Pentingnya Sarana Kerygma dalam Gereja Katolik

1,759 total views, 60 views today

Media cetak menjadi salah satu sasaran paling nyata dari dampak disrupsi. Kini banyak insan lebih nyaman memberdayakan media online untuk menelusur informasi hingga hiburan. Menjemaat, majalah cetak resmi milik Keuskupan Agung Medan, tidak terelakkan tentu juga akan menjalani keadaan yang sama.

Maka, amat menarik untuk membaca buah gagasan dari tulisan Pater Ivo Simanullang OFM Cap ini sebagai salah satu referensi. Sebelumnya, artikel ini telah dimuat di majalah Menjemaat edisi Januari 2020. Semoga boleh memetik ilham darinya.

***

Dalam tulisan ini dibahas dua hal, yakni (1) pentingnya kerygma (pewartaan, pengajaran, pembelajaran) iman Katolik dan (2) Menjemaat sebagai sarana kerygma. Tentu, keduanya ditempatkan dalam konteks umat Katolik di Keuskupan Agung Medan (KAM).

  1. Pentingnya Kerygma

Di antara pancadharma Gereja (kerygma, koinonia, liturgia, diakonia, dan martyria) kerygma menduduki nomor urut pertama (bdk. Kis 2: 42-47). Pengajaran para rasul adalah pelayanan utama para pemimpin jemaat perdana ini. Pertama dan terutama, para rasul mengajar. Lebih khusus lagi, mereka mengajarkan doktrin.  Pelayanan pengajaran mereka membawa kehidupan pada aspek-aspek lain dari Gereja awal. Bukanlah kebetulan bahwa pengajaran merupakan hal yang pertama. Hal itu harus selalu didahulukan. Dalam kehidupan Kristen, ajaran mendahului praktek, doktrin mendahului kewajiban, dan eksposisi sebelum pengalaman. Pengalaman harus selalu diuji oleh doktrin, bukan doktrin berdasarkan pengalaman.

Sebagai kegiatan utama para rasul, kerygma menduduki posisi pertama dan utama karena empat alasan: (a) bermodelkan pelayanan Yesus (Yesus selalu mengajar), (b) diperintahkan dalam perutusan utama (bdk. Mat 28:19-20), (c) dipraktekkan oleh Gereja perdana (bdk. Kis 2:42), dan (d) diperkuat dalam Surat-surat Pastoral (Paulus mendorong Timotius dan Titus untuk mengabdikan diri pada pelayanan mewartakan dan mengajarkan Sabda Allah).

  • Bermodelkan Pelayanan Yesus

Sewaktu para rasul mengajar kawanan pertama ini, mereka mengikuti apa yang telah mereka lihat diperbuat oleh Yesus. Selama lebih tiga tahun mereka telah secara langsung diajar oleh Kristus sendiri dan telah menyaksikan pelayanan publik-Nya. Mereka mengerti arti penting yang Dia tempatkan untuk mengajar. Sejak Kristus memanggil mereka untuk mengikuti-Nya sampai kenaikan-Nya, mengajar adalah pekerjaan utama-Nya. Maka tidak mengagetkan bahwa para murid yang sedang dibina itu mencatat prioritas pengajaran dalam pelayanan-Nya. Sedemikan sentral pelayanan pengajaran-Nya sehingga kedua-belas rasul memanggil-Nya “Guru” (Yoh 13:13) dan Dia menyebut mereka “murid-murid-Nya” (Mat 10: 24-25; Lk 6:40), sebuah kata yang digunakan bagi para murid yang duduk di bawah seorang guru dan menyerap ajarannya. Istilah-istilah semacam itu dengan jelas menunjukkan tempat utama pengajaran dalam pelayanan Kristus.

