
Paus Leo XIV
Oleh Claudia Torres-Angola
Luanda, Angola — Pope Leo XIV mengakhiri kunjungannya di Kamerun sebagai bagian dari tahap kedua perjalanan apostoliknya di Afrika, sebelum melanjutkan perjalanan ke Angola. Dalam lawatannya, Paus menegaskan pentingnya menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok tertentu.
Sebelum meninggalkan Kamerun pada Sabtu (18/4), Paus memimpin Misa Kudus yang dihadiri sekitar 200.000 umat di Bandara Yaoundé-Ville. Sejumlah umat bahkan telah datang sejak malam sebelumnya, membawa perlengkapan untuk bermalam demi mengikuti perayaan tersebut.
Misa berlangsung meriah dengan menampilkan kekayaan budaya dan bahasa Kamerun. Doa umat dibacakan dalam berbagai bahasa, termasuk Prancis, Inggris, Ewondo, Nnanga, dan Fulfulde.
Dalam homilinya, Paus mengajak umat untuk tidak takut menghadapi berbagai tantangan, terutama yang berkaitan dengan kemiskinan dan keadilan. Ia menekankan perlunya keberanian untuk mengubah pola pikir dan struktur sosial demi menjunjung tinggi martabat manusia serta mengatasi ketimpangan dan marginalisasi.
“Setiap orang dapat memberi dan menerima bantuan sesuai kemampuan dan kebutuhannya,” ujarnya. Ia juga memuji Gereja di Kamerun sebagai komunitas yang hidup, muda, dan penuh semangat dalam keberagaman.
Usai misa, Paus menuju Bandara Internasional Yaoundé-Nsimalen untuk upacara perpisahan singkat sebelum terbang selama sekitar dua setengah jam menuju Angola.
Dalam percakapan dengan jurnalis di pesawat, Paus menegaskan bahwa kehadirannya di Afrika adalah sebagai seorang gembala, untuk merayakan, menguatkan, dan mendampingi umat Katolik. Ia juga menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat masyarakat Kamerun.
Setibanya di Bandara Internasional 4 de Fevereiro di Luanda, Paus disambut meriah oleh warga yang memadati jalan-jalan. Ia kemudian melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Angola, João Lourenço, di Istana Kepresidenan.
Dalam pertemuan lanjutan dengan otoritas negara, perwakilan masyarakat sipil, dan korps diplomatik, Paus menyoroti persoalan eksploitasi sumber daya alam.
Ia mengkritik model pembangunan yang dinilai eksploitatif dan eksklusif. “Berapa banyak penderitaan, korban jiwa, serta kerusakan sosial dan lingkungan yang diakibatkan oleh logika ekstraktivisme ini,” katanya.
Paus mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjadikan Angola sebagai “proyek harapan” yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan bersama.
Setelah agenda resmi, Paus melanjutkan kegiatan dengan pertemuan tertutup bersama para uskup Angola di Nunsiatur Apostolik di Luanda (VATICAN NEWS, 18 April 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr