YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH

2,308 total views, 12 views today

Katekese || Bina Iman || RP Ivo Manullang, OFMCap

Mengapa Yesus dipersembahkan di Bait Allah, sementara Dia adalah Allah?

Sebagai orang Yahudi, Yusuf, Maria dan Yesus tunduk pada tradisi Yahudi. Pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya, Yesus pun disunat dan diberi nama di Bait Allah; dan pada hari keempat-puluh, sesuai dengan ketetapan Kitab Imamat, Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Dalam tradisi Yahudi, mempersembahkan anak laki-laki sulung kepada Tuhan merupakan suatu tindakan iman. Dasarnya ialah hukum Musa, bahwa setiap anak sulung pria harus dikuduskan bagi Tuhan (Kel 13:2). Anak sulung pria itu diakui sebagai milik Tuhan yang harus dikembalikan kepada-Nya. Berdasarkan budaya, orang Yahudi dahulu melaksanakan upacara-upacara tertentu sehubungan dengan kelahiran seorang anak.

Menyunatkan Anak

Dewasa ini banyak orang memraktikkan penyunatan karena alasan kesehatan. Beberapa suku tradisional menyunat bayi pria, sedangkan suku-suku lain pada saat si anak berusia pubertas atau sudah siap untuk menikah. Sebagian besar di antara tradisi-tradisi itu tidak berubah selama berabad-abad, juga oleh orang Yahudi.

Penyunatan dalam tradisi Yahudi menandakan bahwa bayi itu diterima dalam komunitas perjanjian. Dasar perjanjian itu terdapat dalam Kitab Kejadian yakni saat Tuhan berfirman kepada Abraham, “Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat … maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal” (Kej 17:12-13). Oleh karena itu, kebiasaan ini dilaksanakan terus-menerus. Orang yang tidak bersunat dianggap kafir. Ketika kebudayaan Yunani datang ke Palestina dua abad sebelum Kristus, banyak orang Yahudi meninggalkan adat Yahudi. Beberapa orang menjalani operasi yang membuat mereka kelihatan “tidak bersunat” lagi. Hal ini serupa dengan murtad. Hukum Musa tidak menyebutkan siapa yang menyunat seorang bayi. Penyunatan umumnya dilakukan pria dewasa.

Hari keempat-puluh, sesudah melahirkan, seorang wanita Yahudi harus datang ke Bait Allah untuk menjalani upacara pentahiran, karena ibu yang melahirkan itu dianggap nazis selama tujuh hari dan harus menunggu masa pentahirannya selama tiga puluh tiga hari. Ritual penyucian ini adalah untuk pembersihan dari darah nafis (bdk. Im 12:7) agar ibu yang telah melahirkan itu dapat kembali beribadat. Jika yang lahir perempuan, masa itu menjadi dua kali lipat. Selama masa pentahiran itu, seorang ibu tidak boleh menyentuh benda-benda kudus, tidak boleh menginjakkan kakinya di tempat kudus, tidak boleh menghadiri perkumpulan di Bait Allah dan tidak boleh melakukan hubungan intim (Im 12:1-5).

Upacara penyucian ditempuh dengan cara mempersembahkan kurban yang dilakukan oleh imam. Keluarga kaya biasanya menyediakan seekor domba atau kambing yang berumur setahun. Keluarga miskin cukup menyediakan seekor burung merpati atau tekukur. Maria dan Yusuf termasuk keluarga miskin dan karenanya mereka hanya mempersembahkan dua ekor burung merpati yang diserahkan kepada imam untuk dikurbankan sebagai syarat pentahiran bagi Maria dan kurban penebusan bagi bayi Yesus.

Menebus Anak Sulung

Menurut tradisi Yahudi anak sulung manusia maupun hewan adalah kepunyaan Allah, sehingga mereka harus diserahkan kepada-Nya melalui pengudusan. Anak sulung hewan yang tidak nazis dipersembahkan sebagai kurban. Namun pada manusia, anak sulung harus “dikuduskan”, artinya diserahkan untuk pekerjaan dalam tempat kudus, dan suku Lewi secara khusus ditugaskan untuk pekerjaan itu (Bil 3:11-13). Kemudian tradisi penyerahan anak sulung ini diganti atau “ditebus”, artinya dibebaskan dengan bayaran berupa uang atau hewan kurban kepada seorang imam. Dalam Injil Lukas dipakai istilah Yesus dipersembahkan di Bait Allah, tidak ditebus.

Injil Lukas tidak bercerita tentang upacara penebusan itu sendiri dan begitu juga dalam Alkitab, tetapi pada masa para Rabi tata cara yang berikut telah ditetapkan. Peristiwa yang gembira ini dirayakan pada hari ke-31 dari hidup sang anak (apabila hari ke-31 itu jatuh pada hari Sabat, upacaranya ditunda satu hari). Perayaannya diselenggarakan di rumah si bayi, dan dihadiri oleh seorang imam dan tamu-tamu lain. Berikut tata cara upacara penebusan yang dilakukan pada masa para Rabi:

Upacara itu dimulai ketika sang ayah menyerahkan bayi itu kepada imam. Imam bertanya kepada sang ayah, “Apakah engkau ingin menebus anak ini ataukah engkau mau membiarkan dia tinggal bersamaku?” Sang ayah menjawab bahwa ia mau menebus anak itu, lalu ia menyerahkan lima syikal perak kepada imam. Sewaktu bayi itu dikembalikan, sang ayah mengucap syukur kepada Allah. Imam menanggapinya dengan menyatakan kepada sang ayah tiga kali kalimat berikut, “Anak laki-lakimu telah ditebus!” Setelah imam mengucapkan berkat atas bayi itu, ia bergabung dengan para undangan yang lain di meja perjamuan.

Pada peristiwa Yesus dipersembahkan di bait Allah, ditekankan dimensi tradisi dan kerohanian. Saat masih bayi Yesus dibawah ke bait Allah; hal ini berbeda dengan anak sulung yang hanya ditebus di rumah orang tuannya. Pada peristiwa Yesus dipersembahkan di bait Allah, Yesus dibawa ke Yerusalem dan dipersembahkan di bait Allah. Dia dimasukkan dalam tradisi perjanjian bangsa Yahudi dan secara khusus dipersembahkan kepada Allah, sebagai ungkapan ketaatan dan iman kedua orang tua-Nya kepada Allah.

Penginjil Lukas dalam peristiwa Yesus dipersembahkan di bait Allah menonjolkan peran Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf sangat setia pada Hukum Taurat. Hal ini dibuktikan dengan mempersembahkan Yesus kepada Allah. Tindakan mereka dalam menjalankan tradisi itu sekaligus ungkapan iman kepada Allah. Mereka yakin bahwa Yesus adalah milik Allah, karena itu harus dipersembahkan kembali kepada Allah. Peran Maria dan Yusuf dalam peristiwa Yesus dipersembahkan di bait Allah adalah menanamkan tradisi keagamaan mereka sejak dini kepada Yesus; dengan menyunatkan, menamai, mengudukan dan mepersembahkan Yesus di bait Allah, Yesus dimaklumkan sebagai anak sah menurut hukum. Di samping menanamkan tradisi, mereka mendidik Yesus agar siap melaksanakan misi-Nya (ay 40).

Pada saat Yesus dipersembahkan di bait Allah, di sana ada orang yang bernama Simeon. Nama Simeon di Yerusalem pada saat itu umum di antara orang-orang Yahudi. Simeon adalah seorang saleh, bijaksana, serta mengindahkan perintah-perintah Taurat. Oleh karena itu, dia dihormati. Usia Simeon tidak diketahui, tetapi tradisi Kristen memandangnya sebagai orang yang sudah tua. Simeon ini mengharapkan atau menanti-nantikan “penghiburan bagi Israel”. Kata penghiburan dapat mengandung arti suatu keselamatan yang dalam hal ini merujuk pada Mesias yang akan datang dan yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel.  Kuasa Roh Kudus menentukan dan membimbing hidupnya. Simeon mendapat pengalaman rohani yang memberi keyakinan kepadanya bahwa Allah akan membiarkannya hidup sampai ia melihat Mesias dengan matanya sendiri. Hal itu ia alami ketika melihat bayi Yesus saat dipersembahkan di bait Allah. Simeon melihat dalam diri bayi Yesus yang kecil itu tanda-tanda Mesias. Oleh karena itu, ia bersyukur dengan pujian-pujian yang berisi nubuat tentang hidup dan karya Yesus.

Nubuat Simeon ini berisi hal-hal berikut. Pertama, tentang keselamatan “sebab mataku telah melihat keselamatan” (Luk 2:30). Meskipun Yesus berusia 40 hari, Simeon mengenal-Nya sebagai satu-satunya penyelamat umat manusia. Kedua, penggenapan nubuat “yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa” (Luk 2:31). Dalam diri bayi Yesus Simeon melihat bahwa Allah menggenapi janji-Nya seperti dinubuatkan oleh para nabi di Perjanjian Baru. Ketiga, terang bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi “yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain” (Luk 2: 32). Allah ingin menyelamatkan seluruh dunia, karena Dia menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Keempat, kemuliaan Israel “dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu Israel” (Luk 2:32). Israel sungguh dimuliakan, karena merekalah yang akan menerima Putera Allah dan Allah memilih Putera-Nya lahir sebagai teladan manusia sejati di tengah bangsa Israel.

Simeon juga sadar bahwa masa depan kehidupan Yesus suram. Kidung kedua “Tanda yang menimbulkan perbantahan” mengantisipasi pengalaman hidup Yesus di masa dewasa. Yesus memang Tuhan, tetapi ke-Tuhan-Nya tidak kelihatan. Di mana-mana orang akan memandang Yesus pertama-tama sebagai manusia. Dalam situasi ini, dapat diduga nasib Yesus. Ia akan dicintai, tetapi juga dibenci bahkan dibinasakan. Hal ini diungkapkan Simeon dengan kalimat “Menjatuhkan dan menghidupkan”.  Sedang nubuat tentang “Pedang yang menembus jiwa” Maria merupakan gambaran pedang penghakiman yang memilah-milah bahkan ikatan darah kekeluargaan. Relasi yang menentukan antara Maria dan Yesus dalam Lukas bukanlah relasi darah ibu-anak, melainkan murid-guru. Maria berperan menjadi murid sejati, “yang mendengar sabda Allah dan melakukannya” (bdk. Luk 8: 19-21; 11:27-28). Kebesaran Maria terletak dalam cara dia mengambil keputusan untuk menjadi murid, yakni mendengar firman Allah dan melaksanakannya. Keputusan ini membuatnya “terberkati di antara wanita” (Luk 1:42).

Nubuat Simeon ini mengherankan Yusuf dan Maria, sebab Simeon mengungkapkan suatu hal yang belum mereka sadari. Dari Simeon mereka menyadari bahwa Yesus adalah Mesias, pembawa keselamatan dan terang bagi bangsa Israel. Dengan nubuat Simeon ini, mereka diberi tahu, bahwa keselamatan yang dibawa oleh Yesus meliputi segala bangsa. Dengan demikian manusia mengalami keselamatan dan terang Kristus. Manusia tidak hidup dalam kegelapan, melainkan dalam terang keselamatan yang dibawa oleh Yesus dan menjadi manusia baru.

Ada juga nabi wanita yang bernama Hana. Pada saat dia melihat Yesus, ia “mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem” (Luk 2:38). Atas peristiwa di bait Allah itu, Maria dan Yusuf bersukacita, sebab semua itu mengonfirmasi bahwa Yesus adalah Dia yang dijanjikan oleh Allah.

(Redaksi Komsoskam.com mengajak kita semua untuk bersatu melawan Virus Covid-19. Selalu terapkan protokol kesehatan dengan 3 M : Memakai MaskerMenjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan sabun dan air bersih!)

Facebook Comments
Baca juga  Berkata-kata Dalam Bahasa Lain (Bahasa Dari Roh Kudus ?)

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply