
Ciuman sebagai salam persahabatan Paus Leo XIV dan Mohamed Mamoun Al Qasiani,imam mesjid Raya Aljaziar pada 13 April 2026
Saat Paus Leo XIV menutup Perjalanan Apostoliknya ke Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa, Kardinal George J. Koovakad, Prefek Dikasteri untuk Dialog Antaragama, merefleksikan gagasan Paus bahwa agama dapat menjadi jalan istimewa untuk membangun keadilan, stabilitas sosial, dan hidup berdampingan secara damai di antara bangsa-bangsa.
Oleh Kardinal George J. Koovakad
Peristiwa-peristiwa antaragama dalam perjalanan ini memiliki makna khusus, terutama di Aljazair dan Kamerun, tetapi juga dalam pidato Paus kepada otoritas sipil dan korps diplomatik di Angola serta Guinea Khatulistiwa.
Paus menyampaikan visi yang utuh mengenai dialog antaragama sebagai jalan utama menuju perdamaian, rekonsiliasi, dan stabilitas sosial. Seluruh rangkaian perjalanan ini menunjukkan satu benang merah yang menyatukan, di mana simbol dan kata-kata berpadu dalam perspektif teologis dan pastoral yang sama.
Aljazair: Membangun Jembatan dan Rekonsiliasi
Di Aljazair, perjalanan ini sejak awal diarahkan untuk membangun jembatan dan rekonsiliasi. Paus menyebutnya sebagai “kesempatan berharga untuk menyampaikan pesan yang sama: memajukan perdamaian, rekonsiliasi, rasa hormat, dan kepedulian terhadap semua bangsa,” sambil merujuk Santo Agustinus sebagai “jembatan penting dalam dialog antaragama.”
Dalam pidatonya kepada otoritas sipil di Aljir, Paus menempatkan persaudaraan universal sebagai pusat: “kita adalah saudara dan saudari karena memiliki Bapa yang sama di surga,” menegaskan bahwa iman dapat menjadi prinsip pemersatu yang mendukung keadilan, solidaritas, dan perdamaian.
Hal ini diwujudkan secara konkret melalui berbagai gestur, termasuk kunjungan ke Masjid Agung, di mana ia menegaskan kembali “martabat setiap manusia” serta pentingnya hidup dalam harmoni. Pesan yang ia tulis dalam buku kehormatan merangkum visinya: “Semoga belas kasih Yang Mahatinggi menjaga rakyat Aljazair dan seluruh keluarga manusia dalam damai dan kebebasan.”
Di Basilika Bunda Maria dari Afrika, dialog antaragama digambarkan sebagai sesuatu yang nyata dan sehari-hari: iman “tidak mengisolasi, tetapi membuka; menyatukan tanpa mencampuradukkan; mendekatkan tanpa menyeragamkan.”
Di Annaba, perspektif Santo Agustinus memperdalam dimensi spiritual perjalanan ini, menghubungkan pencarian akan Tuhan dengan pembangunan perdamaian dan kasih: “iman kepada satu Allah… menyatukan manusia dalam keadilan yang sempurna, yang memanggil semua orang kepada kasih.”
Kamerun: Agama sebagai Kekuatan Perdamaian
Di Kamerun, dalam konteks krisis Anglophone yang tidak berkembang menjadi konflik agama, Paus menyoroti peran positif agama ketika tidak dirusak oleh “racun fundamentalisme.”
Ia mengajak semua pihak untuk “menolak logika kekerasan dan perang” serta merangkul “perdamaian yang tanpa senjata dan melucuti,” sambil menekankan tanggung jawab bersama antara negara dan pemimpin agama dalam mencegah konflik.
Momen paling penting terjadi di Bamenda, di mana pemimpin Kristen, Muslim, dan tradisional memberikan kesaksian nyata tentang persaudaraan. Seorang imam menyatakan syukur bahwa krisis tersebut tidak berubah menjadi perang agama. Paus menyebut Gerakan Perdamaian sebagai “model bagi dunia,” sekaligus memperingatkan bahaya manipulasi agama demi kepentingan pribadi.
Pertemuan ini menunjukkan bahwa dialog antaragama dapat lahir dari pengalaman penderitaan bersama dan berkembang menjadi jalan rekonsiliasi.
Angola dan Guinea Khatulistiwa: Perspektif Lebih Luas
Di Angola, dalam pidatonya kepada korps diplomatik, Paus memperluas perspektif ke seluruh Afrika, menyoroti tantangan konflik dan perpecahan. Ia menegaskan bahwa “Afrika sangat membutuhkan untuk mengatasi dinamika permusuhan… hanya dalam perjumpaanlah kehidupan berkembang. Dialog adalah langkah pertama.”
Ia juga menegaskan kesinambungan ajaran dengan Paus Fransiskus, khususnya mengenai pentingnya dialog dan perdamaian.
Di Guinea Khatulistiwa, Paus menekankan nilai-nilai bersama seperti pembentukan hati nurani dan kepentingan bersama. Ia menyatakan bahwa “dunia yang terluka oleh kesombongan membuat manusia lapar dan haus akan keadilan,” serta menggemakan seruan Paus Fransiskus untuk menolak “ekonomi eksklusi dan ketimpangan.”
Kesimpulan: Dialog Antaragama sebagai Jalan Masa Depan
Secara keseluruhan, perjalanan ini menegaskan kembali warisan Paus Fransiskus tentang persaudaraan universal dan penghormatan sejati terhadap setiap manusia.
Tema-tema utama yang muncul meliputi:
- Persaudaraan sebagai dasar hidup bersama
- Penolakan terhadap penyalahgunaan agama
- Peran penting pemimpin agama dalam meredakan konflik
Pengalaman di berbagai negara tersebut bukanlah peristiwa yang terpisah, melainkan bagian dari satu visi terpadu: dialog antaragama sebagai jalan konkret untuk membangun perdamaian, keadilan, dan kehidupan bersama yang harmonis di dunia masa kini. (VATICAN NEWS,23 April 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr