
Peringatan St. Dominikus, Imam
Hab 1:12–2:4; Mzm 9; Mat 17:14–20
Iman Sebesar Biji Sesawi: Kecil, Kuat, dan Berbuah
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com|| Ada sebuah paradoks dalam Injil hari ini. Seorang ayah datang kepada Yesus membawa anaknya yang sangat menderita. Para murid telah berusaha menolongnya, tetapi gagal. Ketika mereka bertanya mengapa mereka tidak berhasil, Yesus tidak memberikan penjelasan yang rumit. Ia hanya berkata, “Karena kamu kurang percaya.” Kemudian Yesus menambahkan sesuatu yang mengejutkan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: pindahlah, maka gunung ini akan pindah.” Mengapa Yesus tidak mengatakan “iman sebesar gunung”, tetapi justru “iman sebesar biji sesawi”? Karena Yesus ingin mengajarkan bahwa Allah tidak melihat besar kecilnya iman menurut ukuran manusia, melainkan apakah iman itu sungguh hidup.
Biji sesawi hampir tidak terlihat. Orang dapat dengan mudah mengabaikannya karena ukurannya yang sangat kecil. Namun justru di dalam biji yang kecil itu tersimpan kekuatan kehidupan yang luar biasa. Demikian pula iman. Allah tidak meminta kita menjadi orang yang luar biasa di mata dunia. Allah hanya meminta hati yang mau percaya. St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa iman seperti biji sesawi memiliki tiga ciri yang patut kita renungkan. Pertama, iman itu kecil karena rendah hati. Orang yang sungguh beriman tidak sibuk menunjukkan dirinya hebat. Ia sadar bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Ia tidak mengandalkan kekayaan, jabatan, kecerdasan, atau kekuasaannya, tetapi bersandar pada rahmat Tuhan. Justru kerendahan hati itulah yang membuka ruang bagi Allah untuk berkarya.
Kedua, iman itu kuat karena tetap hidup ketika diuji. Sebuah biji harus jatuh ke tanah, tertutup lumpur, bahkan seolah-olah “mati” sebelum akhirnya bertumbuh. Demikian pula iman kita. Iman yang tidak pernah diuji akan tetap dangkal. Tetapi ketika kita menghadapi penyakit, kegagalan, fitnah, kehilangan orang yang kita kasihi, atau doa yang belum dijawab, di situlah akar iman kita semakin masuk ke dalam. Habakuk dalam bacaan pertama mengalami kebingungan melihat kejahatan seolah-olah menang. Namun ia memilih tetap berdiri menantikan Tuhan. Ia belajar bahwa orang benar hidup bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena tetap percaya kepada Allah. Iman yang bertahan dalam pencobaan justru menjadi semakin kokoh.
Ketiga, iman itu subur karena menghasilkan buah kasih. Pohon tidak dinilai dari besarnya benih, tetapi dari buah yang dihasilkannya. Demikian pula iman. Yesus tidak pernah mengatakan, “Lihatlah betapa besar imanmu.” Sebaliknya, Ia melihat apakah iman itu menghasilkan kesabaran, pengampunan, pelayanan, kejujuran, kepedulian kepada sesama, dan pengharapan. Iman yang hanya berhenti pada doa dan kata-kata belumlah lengkap. St. Yakobus berkata, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Maka ukuran iman bukanlah berapa banyak doa yang kita ucapkan, tetapi seberapa besar kasih yang lahir dari doa itu.
Saudara-saudari, dunia kita sering mengagumi hal-hal yang besar: gedung yang megah, kekuasaan yang luas, pengikut yang banyak, atau pencapaian yang luar biasa. Namun Yesus justru memulai Kerajaan Allah dari sesuatu yang kecil: seorang anak di Betlehem, dua belas murid sederhana, lima roti dan dua ikan, serta biji sesawi yang hampir tidak terlihat. Inilah cara kerja Allah. Ia tidak membutuhkan orang yang merasa paling mampu. Ia mencari orang yang mau dipakai-Nya. Karena itu jangan pernah meremehkan tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan iman: doa seorang ibu untuk anaknya, kejujuran seorang pegawai, kesabaran seorang guru, pengampunan dalam keluarga, kunjungan kepada orang sakit, atau sepotong roti yang dibagikan kepada yang lapar. Di tangan Allah, semuanya dapat menjadi benih yang mengubah dunia.
Hari ini Gereja juga memperingati St. Dominikus, seorang pewarta yang memahami rahasia biji sesawi itu. Ia tidak mengubah Gereja dengan kekuasaan atau paksaan, tetapi dengan doa, kesederhanaan hidup, kecintaan pada Sabda Allah, dan pewartaan yang penuh belas kasih. Ia percaya bahwa satu hati yang sungguh disentuh oleh Sabda Allah dapat melahirkan pembaruan yang jauh lebih besar daripada seribu pidato yang kosong. Santo Dominikus mengajarkan bahwa transformasi Gereja selalu dimulai dari transformasi hati seorang murid Kristus.
Maka marilah kita pulang dengan satu pertanyaan untuk direnungkan: Apakah iman saya masih sekadar pengakuan di bibir, atau sudah menjadi benih kehidupan yang bertumbuh dan menghasilkan buah? Jangan takut jika iman kita terasa kecil. Yang penting, iman itu tetap hidup, terus bertumbuh, dan setiap hari menghasilkan buah kasih. Sebab iman yang kecil tetapi hidup akan sanggup memindahkan “gunung-gunung” dalam hidup kita: gunung egoisme menjadi kerendahan hati, gunung kebencian menjadi pengampunan, gunung keputusasaan menjadi harapan, dan gunung ketakutan menjadi keberanian untuk mengikuti Kristus. Itulah mukjizat terbesar yang ingin dikerjakan Tuhan dalam diri kita.
Amin.