
Umat Katolik sedang berdoa di Gereja Mumbai,India (The mount Maria Church, Mumbai)
Oleh Mikhael Gonsales
Mumbai, India — Sejumlah tokoh lintas agama dan organisasi masyarakat sipil di Mumbai mendesak aparat kepolisian untuk segera menghentikan meningkatnya aksi intimidasi dan serangan terhadap umat Kristen serta kegiatan doa mereka yang diduga dilakukan oleh kelompok-kelompok Hindu garis keras.
Desakan tersebut disampaikan melalui sebuah memorandum yang diserahkan kepada Komisaris Polisi Mumbai dan Komisaris Polisi Bidang Hukum dan Ketertiban pada 2 Juli 2026 oleh delegasi Mumbai for Peace, sebuah forum yang beranggotakan 24 perwakilan dari komunitas Kristen, Muslim, Jain, dan Hindu.
Imam Yesuit Romo Frazer Mascarenhas, aktivis hak asasi manusia sekaligus mantan Kepala St. Xavier’s College Mumbai, menjelaskan bahwa delegasi tersebut memaparkan kepada pihak kepolisian mengenai meningkatnya rangkaian serangan terhadap kelompok-kelompok doa Kristen di Mumbai, kota yang selama ini dikenal sebagai simbol kerukunan dan toleransi antarumat beragama.
Menurut Mascarenhas, ancaman terhadap kelompok doa Kristen dan para pendeta sebenarnya telah meningkat sejak tahun lalu. Berbagai laporan telah disampaikan kepada pihak berwenang, namun tindakan hukum dinilai masih belum memadai.
Menanggapi laporan tersebut, Komisaris Polisi Bidang Hukum dan Ketertiban, Manoj Kumar Sharma, menyatakan bahwa kepolisian akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Sementara itu, juru bicara Bombay Catholic Sabha (Council), Dolphy D’Souza, mengungkapkan bahwa pihaknya menyerahkan salinan selebaran berisi ancaman dari organisasi Sakal Hindu Samaj (All Hindu Society) yang berencana mengganggu sebuah pertemuan doa umat Kristen yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Juli di kawasan Gamdevi, wilayah Vakola, Mumbai.
Menurut laporan harian Free Press Journal yang berbasis di Mumbai, ancaman tersebut berasal dari dua organisasi Hindu nasionalis, yakni Vishwa Hindu Parishad (VHP) dan organisasi kepemudaannya, Bajrang Dal.
D’Souza menilai ancaman tersebut merupakan bentuk intimidasi terbuka terhadap komunitas Kristen yang harus segera dihentikan sebelum berkembang menjadi kekerasan yang lebih luas.
Ia juga mengungkapkan bahwa selama Juni 2026 sedikitnya delapan insiden pembubaran kegiatan doa umat Kristen telah terjadi di berbagai wilayah Mumbai. Dalam memorandum yang disampaikan kepada kepolisian, turut dicantumkan nama sedikitnya delapan orang yang diduga terlibat dalam berbagai aksi pembubaran tersebut.
Salah satu nama yang disebut adalah aktivis Hindu garis keras Ankit Yadav, yang dituduh memimpin sejumlah aksi penyerangan terhadap kegiatan doa Kristen dengan tuduhan bahwa umat Kristen melakukan konversi agama secara paksa dan praktik ilmu hitam.
D’Souza menambahkan bahwa pada 12 Juni lalu Yadav bersama para pendukungnya diduga menyerang sebuah pertemuan doa umat Kristen di kawasan Vasai, dekat Mumbai, bahkan melakukan pemukulan terhadap sejumlah jemaat. Meskipun polisi kemudian membuka penyelidikan dan mendaftarkan perkara tersebut, hingga kini para pelaku disebut belum ditangkap.
Pendiri sekaligus Ketua Yayasan Centre for Study of Society and Secularism, Irfan Engineer, menilai bahwa kelompok-kelompok Hindu radikal semakin berani melakukan aksi-aksi semacam itu karena memperoleh dukungan politik tertentu. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi merusak tradisi kerukunan sosial yang selama ini menjadi ciri khas Mumbai, sekaligus dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan dukungan politik dari pemilih Hindu.
Peristiwa ini kembali menyoroti meningkatnya kekhawatiran berbagai kalangan terhadap kebebasan beragama di India. Tokoh-tokoh lintas agama berharap aparat penegak hukum bertindak tegas dan tidak memihak agar keamanan seluruh warga, tanpa membedakan latar belakang agama, dapat terjamin serta tradisi toleransi yang telah lama hidup di Mumbai tetap terpelihara.(UCA NEWS, 03 Juli 202)