Misa Paus Leo XIV di Kilamba: Musik, Misi, dan Harapan dari Berbagai Penjuru Dunia

 

Paus Leo  XIV menyapa umat saat imisa di Kilamba, 19 April 2026 (Foto:Vatican Media)

Oleh Claudia Torres-Kilamba, Angola

KILAMBA, ANGOLA — Sekitar 100.000 umat dari berbagai negara menghadiri Misa Kudus yang dipimpin Pope Leo XIV di Kilamba, sebuah kota terencana yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Luanda, pada Minggu (19/4). Perayaan ini menjadi bagian dari perjalanan apostolik Paus di Afrika.

Umat yang hadir tidak hanya berasal dari Angola, tetapi juga dari berbagai negara seperti Polandia, Italia, hingga Uruguay. Suasana perayaan berlangsung meriah, diwarnai musik liturgi yang dibawakan oleh paduan suara “500 vozes” di bawah koordinasi Sekretariat Nasional Liturgi. Kelompok ini mewakili berbagai keuskupan yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Angola dan São Tomé.

“Kami di sini memainkan musik yang membuat orang bersukacita,” ujar pianis muda Luis Muxinda, yang untuk pertama kalinya tampil dalam Misa kepausan. Ia mengaku bangga dan antusias dapat ambil bagian dalam perayaan tersebut.

Di barisan depan, tampak sejumlah imam mengenakan busana liturgi berwarna putih, sesuai perayaan Minggu Paskah Ketiga. Salah satunya adalah Pastor Andrés Algorta, misionaris asal Uruguay yang telah lama berkarya di Angola, khususnya di Paroki São Paulo di Luanda.

“Kami sangat bahagia Paus hadir bersama kami,” katanya. Ia juga menyoroti perhatian Paus terhadap warga Benguela yang terdampak banjir mematikan. Dalam pertemuan dengan otoritas Angola sehari sebelumnya, Paus menyampaikan solidaritasnya bagi para korban.

“Beliau tidak hanya merangkul Benguela, tetapi seluruh rakyat Angola,” tambah Algorta.

Sementara itu, Suster Krystyna Zachwieja, seorang misionaris Fransiskan asal Polandia, menyebut pengalaman mengikuti Misa tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia berharap kunjungan Paus dapat mendorong semangat evangelisasi baru di Angola.

Dari kalangan tenaga medis, hadir pula Sergio Facchini dan Eleonora Biasotto, dokter anak asal Italia yang tengah menjalani misi dua tahun di Rumah Sakit Divine Providence di Luanda. Mereka menangani kasus malnutrisi pada anak, yang disebut sebagai persoalan kompleks dengan tantangan besar.

“Kami berusaha melakukan yang terbaik dalam situasi sulit,” kata Eleonora. Rekannya, Sergio, menambahkan bahwa kehadiran Paus memberi kekuatan moral dalam melayani kelompok paling rentan.

“Kehadiran Paus yang ingin dekat dengan mereka memberi kami semangat untuk terus melanjutkan pekerjaan ini,” ujarnya.

Pastor Daniel Malamba, imam dari Serikat Sabda Allah asal Angola, menyebut kunjungan Paus sebagai sumber sukacita bagi umat Kristiani setempat. Ia menggambarkan Paus sebagai “peziarah perdamaian” yang membawa harapan bagi masyarakat Angola yang masih menghadapi berbagai tantangan sosial.

Perayaan Misa di Kilamba tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga simbol persatuan lintas bangsa serta penguatan solidaritas bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan (VATICAN NEWS, 19 April 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com