Resensi Buku | Hit Refresh

1,504 total views, 1 views today

Komsoskam.com – Medan, Dalam arena persaingan, merebut posisi puncak adalah ihwal biasa. Namun, tantangan lebih besar setelahnya ialah mempertahankan kemenangan itu sendiri. CEO Microsoft, Satya Nadella memaparkan ilham tersebut melalui bukunya “Hit Refresh”. Di dalamnya, dia mengetengahkan bagaimana Microsoft menciptakan revolusi PC dan keberhasilannya melegenda. Namun setelah bertahun-tahun meninggalkan pesaing terjadilah perubahan dalam peta persaingan industri komputer yang membuat perusahaan tersebut tergopoh-gopoh mengejar kompetitornya. “Inovasi tergantikan birokrasi. Kerja tim tergantikan politik internal. Kami mulai tertinggal,” tulis pria kelahiran negeri India tersebut.

Nadella merasa tak nyaman dengan keadaan tersebut. Ketika ditunjuk menjadi CEO Microsoft pada Februari 2014, dia pun menyampaikan kepada para karyawan bahwa prioritas tertinggi dirinya adalah memperbarui budaya perusahaan. Dia menyatakan berkomitmen tanpa ampun menghilangkan penghalang inovasi agar bisa kembali pada niat awal kami kala memasuki perusahaan ini — untuk mengubah dunia.

Dalam buku tersebut, Nadella menilai bahwa mereka akan menyia-nyiakan terlalu banyak waktu dalam pekerjaan bila tak memiliki makna mendalam. Jika seluruh pemangku kepentingan Microsoft mampu menghubungkan apa yang mereka perjuangkan dengan apa yang dilakukan perusahaan, akan ada banyak hal yang bisa dicapai.

“Ketika ditunjuk menjadi CEO Microsoft pada Februari 2014, saya pun menyampaikan kepada para karyawan bahwa prioritas tertinggi saya adalah memperbarui budaya perusahaan. Saya katakan bahwa saya berkomitmen tanpa ampun menghilangkan penghalang inovasi agar bisa kembali pada niat awal kami kala memasuki perusahaan ini — untuk mengubah dunia,” ucapnya dalam buku ini.

Empati menjadi kunci bagi inovasi yang diidamkan Nadella agar tumbuh dalam tubuh Microsoft. Bahkan, pengalaman hidupnya bersama sang Istri, Anu merawat putra sulung mereka, Zain yang menderita cacat karena utero asphyxiation (sesak napas dalam rahim) menjadi salah satu inspirasi empati tersebut. Kondisi Zain menuntut Nadella untuk membangkitkan semangat setiap hari atas gagasan dan empati.

Satu pelajaran yang patut dipetik — menurut Nadella — mustahil menjadi pemimpin berempati dengan duduk seharian di depan layar komputer. “Mustahil menjadi pemimpin berempati dengan duduk seharian di depan layar komputer. Pemimpin berempati harus berada di lapangan, menemui orang-orang di rumahnya dan menyaksikan bagaimana teknologi yang kami ciptakan mempengaruhi aktivitas mereka sehari-hari.”

 

(Eva Barus)

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *