STP St. Bonaventura KAM & Ditjen Bimas Katolik Gelar FGD Bahas Literasi Interreligius sebagai Wadah Toleransi Umat Beragama di Karo

 422 total views,  1 views today

Sekolah Tinggi Pastoral (STP) St. Bonaventura KAM bekerjasama dengan Ditjen Bimas Katolik-Kemenag RI, pada Minggu (24 Juli 2022), mengadakan Purpur Sage bertempat di Balai Desa Barus Jahe, Tanah Karo. Kegiatan ini merupakan wadah Focus Group Discussion (FGD) dengan tema: “Penguatan Toleransi Antar Umat Beragama di Tanah Karo.”

Dalam rilis kepada komsoskam.com, perwakilan STP St. Bonaventura KAM, Aldi Sinulingga mengatakan, fokus pembahasan FGD ini ialah Literasi Interreligius, Toleransi Umat Beragama dan Purpur Sage yang terdapat pada budaya suku Karo.

Dia menyampaikan, kegiatan ini dirancang oleh tim peneliti STP St. Bonaventura KAM. Yang terdiri dari: Ermina Waruwu M.Th., M.Pd, Aldi Alfrianza Sinulingga, M.Th, Dr. Pulumun Peterus Ginting, S.Sn., M.S.

“Kegiatan ini melibatkan perwakilan tokoh agama Islam, Protestan, Katolik, Tokoh budaya dan masyarakat Karo. Selain itu peserta yang terlibat ialah perwakilan umat dan tenaga pendidik baik yang berasal dari agama Islam, Protestan dan juga agama Katolik,” katanya.

“Narasumber dalam FGD ini adalah: Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Karo, Drs. H. Fakhry Samadin Tarigan, S.Ag.; Tokoh Gereja Batak Karo Protestan, Rocky Marchiano Tarigan, S.Si-Teol.,M.Sp,; Ketua Evangelisasi KAM, RP Karolus Sembiring, OFMCap; dan Tokoh Budaya Kabupaten Karo, Jiwa Barus.”

Menurut Aldi, kegiatan ini dilakukan atas latar belakang persoalan berkaitan dengan agama. Semisal. Isu toleransi beragama. Di mana nyaris tiap tahun, masalah intoleransi dan kebencian agama terus terjadi di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia

Baca juga  PASTOR LEO JOOSTEN OFM CAP: SAYA TAK PERNAH BOSAN MENULIS

“Setiap umat atau masyarakat memiliki kemampuan interreligius literacy (IL) yakni seseorang yang menghormati agama, mengerti dan menghormati keragaman agama yang dimiliki oleh orang lain yang berbeda dengan agama yang dianutnya,” terang dosen asal Karo tersebut.

Jadi, imbuhnya, berdasarkan permasalah-permasalahan inilah dibutuhkan adanya literasi interreligius antara umat beragama demi penguatan toleransi antar umat beragama. “Tim peneliti berinisiatif untuk menemukan wadah yakni budaya Purpur Sage agar literasi interreligius dapat dilaksanakan sebagai salah satu strategi dalam membendung permasalahan-permasalahan toleransi beragama.”

Aldi mengatakan, para narasumber ini memaparkan tentang Literasi Inter-religius antar umat beragama menurut perspektif Islam, Prostestan dan Katolik untuk penguatan toleransi beragama. “Selain juga memaparkan budaya Purpur Sage sebagai wadah untuk melaksanakan literasi antar umat beragama.”

Pihak STP St. Bonaventura KAM dan Ditjen Bimas Katolik-Kemenag RI berharap, Literasi Interreligius bisa menjadi wadah untuk mencapai hidup damai secara bersama-sama. “Semoga IL sebagai wadah perjumpaan bagi penganut agama yang berbeda keyakinan untuk untuk saling belajar, dan mengenal perbedaan pengalaman dan belajar untuk mengambil nilai-nilai yang sama dari beragam ajaran agama sehingga dapat hidup damai secara bersama-sama,” pungkas Aldi.

 

(Ananta Bangun)

Facebook Comments

Ananta Bangun

Pegawai Komisi Komsos KAM | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply