
R
LEMBATA – Umat Katolik di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, berduka atas wafatnya misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), RP. Nicholas Strawn, SVD, yang selama lebih dari enam dekade mengabdikan hidupnya bagi masyarakat setempat. Imam asal Amerika Serikat itu dikenang sebagai gembala yang sederhana, murah senyum, dan hidup sangat dekat dengan umat.
Romo Nicholas Strawn, yang akrab disapa Pater Niko, meninggal dunia di Rumah Sakit Bukit Lewoleba, Lembata, pada 4 Agustus 2026, dalam usia 92 tahun.
Romo Niko tiba di Indonesia pada tahun 1963, ketika berusia 29 tahun. Sebagian besar masa pelayanannya dijalani di Keuskupan Larantuka, terutama di Paroki Hati Kudus Yesus Lerek dan Paroki Santo Yosef Boto, Kabupaten Lembata.
Menurut Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD), wafatnya Romo Strawn menandai berakhirnya sebuah era, yakni masa ketika para misionaris asing memainkan peran besar dalam mewartakan Injil dan membangun kehidupan iman masyarakat di Pulau Lembata.
Anselmus Deri, seorang umat Katolik sekaligus jurnalis asal Lembata, mengenang Romo Niko sebagai imam yang sangat dekat dengan masyarakat.
“Kami mengenangnya sebagai imam yang selalu hadir di tengah umat. Ia rela mengunjungi daerah-daerah terpencil, menyapa kami dengan hangat, dan terus mendorong kami agar rajin belajar,” ujar Deri kepada UCA News.
Menurut Deri, setiap selesai merayakan Misa, Romo Niko kerap mengundang kaum muda ke pastoran. Di sana ia membacakan berbagai kisah dari majalah-majalah internasional agar mereka mengenal dunia yang lebih luas.
“Belakangan saya menyadari bahwa pengalaman itu ikut membentuk kami menjadi penulis dan jurnalis. Puluhan penulis dan wartawan berasal dari Paroki Santo Yosef Boto,” katanya.
Kepedulian Romo Niko juga tampak dalam perhatiannya terhadap pendidikan. Ia tidak segan meminjamkan uang kepada para siswa yang kesulitan membayar biaya sekolah.
“Sebagian dari mereka kemudian mengembalikannya dengan hasil ternak atau hasil buruan, seperti babi, daging rusa, maupun ayam,” tutur Deri.
Selain membina kaum muda, kesaksian hidup Romo Niko juga melahirkan banyak panggilan hidup membiara dan imamat. Selama 24 tahun melayani di Paroki Hati Kudus Yesus Lerek, paroki tersebut telah menghasilkan sekitar 50 imam, termasuk Uskup Emeritus Jayapura dari Ordo Fransiskan, Leo Laba Ladjar, serta puluhan biarawati.
Peneliti dan etnografer asal Lembata yang kini menetap di Melbourne, Australia, Justin Wejak, mengaku pertama kali bertemu Romo Niko pada tahun 1970-an ketika imam tersebut datang ke Stasi Lewokukung, Paroki Kalikasa, untuk merayakan Misa bulanan.
Hubungan mereka semakin dekat ketika Wejak belajar di Seminari San Dominggo Hokeng pada awal 1980-an. Ia mengenang Romo Niko sebagai imam yang selalu mendorong para seminaris untuk tekun belajar dan setia berdoa.
Menurut Wejak, banyak umat Katolik di Lembata mengenang Romo Niko karena senyumannya yang tulus, gaya hidupnya yang sederhana, serta kemampuannya membuat umat merasa dekat dengan Gereja.
Romo Nicholas Strawn lahir pada 24 September 1934 di Oelwein, Iowa, Amerika Serikat. Ia mulai berkarya di Paroki Hati Kudus Yesus Lerek pada Februari 1964, sebelum kemudian dipindahkan ke Paroki Santo Yosef Boto pada 1987.
Pulau Lembata berada dalam wilayah Keuskupan Larantuka, yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, serta Pulau Adonara dan Pulau Solor.
Berdasarkan data resmi Gereja tahun 2023, Keuskupan Larantuka memiliki sekitar 226.821 umat Katolik dari total penduduk 277.505 jiwa, menjadikannya salah satu wilayah dengan persentase umat Katolik tertinggi di Indonesia.
Wafatnya Romo Nicholas Strawn menutup babak panjang pengabdian seorang misionaris yang tidak hanya membangun Gereja, tetapi juga membentuk kualitas pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan sosial masyarakat Lembata. Bagi banyak orang, warisan terbesarnya bukan hanya bangunan gereja, melainkan manusia-manusia yang tumbuh dalam iman, pendidikan, dan semangat melayani sesama.
(Reporter UCA NEWS,05 Agustus 2026)