Resensi Buku| Start WIth WHY

147 total views, 7 views today

Komsoskam.com – Medan, Kita tidak memungkiri, pernah bertanya: “Mengapa merek tertentu sepertinya sangat terkenal dibandingkan pesaingnya?” Atau pun “Mengapa satu tokoh tampak lebih menonjol daripada sosok lain?”. Hal tersebut diterangkan dalam buku karya Simon Sinek. Seorang penulis, motivator dan konsultan organisasi asal Inggris.

Dalam kajiannya, Simon mendapati jawaban tersebut ada pada mantra yang dia sebut ‘Lingkaran Emas’. Yakni, memiliki landasan atas pertanyaan MENGAPA, BAGAIMANA, dan APA.

Kebijakan tersebut telah sesuai dengan tahapannya. Maksud Sinek, kegagalan dari kebanyakan bisnis maupun gerakan massa disebabkan buruknya pemahaman akan MENGAPA [tujuan utama], BAGAIMANA [metode penyampaian/ pelaksanaan], hingga APA [hasil akhir berupa produk atau dampak].

Dari pemahaman ini lah dapat dipelajari cara pemimpin besar menginspirasi orang untuk bertindak. Bahkan dia menjadi ciri khas atau wajah yang sangat mudah dikenali. Harlev Davidson untuk kategori sepeda motor gede. Apple sebagai ciri teknologi yang menentang kelaziman. Hingga Martin Luther King sebagai lambang perjuangan hak-hak sipil.

Sungguh mengesankan, bahwa fungsi otak manusia yang terdiri atas Limbik dan Neo Korteks turut mempengaruhi berjalannya mantra Lingkaran Emas tersebut dalam kehidupan manusia sendiri.

“Yang saya maksud dengan MENGAPA adalah tujuan, kepercayaan, atau isu yang kita perjuangkan,” demikian Sinek menegaskan pentingnya penemuan akan tujuan ini melalui lingkaran pertama ‘MENGAPA’.

Baca juga  Jatuh Hati (Sekali Lagi) pada Coelho

Namun, jangan sampai keliru berpikir bahwa hanya dengan penemuan itu saja semua masalah telah usai. Lingkaran emas BAGAIMANA dan APA juga memiliki peran sama vitalnya. Tanpa kelanjutan di tahap berikutnya, perjuangan tersebut akan sia-sia belaka. Sinek menjabarkannya dengan contoh-contoh kasus yang mudah dipahami.

Pada bab akhir, Sinek mengutip sebuah kisah menyentuh. Tentang seorang penyandang selebral palsy [gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak] bernama Ben Comen. Dalam kisah tersebut, diceritakan tentang Ben tengah mengikuti lomba lari atlet normal!

“Apa yang diajarkan oleh Ben Comen kepada kita adalah sesuatu yang istimewa. Ketika kita bersaing melawan semua orang lain, tidak ada yang ingin menolong kita. Tetapi ketika kita bersaing melawan diri sendiri, semua orang ingin menolong. Ben memulai lomba, dengan perasaan yang sangat jelas tentang MENGAPA dia berlari,” tulis Sinek.

 

(Eva Barus)

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *