*RP John Rufinus Saragih, OFMCap. – Moderator Apostolat Kerahiman Ilahi KAM. (Tulisan ini juga terbit di Majalah Menjemaat edisi April 2026)

Berbicara tentang Devosi Kerahiman Ilahi, rasanya tidak bisa lepas dari pribadi St. Faustina. Siapakah dia? Faustina dikenal di seluruh dunia sebagai ”Rasul Kerahiman Ilahi”, malah oleh para teolog, ia dimasukkan dalam kalangan mistikus Gereja yang termasyhur. Ia adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara yang lahir di Glogowice-Polandia, dalam keluarga petani miskin tetapi saleh. Sejak masa kanak-kanak ia sangat menonjol karena kesalehannya, cintanya akan doa, kerajinannya, ketaatannya dan kepekaannya yang besar terhadap kemalangan manusia. Faustina yang nama kecilnya Helena tidak bisa menyelesaikan tiga tahun sekolahnya, dan pada usia 14 tahun ia meninggalkan keluarganya untuk menolong orangtuanya dan mencari nafkah untuk kehidupannya sendiri dengan menjadi pelayan keluarga di kota-kota sekitar Glogowice.
Ketika berumur 7 tahun, Helena sudah merasakan di dalam jiwanya panggilan untuk memeluk hidup membiara. Panggilannya yang sangat kuat itu dimulai pada peristiwa berikut. Ia mendapat penglihatan dan mendengar suara, ”Barapa lama lagi Aku harus bersabar menunggumu dan berapa lama engkau akan terus mencobai Aku?” (Buku Harian Santa Faustina – BHSF 9). Ia mencari dan mengetuk beberapa pintu biara, dan tidak ada yang menerimanya. Hingga pada 01 Agustus 1925, Helena memasuki biara klausura Kongregasi Suster Bunda Allah Kerahiman di Warsawa. Pengalaman itu dia ungkapkan dalam BHSF 17, ”Rasanya aku telah menapakkan kakiku dalam kehidupan Firdaus. Satu-satunya doa yang menyembur dari hatiku adalah doa syukur.” Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa mendalam baginya, baru saja dia diterima di biara, dia langsung merasakan bahwa itu adalah Firdaus. Pernahkah kita merasakan kegembiraan yang luar biasa dan meng-AMIN-kan bahwa kita sedang berada di Firdaus?
Dalam kongregasi Suster Bunda Allah Kerahiman, Faustina mengikrarkan kaul kekal. Sebagai suster, ia bekerja dengan biasa yakni memasak, tukang kebun dan penjaga pintu. Ia melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh semangat, setia, patuh. Ia adalah pribadi yang tenang dan diam, serta menunjukkan keramahan, penuh kebaikan dan kasih yang tulus kepada sesama. Karena begitu hebat kasihnya kepada Yesus, ia menuliskan dalam buku hariannya, ”Yesus, Engkau tahu bahwa sudah sejak usia belia aku mempunyai keinginan yang begitu besar untuk mencintai Engkau, sehingga tidak akan ada jiwa lain yang mencintai Engkau seperti aku” (BHSF 1372).
Ensiklik Paus tentang Kerahiman Ilahi
Santo Paus Yohanes Paulus II, pernah mengeluarkan satu ensiklik tentang kerahiman Allah. Sejak tahun 2000 diketahui bahwa Hari Minggu Paska II wajib dirayakan sebagai Minggu Kerahiman. Keyakinan St. Yohanes Paulus II (YP II) sangat kuat ketika ia memaklumkan Ensiklik Dives in Misericordia (1980). Tidak seorang pun dapat mencapai keselamatan karena jasa atau usahanya sendiri. Keselamatan sepenuhnya pemberian cuma-cuma dari Allah yang Maharahim. Maka St. YP II menganggap kerahiman Allah sebagai sesuatu yang mutlak perlu dimuliakan, dirayakan, direnungkan semakin mendalam oleh manusia masa kini yang mengalami banyak kesusahan dan terperangkap dalam berbagai kejahatan dan dosa. Menurut Paus, kerahiman adalah respons Allah atas kejahatan dunia. Manusia menanggapi kerahiman Allah secara tepat kalau dia sungguh-sungguh mau bertobat: belajar bersikap penuh belas kasihan, murah hati, cepat mengampuni, selalu siap berrekonsiliasi dan tidak membenci. Maka St. YP II dengan kegembiraan yang tak terkira memperkenalkan Suster Faustina kepada seluruh Gereja sebagai suatu hadiah Allah untuk masa kini. Yesus mengatakan kepada Suster Faustina, Umat manusia tidak akan menemukan kedamaian sampai mereka berbalik dengan penuh percaya kepada kerahiman ilahi (BHSF 699).
Paus Fransiskus dalam sebuah bulla yang berjudul Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman) juga menyebut Santa Faustina. Beliau menulis, ”saya mengenang khususnya rasul agung kerahiman, St. Faustina Kowalska. Semoga ia yang diundang memasuki lubuk kerahiman ilahi, mengantar doa-doa kita dan memperoleh bagi kita rahmat untuk selalu hidup dan berjalan seturut belas kasihan Allah dan dengan penyerahan yang tak tergoyangkan kepada kasih-Nya.”
Bagaimana devosi ini dimulai di KAM
Sering terjadi bahwa sebuah devosi mula-mula dilakukan secara pribadi saja, akhirnya diakui sebagai ibadat yang pantas dijadikan liturgi. Demikian juga dengan Devosi Kerahiman Ilahi, ia berkembang dimana-mana, jauh sebelum Paus menentukan hari Minggu Paska kedua, sebagai Minggu Kerahiman Ilahi yang dirayakan secara meriah (bdk. BSHF 49) sebagai liturgi yang sederajat dengan hari-hari liturgi penting lainnya.
Hari Minggu Kerahiman Ilahi (hari Minggu Paska II) adalah liturgi dalam arti penuh. Ini benar-benar hari kerahiman Allah, hari pengampunan, hari pendamaian dengan Tuhan, hari kebangkitan, dengan bacaan liturgi resmi. Tetapi kerahiman ilahi adalah juga sebuah devosi yang disahkan oleh Gereja menurut wahyu-wahyu pribadi yang diterima oleh St. Faustina pada masa hidupnya.
Kelompok kerasulan ini begitu cepat berkembang sehingga sudah dibentuk di tingkat Nasional, Asia dan malah tingkat dunia. Disebut tingkat nasional jika yang berkumpul itu adalah kelompok kerahiman ilahi atas nama Keuskupan-keuskupan yang ada di Indonesia. Di tingkat Asia disebut AACOM (Asian Apostolic Congress on Mercy) dan di tingkat dunia WACOM (World Apostolic Congress on Mercy), dengan kepengurusan yang lengkap. Kelompok ini (Nasional, Asia dan Dunia) masing-masing mengadakan kongres sekali tiga tahun. Maka sebenarnya setiap tahun ada kongres kerahiman ilahi. Misalnya tahun ini diadakan kongres KI nasional, maka tahun depan Kongres KI tingkat Asia dan tahun berikutnya kongres KI tingkat dunia. Begitulah kongres kerahiman ilahi berjalan setiap tahun, dengan tempat yang berbeda, pernah mandeg karena covid-2019. KAM pernah menjadi tuan rumah ketika diadakan kongres KI tingkat Asia Pasifik III pada bulan Oktober 2015. Pertemuan itu dihadiri oleh sekitar 1500 peserta dari 30 negara. Kegiatan itu menekankan pentingnya menyebarkan belas kasih Allah, terutama dalam situasi dunia yang membutuhkan perdamaian.
Di KAM gerakan Kerasulan Kerahiman Ilahi ini dimulai sejak tahun 2007 bersama ”Kelompok Doa Syafaat”. Mereka memulai doa koronka, berdevosi di gereja Kristus Raja-Medan, ketika itu dikomandoi oleh RP. Marcelinus Manalu OFMCap (alm). Dia sendiri punya pengalaman pribadi dengan doa Kerahiman ilahi ketika divonis kanker getah bening. Betapa dia yakin ketika mendaraskan doa koronka, Tuhan akan mendengar dan menyembuhkan dia. Di KAM kepengurusan pertama sekali dibentuk dan dilantik pada tahun 2007 oleh alm. Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap, dengan nama Kerasulan Kerahiman Ilahi. Moderator pada waktu itu ialah RP. Marcelinus Manalu OFMCap dan RP. Augustinus Yew OFMCap (yang sekarang tinggal di rumah Kapusin Tojai-Psiantar). Secara resmi kelompok ini disahkan oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga, alm, melalui Anggaran Dasar No.085/ FUND/KAM/III/2017, tanggal 12 Maret 2017. Anggaran Dasar tersebut berisi: memutuskan, menetapkan, mendirikan Apostolat Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Medan sebagai lembaga gerejawi yang bersifat laikal. Dengan alamat pada Keuskupan Agung Medan, Jl. Imam Bonjol 39, Medan 20152, Indonesia. Maka nama resmi kelompok ini sejak saat itu ialah Apostolat Kerahiman Ilahi (AKI). Di tingkat keuskupan disebut AKI KAM (Apostolat Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Medan) dengan pengurus yang lengkap dan dimoderatori oleh seorang imam. Dan di tingkat paroki disebut AKIP (Apostolat Kerahiman Ilahi Paroki) juga lengkap dengan pengurusnya di tingkat paroki, dan parokus atau pastor yang dia hunjuk disebut sebagai spiritual director.
Hampir 19 tahun kelompok doa ini sudah berjalan di KAM, dan sekarang telah ada 13 paroki yang sudah dilantik kepengurusannya (7 paroki berada di kota Medan) yang lainnya adalah Paroki Gembala Baik-Lubuk Pakam, Santo Yoseph-Tebingtinggi, Santo Laurentius-Pematangsiantar, Santo Yoseph Jalan Bali-Pematangsiantar, Kristus Raja-Perdagangan, Santa Maria-Tarutung (si bungsu AKIP).
Apa saja kegiatannya?
Inti devosi dari AKI yang sangat fundamental ialah: mengandalkan Tuhan dan Berbelaskasih kepada sesama. 1) Mengandalkan Tuhan berarti percaya, bersandar, yakin akan kasih Tuhan sepenuhnya. Sebab kita punya keyakinan bahwa Tuhan mencintai manusia tanpa pamrih, dan Ia selalu menolong manusia yang membutuhkan pertolongan. Hal itu sangat nampak dalam kekuatan doa Faustina kepada Yesus, Jesus I trust in You = Yesus Engkaulah Andalan ku. 2) Berbelas kasih kepada sesama. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mt 25:40). Sabda Tuhan ini diartikan oleh Faustina ketika dia mendapat vision dari Yesus: ”Aku mau agar engkau melaksanakan perbuatan-perbuatan kerahiman yang harus muncul dari kasih kepada-Ku. Kapan saja dan dimana saja, engkau harus mengamalkan belaskasihan kepada sesama. Engkau tidak boleh menghindarinya atau berusaha mencari-cari dalih untuk membebaskan diri darinya.” Ada tiga cara berbelas kasih yang ditunjukkan oleh Yesus yakni: perbuatan, perkataan dan doa. Dalam tiga cara inilah tercakup sepenuhnya karya belas kasih, dan semua itu dirasakan oleh Faustina sebagai bukti kasih nya kepada Yesus yang tak dapat dibantah.
Maka seorang devosan Kerahiman ilahi wajib melaksanakan hal-hal berikut: berdoa koronka, menghormati gambar kerahiman ilahi, merayakan pesta Kerahiman Ilahi dan mendoakan Novena Kerahiman Ilahi (dimulai pada hari Jumat Agung s/d Minggu Paska II), berdoa pada saat jam kerahiman yakni pukul 15.00 dan menyebarluaskan devosi ini kepada semua orang di dunia ini. Setelah mereka sendiri berdoa di kelompoknya, diharapkan di Paroki mereka juga menjadi pendoa bagi orang lain, seperti berdoa untuk orang sakit, mengunjungi mereka, berdoa bagi orang yang meninggal.
Penutup
Demikian gerakan apostolat kerahiman ilahi ini sunguh berkembang bukan hanya di keuskupan kita ini saja, tetapi juga keuskupan di Indonesiai dan di Asia dan dunia. Semoga paroki-paroki lain juga tergerak membentuk Kelompok Apostolat Kerahiman Ilahi (AKIP), sehingga semakin banyak orang yang mengenal Kerahiman Allah melalui spirit Santa Faustina. ”Ketika kudapati diriku hampir mati, aku melihat Tuhan dan Ia berkata kepadaku, ’Jangan takut Putri-Ku, Aku menyertaimu. Seketika itu juga, semua kegelapan dan siksaan itu lenyap, perasaanku dipenuhi dengan sukacita yang tak terperikan dan jiwaku penuh dengan damai dan tenang.”