
Para Uskup Vietman saat mengadakan ad Limana (kunjungan ) kepada Paus Leo XIV (foto:Vatican Media)
Para uskup Vietnam menegaskan kepada Paus Leo XIV bahwa Gereja di negara mereka adalah sebuah keluarga, dalam pertemuan ad limina di Vatikan yang berlangsung hangat dan penuh nuansa persaudaraan.
Seusai melakukan perjalanan apostolik selama 11 hari ke empat negara di Afrika, Paus Leo XIV langsung kembali melanjutkan agenda di Roma. Sehari setelah tiba dari Guinea Khatulistiwa, ia menerima kunjungan para uskup Vietnam dalam rangka ad limina Apostolorum.
Kunjungan ad limina merupakan tradisi bagi para uskup yang berada dalam persekutuan dengan Takhta Suci untuk memperkuat tanggung jawab mereka sebagai penerus para rasul, sekaligus mempererat kesatuan hierarkis dengan Paus sebagai penerus Santo Petrus. Selain berdoa di makam Santo Petrus dan Santo Paulus, momen ini juga menjadi kesempatan bagi Paus untuk berdialog langsung mengenai misi pastoral Gereja di berbagai wilayah.
Usai audiensi, Uskup Dominic Nguyen Tuan Anh dari Keuskupan Xuân Lộc menggambarkan pertemuan tersebut sebagai perjumpaan yang hangat dan bersifat kekeluargaan.
“Meski baru kembali dari perjalanan panjang ke Afrika dan tampak lelah, Paus tetap meluangkan waktu untuk bertemu kami dengan sepenuh hati,” ujarnya.
Menurut dia, Paus menyampaikan kegembiraannya dapat bertemu dan mendengar perkembangan Gereja di Vietnam. Suasana pertemuan pun terasa akrab, mencerminkan relasi sebagai satu keluarga dalam Gereja.
“Kami merasakan bahwa kami sungguh berada dalam persekutuan dengan Paus, Takhta Suci, dan Gereja universal. Gereja di Vietnam adalah sebuah keluarga, dan dalam budaya kami, nilai kekeluargaan sangat kuat,” kata Uskup Tuan Anh.
Ia juga menyinggung bahwa Gereja di Vietnam bertumbuh berkat rahmat Tuhan dan kesaksian para martir. Saat ini, dengan sekitar 7 juta umat Katolik, Vietnam menjadi salah satu komunitas Katolik terbesar di Asia.
Meski dikenal memiliki iman yang kuat, Gereja di Vietnam juga menghadapi berbagai tantangan modern, terutama di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan media massa.
“Kami membutuhkan persatuan—antara uskup, imam, biarawan-biarawati, dan umat awam—untuk menjawab tantangan zaman. Dengan rahmat Tuhan, kami percaya dapat menghadapinya dengan iman dan harapan,” ujarnya (VATICAN NEWS, 24 April 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr