
Pastor Samie Alrafayne asal Sudan saat hadir dalam pertemuan Tarekat Hidup Bakti, imam dan Uskup dalam pertemuan dengan Paus Leo XIV pada 20 April 2026.
Oleh Claudia Torres- Luanda, Angola
LUANDA, Angola— Seorang imam asal Sudan yang telah lama melayani di Angola, Pastor Samir Alrafayne, menyerukan perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di negaranya. Ia menilai pesan perdamaian dari Paus Leo XIV sangat dibutuhkan oleh rakyat Sudan yang telah lama dilanda konflik.
Seruan tersebut disampaikan Pastor Samir di sela kunjungan apostolik Paus Leo ke Angola. Dalam Misa Kudus yang digelar di Kilamba, Luanda, pada 19 April, Paus menekankan pentingnya membangun masyarakat yang melampaui perpecahan lama, menghapus kebencian dan kekerasan, serta memperkuat keadilan dan solidaritas.
“Adalah mungkin untuk bersama-sama membangun sebuah negara di mana perpecahan lama diatasi, kebencian dan kekerasan lenyap, serta korupsi disembuhkan melalui budaya keadilan dan berbagi,” demikian pesan Paus yang menurut Pastor Samir sangat menyentuh.
Pastor Samir, yang telah berada di Angola selama 13 tahun dan ditahbiskan sebagai imam empat tahun lalu setelah menempuh pendidikan di Seminari Redemptoris Mater di Luanda, kini melayani sebagai imam di Keuskupan Agung Luanda.
Tantangan sosial dan evangelisasi
Dalam wawancara dengan Vatican News, ia menyebut kunjungan Paus membawa harapan bagi masyarakat Angola yang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Selain itu, ia menyoroti munculnya sekte-sekte baru yang dinilai dapat memicu perpecahan dalam keluarga.
“Kami membutuhkan Bapa Suci sebagai Petrus untuk meneguhkan iman kami,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Paus membawa sukacita dan rahmat bagi masyarakat setempat.
Mengacu pada sejarah perang di Angola, Pastor Samir menekankan pentingnya semangat persaudaraan dan nilai-nilai Kristiani dalam membangun masa depan yang damai.
Sudan butuh perhatian dunia
Lebih jauh, Pastor Samir menegaskan bahwa pesan perdamaian Paus tidak hanya relevan bagi Angola, tetapi juga bagi negara-negara Afrika lain, khususnya Sudan.
Menurutnya, konflik berkepanjangan di Sudan telah menyebabkan jutaan orang mengungsi dan menciptakan krisis kemanusiaan yang belum banyak mendapat perhatian global.
“Sedikit sekali orang yang berbicara tentang Sudan. Padahal, di tengah banyaknya konflik di dunia, Sudan sangat membutuhkan perhatian lebih,” katanya.
Ia mengapresiasi seruan Paus yang berulang kali menekankan “tidak ada lagi perang”. Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan bagi Sudan yang telah lama dilanda konflik.
Dalam tiga tahun terakhir saja, konflik di Sudan disebut telah menyebabkan lebih dari 15 juta orang menjadi pengungsi. Banyak di antara mereka hidup dalam kondisi yang sangat sulit.
“Sudan benar-benar membutuhkan perhatian, bantuan, dan doa,” kata Pastor Samir (VATICAN NEWS, 20 April 2026)