Ketika Yesus mengaugurasi pelayanan publik-Nya, Dia menegaskan bahwa Dia datang untuk “memberitakan Injil Allah” (Mrk 1:14). Segera setelah itu, Dia masuk ke sinagoga di Nazareth dan membaca dari kitab Yesaya: “Roh Tuhan ada pada-Ku, karena Dia mengurapi Aku untuk memberitakan Injil kepada orang miskin. Dia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada para tawanan” (Lk 4:18). Dengan demikian, Ia menyatakan bahwa pewartaan-Nya memenuhi nubuat Yesaya. Ketika sejumlah besar orang datang kepada-Nya untuk disembuhkan, Dia menarik diri dari mereka, dengan menyatakan, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (Mrk 1:38). Tidak ada apa pun yang akan menghalangi Yesus dari pelayanan utama pewartaan dan pengajaran, bahkan penyembuhan orang sakit dengan belas kasih juga tidak. Ketika orang banyak datang, “Dia mulai mengajar mereka” (Mt 5:1-2). Sepanjang pelayanan publik-Nya proklamasi kebenaran Allah tetap hal yang terpenting. Bahkan malam sebelum disalibkan, Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya di ruang atas yang tertutup dan mengajar mereka (Yoh 13-16).

Baca juga  SERUNYA JUMPA ORANG MUDA MISIONER

Setelah kebangkitan-Nya, fokus pelayanan Yesus tetap sama. Sambil berjalan menuju Emaus, Dia menampakkan diri kepada dua murid dan “menjelaskan kepada mereka hal-hal tentang diri-Nya dalam semua Kitab Suci” (Luk 24:27). Ketika para murid berkumpul di ruang atas, Yesus muncul di tengah-tengah mereka dan “membuka pikiran mereka untuk memahami Kitab Suci” (ayat 45) tentang “segala sesuatu yang ditulis” tentang Dia “dalam Hukum Musa dan para Nabi dan Mazmur” (44). Dan sesaat sebelum Yesus diangkat ke surga, Dia mengajar murid-murid-Nya (Kis 1:1-11).

Semangat sentral ini dalam pelayanan Kristus, yaitu memberitakan dan mengajar, meninggalkan kesan yang mendalam bagi murid-murid-Nya. Di saat kedua belas memulai karya pastoral mereka, sebagaimana dinyatakan dalam Kis 2:42, mereka hanya meniru apa yang mereka amati telah diperbuat oleh Yesus. Saat mereka pertama kali menggembalakan Gereja perdana di Yerusalem, mereka segera mulai mengajar, karena hal itulah yang telah dilakukan Yesus. Prioritas lainnya, jika ada, akan merupakan pelencengan dari contoh konsisten yang telah diperbuat oleh Yesus dalam pelayanan-Nya dan yang telah disaksikan oleh para murid.

(b)     Diperintahkan dalam Perutusan Utama

Para murid mengajar umat beriman yang baru sebab Yesus telah memerintahkan hal itu untuk mereka lakukan sebagaimana ditulis dalam Matius 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Dalam perutusan pelayanan ini, kewajiban utama mereka adalah pergi, menjadikan murid, membaptis dan mengajar, berpuncak dalam perintah terakhir (mengajar) sebab mereka harus memberikan doktrin umat beriman yang baru dalam segala hal yang telah diajarkan oleh Yesus. Sebagaimana Yesus telah mengajar mereka, demikian Dia menuntun mereka untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Pengajaran sedemikan mendasaar dalam perutusan utama sehingga Yesus menyebut pengikutnya “murid-murid”. Tujuan utama para rasul adalah untuk membuat pembelajar, bukan orang-orang yang beribadah, memecah roti, atau pendoa. Meskipun disiplin-disiplin spiritual ini tidak dapat disangkal penting, mereka akan menjadi kenyataan hanya karena para pengikut baru ini pertama kali diajarkan kebenaran-kebenaran esensial dari iman Kristen. Jadi dalam ketaatan pada apa yang telah diperintahkan Kristus dalam perutusan utama, para rasul mengajar orang-orang beriman yang baru.

  • Dipraktekan dalam Gereja Perdana

Fakta bahwa orang beriman yang baru “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul” (Kis. 2:42) menyiratkan bahwa para rasul mengajar secara teratur dan berkelanjutan (on a regular, ongoing basis). Pelayanan pengajaran para rasul disebutkan lebih sering daripada kegiatan lain di mana mereka terlibat (2:42; 3:11-26; 4:1-2, 8-12,19-20,31,33; 5:20-21,29-32, 42; 6:2,4,7,11,13-14; 7:1-53) Begitu besarnya bukti ini sehingga dapat dikatakan bahwa Kisah Para Rasul terutama merupakan rekaman pewartaan dan pengajaran apostolik.

Baca juga  Kriswanto Ginting: “Meluhurkan Budaya, Salah Satunya Melalui Museum”

Tidak soal di mana mereka berada, para rasul ini berkhotbah. Baik di Portiko Salomo (3:11-26; 5:20,42), dalam pertemuan umum (4:2,33), di depan Sanhédrin (4:8-12; 5:28-32), atau dari rumah ke rumah (5:42), mereka dengan berani mengajar dalam nama Kristus. Bahkan dalam menghadapi bahaya yang mengancam kehidupan, para rasul menolak untuk dibungkam dengan menyatakan, “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (4:20). Ketika tuntutan pelayanan semakin kompleks, mereka tidak bakal meninggalkan tugas utama mengajar mereka. Mereka berkata, “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan pewartaan Sabda Allah untuk melayani meja (6:2). Yang paling menonjol, ketika ekspansi pelayanan mereka mengalami keberhasilan, hal itu diukur dalam hal penyebaran “firman Allah” (ayat 7). Demikian pula, ketika orang-orang yang mereka ajar – pria seperti Stefanus dan Filipus – didorong untuk melayani, mereka pada gilirannya mengajarkan “firman” dengan keefektifan luar biasa (7:2-50; 8:5,25,35,40). Faktanya, para murid pertama memenuhi seluruh Yerusalem dengan pengajaran mereka (5:28). Tidak salah lagi, pengajaran para rasul adalah hal paling penting dalam Gereja perdana.

  • Diteguhkan dalam Surat-surat Pastoral

Keunggulan pengajaran para rasul secara permanen dilestarikan oleh tempat utamanya dalam Surat-surat Pastoral. Paulus mendorong Timotius dan Titus untuk mengabdikan diri pada pelayanan mewartakan dan mengajarkan Firman Allah. Tugas pertama yang dibebankan oleh Paulus asisten mudanya adalah untuk “mengajar” gereja (1Tim 1:3), yang merupakan “tiang penopang dan dasar kebenaran” (3:15). Timotius harus “terdidik dalam soal-soal pokok iman dan dalam ajaran yang sehat” (4:6), memberitakan dan mengajarkan semua hal itu (ayat 11). Dia harus “bertekun dalam membaca Kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar” (ayat 13), tidak lalai dalam mempergunakan “karunia” (ayat 14). Menurut Paulus, para penatua harus berjerih payah “berkhotbah dan mengajar” (5:17), menasihati (6:17) dan menjaga kebenaran (ayat 20).

Dalam 2 Timotius Paulus memperkuat hal yang sama dengan putranya yang masih muda dalam iman. Dia harus “memegang segala sesuatu sebagai contoh ajaran yang sehat” (2Tim 1:13), “memeliharanya” (ayat 14), dan “mempercayakannya” kepada orang lain (2: 2). Dia harus “mengingatkan” orang lain tentang kebenaran (ayat 14), “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (ayat 15), dan “cakap mengajar” (ayat 24). Timotius harus “memberitakan firman, menyatakan apa yang salah, menegor dan menasehati dengan segala kesabaran dan pengajaran” (4:2). Paulus juga mendorong Titus untuk melayani Sabda Allah. Penatua dan penilik jemaat harus “sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran yang sehat dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya” (Titus 1:9). Dia memberi tahu Titus agar ia “memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (2: 1). Jadi dalam tiga Surat Pastoral ini rasul Paulus menegaskan tanggung jawab utama dari pelayanan – untuk menyebarluaskan ajaran para rasul.

 

 

KERYGMA & MENJEMAAT KAM BAGIAN 1

Penulis:

RP. Ivo Simanullang OFM Cap (Direktur STFT Pematangsiantar

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply