Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Jumat Pekan Biasa XVIII

Nah 2:1, 3; 3:1–3, 6–7; Ul 32:35cd–36ab, 39abcd, 41; Mat 16:24–28

Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Sehari setelah Gereja merayakan Transfigurasi Tuhan, ketika para murid menyaksikan kemuliaan Yesus di atas Gunung Tabor, hari ini Yesus langsung mengajak mereka turun ke lembah kehidupan. Jika kemarin mereka mendengar suara Bapa, “Dengarkanlah Dia,” hari ini mereka mendengar isi suara Putra itu sendiri: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” Seolah-olah Yesus ingin mengatakan bahwa jalan menuju kemuliaan tidak pernah melewati kenyamanan, melainkan selalu melalui salib. Tabor dan Kalvari tidak dapat dipisahkan; kemuliaan dan pengorbanan adalah dua sisi dari satu perjalanan iman.

Sabda Yesus ini sangat bertentangan dengan cara berpikir dunia. Dunia berkata, “Selamatkan dirimu, utamakan dirimu, kumpulkan sebanyak mungkin untuk dirimu.” Sebaliknya, Yesus berkata, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Ini bukan ajakan untuk membenci hidup, melainkan undangan untuk mengubah pusat hidup kita. Orang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri akhirnya kehilangan makna hidup. Sebaliknya, orang yang berani memberikan hidupnya demi Allah dan sesama justru menemukan sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Salib bukanlah lambang kekalahan, melainkan lambang kasih yang rela berkorban.

Bacaan pertama dari Kitab Nahum memperlihatkan akibat dari hidup yang dibangun atas kesombongan, kekerasan, dan ketidakadilan. Kota Niniwe yang tampak kuat akhirnya runtuh karena menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan sebagai sarana melayani. Firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak ada kejayaan yang bertahan bila tidak dibangun di atas kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, mereka yang rendah hati dan percaya kepada Tuhan akan dipulihkan oleh-Nya. Pesan Nahum tetap relevan bagi zaman kita: bangsa, lembaga, keluarga, bahkan pribadi akan kehilangan arah bila lebih mengejar kekuasaan daripada kebenaran.

Sabda Yesus hari ini juga merupakan undangan untuk melakukan pertobatan cara hidup. Menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri, tetapi berani mengatakan “tidak” terhadap egoisme, kesombongan, dendam, kerakusan, dan keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian. Memikul salib bukan berarti mencari penderitaan, melainkan dengan setia memikul tanggung jawab sebagai suami atau istri, imam, religius, orang tua, pekerja, atau pelayan Gereja, meskipun sering kali harus berkorban. Mengikuti Kristus berarti menjadikan kasih sebagai ukuran setiap keputusan, bukan keuntungan pribadi.

Dalam semangat Gereja Sinodal, Sabda ini juga mengingatkan bahwa berjalan bersama selalu menuntut penyangkalan diri. Kita tidak mungkin membangun persekutuan jika setiap orang hanya mempertahankan pendapatnya sendiri. Mendengarkan sesama, memberi ruang bagi orang lain, mengampuni, berdialog, dan mencari kehendak Allah bersama adalah bentuk nyata memikul salib dalam kehidupan Gereja. Salib Kristus menjadi jembatan yang mempersatukan, bukan tembok yang memisahkan. Orang yang mau kehilangan ego demi persaudaraan akan menemukan sukacita persekutuan yang sejati.

Saudara-saudari, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apa salib yang Tuhan percayakan kepada saya hari ini? Ego apa yang harus saya tinggalkan? Kasih apa yang harus saya wujudkan? Semoga Ekaristi yang kita rayakan memberi kita kekuatan untuk mengikuti Kristus dengan setia. Sebab, pada akhirnya, bukan harta, jabatan, atau keberhasilan yang akan menyelamatkan kita, melainkan kasih yang diwujudkan dalam kesetiaan memikul salib bersama Kristus. Dengan demikian, ketika kemuliaan Tuhan dinyatakan sepenuhnya, kita pun diperkenankan mengambil bagian dalam sukacita Kerajaan-Nya.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com