksi etis mengenai AI dan teknologi digital.

Acara penghargaan diselenggarakan oleh Komite Kehidupan Keuskupan Agung Seoul. Hadir dalam kesempatan itu antara lain Uskup Agung Seoul Peter Chung Soon-taick, Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok, Kardinal Emeritus Seoul Andrew Soo-jung Yeom, serta Uskup Auksilier Seoul Job Yo-bi Koo.

Dalam pidato penerimaannya, Benanti merefleksikan makna “misteri kehidupan” di tengah dunia yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan.

“Kata misteri menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui perhitungan, tidak dapat direduksi menjadi data semata, dan menuntut bukan hanya analisis, tetapi juga sikap hormat,” ujarnya.

Keuskupan Agung Seoul mendirikan Mystery of Life Awards pada tahun 2006 dengan tujuan membela martabat dan nilai kehidupan manusia serta mempromosikan bioetika Katolik dalam masyarakat.

Benanti juga memperingatkan bahaya ketika manusia dipandang hanya sebagai kumpulan data.

“Sistem AI tidak tahu bagaimana melihat seorang pribadi. Mereka hanya melihat pola, korelasi, sinyal perilaku, dan vektor preferensi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dianggap sebagai takdir yang tidak dapat diubah.

“Teknologi bukanlah takdir. Martabat manusia harus menjadi ukuran dalam setiap keputusan dan pilihan teknologi yang kita buat.”

Selain menjadi penasihat Vatikan mengenai isu-isu kecerdasan buatan, Benanti juga menjabat sebagai ketua Komisi Kecerdasan Buatan untuk Informasi Pemerintah Italia. Ia juga pernah menjadi anggota United Nations High-level Advisory Body on Artificial Intelligence.

Penerima Penghargaan Lainnya

Selain Benanti, tiga penerima lainnya juga mendapat penghargaan atas kontribusi mereka dalam bidang masing-masing:

  • Won-Suk Chung menerima penghargaan prestasi bidang Ilmu Hayati atas penelitiannya mengenai penyakit neurodegeneratif.
  • Sujeong Kim menerima penghargaan dorongan (Encouragement Award) bidang Humaniora dan Ilmu Sosial atas karya-karyanya mengenai etika perawatan dalam pelayanan medis.
  • Human Resource Development Foundation menerima penghargaan kategori aktivitas atas pelayanan mereka kepada komunitas Dalit di India serta komitmennya dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan martabat manusia.

Para pemenang menerima plakat penghargaan atas nama Uskup Agung Chung serta hadiah uang sebesar 100 juta won (sekitar Rp1,2 miliar) untuk kategori Achievement Award dan 30 juta won (sekitar Rp360 juta) untuk kategori Encouragement Award.

Martabat Kehidupan Harus Menjadi Dasar Masyarakat

Dalam sambutannya, Uskup Agung Chung menyampaikan apresiasi kepada para penerima penghargaan yang telah menjadi saksi nilai luhur kehidupan manusia melalui bidang keahlian mereka.

“Melalui penghargaan ini, saya berharap nilai kehidupan semakin luas dibagikan dan budaya penghormatan terhadap kehidupan semakin berakar dalam masyarakat kita,” katanya.

Sementara itu, Perdana Menteri Kim Min-seok menegaskan bahwa perlindungan terhadap kehidupan bukan hanya persoalan agama, melainkan juga tanggung jawab nasional dan sosial.

“Masalah yang paling sering dibahas pemerintah saat ini adalah kecelakaan kerja, bunuh diri, dan keselamatan publik. Semua itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan sistem dan regulasi.”

Ia menambahkan bahwa tanpa penghormatan yang kuat terhadap martabat manusia dan nilai kehidupan, berbagai institusi yang ada tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut secara mendasar.

Penghargaan tahun ini kembali menegaskan perhatian Gereja Katolik Korea terhadap isu-isu bioetika, martabat manusia, dan tantangan etis yang muncul seiring perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (UCA NEWS, 10 Juni 2o26).

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com