NEWS

Kaul Kekal Suster SFMA. Pastor Vikep Pro Religius KAM: “Hati yang Terbuka kepada Suara Panggilan Tuhan”

Loading

Pada peringatan St. Tarsisius, Senin (15 Agustus 2022), Kongregasi Suster Fransiskanes Misionaris dari Assisi (SFMA) bersyukur atas dua saudari yang mengikrarkan kaul kekal, dalam misa kudus yang digelar di Paroki St. Fransiskus Xaverius Simalingkar B. Kedua jubilaris adalah: Sr. Lisnawati Lusiana Tarigan, SFMA (asal Paroki Sta. Katarina Tigajuhar) dan Sr. Dosma Septa Ulina Tampubolon, SFMA (asal Paroki St. Petrus dan Paulus Kabanjahe).

Masing-masing jubilaris mengambil motto “Sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. (Matius 10:16b)” dan “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan (Lukas 17:10b).”

Rangkaian prosesi kaul kekal Sr. Lisnawati dan Sr. Dosma diawali dengan pengucapan doa Litani Para Kudus dan barulah kemudian dilakukan pengucapan triprasetya kekal. Pengucapan kaul kekal ini terjadi di hadapan wakil Gereja, yakni Vikep Pro Religius Keuskupan Agung Medan, RP Romualdus Nairun,CMF dan Pimpinan SFMA Delegasi Indonesia, Sr. Christina Hur, SFMA.

Dalam khotbahnya, Pastor Romi (nama sapaannya), menyampaikan bahwa kisah panggilan Nabi Samuel dalam bacaan pertama sungguh terkait momen syukur kaul kekal saudari Kongregasi SFMA. “Kisah ini terus bergema dalam hati kita, karena Tuhan selalu memanggil kita. Jawaban Samuel kepada adalah jawaban panggilan yang luar biasa,” katanya.

Dalam pandangan Imam Claretian tersebut, kedua suster yang menyatakan kaul religius memiliki hati yang terbuka kepada suara panggilan Tuhan. “Kita semua dipanggil untuk menjawab panggilan Tuhan sebagai saudara-saudari. Demikian juga bagi kedua jubilaris, panggilan kamu adalah panggilan Tuhan untuk melayani Tuhan,” imbuhnya.

Baca juga  Pembaharuan Kaul Kapusin, "Mengenal Identias Diri Sebagai Imago Dei”

Dalam kesempatan tersebut, Pastor Romi juga membagikan ilham untuk mengatasi krisis panggilan. “Krisis panggilan masa kini banyak disebabkan oleh perangkat teknologi komunikasi. Lebih sibuk mendengar hape, daripada suara Tuhan melalui doa. Oleh sebab itu, para suster hendaknya tidak lupa untuk berdoa. Tidak cukup dalam doa bersama. Yang penting bagaimana kita dari hati ke hati.”

Peristiwa serah setia seumur hidup (kaul kekal) bagi para suster biarawati merupakan akhir dari seluruh proses formasi. Itulah momen, ketika para suster dinilai layak dan yang bersangkutan berani mengikrarkan diri seumur hidup bergabung di kongregasi atau tarekat religius secara definitif.

(Ananta Bangun)

Facebook Comments

Ananta Bangun

Pegawai Komisi Komsos KAM | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply