Menimba Kasih Kristus dari Salib San Damiano

408 total views, 1 views today

Sepintas bagi orang yang sungguh cermat memandangnya pasti bertanya mengapa salib ini berbeda dari biasanya? atau juga kita dengan mudah mengakuinya salib ini kelihatan lebih menarik untuk dipandang.

Salib San Damiano ini, menurut cerita orang adalah salib yang paling banyak tersebar di seluruh dunia. Salib ini menjadi harta kekayaan rohani untuk persaudaraan Fransiskan (Pengikut St. Fransiskus Asisi). Sepanjang segala abad para pecinta spritualitas St. Fransiskus Asisi itu, bertekuk lutut di depan salib ini untuk memohon terang, agar mereka dapat menunaikan perutusan mereka di dalam Gereja. St. Fransiskus Asisi setiap kali memandang Salib ini berdoa demikian: “Allah yang maha tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku iman yang benar dan kasih yang sempurna, agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu yang kudus dan tak menyesatkan”.

Ketika kita mengamati dan memandang Salib ini, kita langsung dihadapkan pada Wajah Kristus di tengah. Dia menutupi sebagian besar dari Salib itu. Wajah itu kelihatan sangat anggun, suci dan tenang. Akan tetapi, lebih dari itu, Kristus melepaskan diri dari latar belakang tulisan ini. Kristus lebih ditonjolkan dari pada tokoh-tokoh lainnya (Maria dan Yohanes di sebelang kanan Yesus, dan seorang tentara Romawi sambil memegang tombak. Disebelah kiri-Nya berdirilah tiga tokoh 2 wanita dan satu pria yakni Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus, di samping mereka bedirilah seorang perwira Romawi di Pada bagian kaki-Nya berdirilah Petrus dengan dua kunci dan Paulus) seolah-olah Ia berdiri di depan mereka.

Sejenak melihat tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam Salib ini mengingatkan kita bahwa merekalah orang yang menjenguk makam Yesus pada Paskah pagi. Di belakang lengan dan kakinya tampaklah warna gelap dari makam yang kosong. Warna ini adalah tanda kegelapan. Akan tetapi, kegelapan itu dikalahkan oleh terang yang berasal dari tubuh-Nya. Di bagian atas nampaklah seorang Pribadi: yang ternyata adalah Kristus yang naik ke surga yang disambut oleh para malaikat. Pada bagian atas terdapat setengah lingkaran. Lingkaran itu melambangkan Bapa yang bertahta dalam kerajaan-Nya. Kristus memperkenalkan Bapa, sekaligus Bapa tetap tinggal di antara kita sebagai Allah yang tidak dikenal, tidak terangkum, unggul di atas segala-galanya.

Kalau boleh dikatakan bahwa seniman yang melukis salib ini ingin menonjolkan sisi Terang dari Kristus sendiri yang mungkin ia diinspirasi oleh Penginjil Yohanes, yakni Kristus sebagai Terang, namun sekaligus Kristus yang dimuliakan. Kristus yang digambarkan dalam Salib ini tanpa sokongan sedikit pun. Dia sungguh-sungguh memegang Salib itu. Dia tidak bergantung. Dia tidak bermahkotakan duri, namun mahkota kemuliaan. Lengan-Nya direntangkan lebar-lebar, karena Ia ingin merangkul alam semesta. Telapak tangannya terbuka agar dapat mencakup semua manusia.

Kristus yang ditampilkan dalam Salib San Damiano ini sungguh dan layak untuk dikagumi karena kepadatan teologis. Dari Salib ini kita diajak untuk percaya dalam misteri Tritunggal dan kepenuhan Kristus, dalam penjelmaan-Nya, wafat dan Kebangkitan-Nya. Dari salib ini kita meyakini bahwa Kristus tidak hanya disalib, namun Ia berdiri di tengah-tengah umat, hal itu dilambangkan oleh beberapa tokoh yang mengelilingi-Nya dan menjadi saksi kebangkitan-Nya. Semoga ketika kita melihat Salib San Damiano tidak hanya berhenti untuk memandannya, tetapi sampai pada muatan nilai rohani yang terkandung di dalamnya sebagai “jurus ampuh kita” dalam menaungi lika-liku hidup ini.

Catt. Tulisan ini disadur dari berbagai buku kefransiskanan.

Fr. Santono Situmorang, OFM/ Penulis adalah mahasiswa TK IV, STF Driyarkara Jakarta

 

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *