Fr. Heru: Jadi Penulis Itu Mengasyikkan!

307 total views, 3 views today

Komsoskam.com – Medan, Fr. Nicolaus Heru Andrianto sedang menekuni panggilan sebagai calon imam diosesan untuk Keuskupan Tanjungkarang, di Seminari Tinggi St Petrus Pematangsiantar.  Saat ini masih menempuh pendidikan Teologi di STFT St Yohanes Pematangsiantar.  Di sela-sela aktivitas studi, menikmati dunia tulis-menulis ke beberapa media, lokal dan nasional. Baginya menulis adalah salah satu sarana merawat keabadian.

“Menjadi penulis itu mengasyikkan. Saya mendapat banyak sahabat dengan menulis, meski belum bertatap muka. Namun saya meyadari jaringan persaudaraan juga diperluas. Dengan menulis ide-ide senantiasa mengalir. Sebab saya pernah mencoba untuk tidak menulis, justru ide juga serasa sirna dari keseharian. Maka untuk menjaga hal itu saya akan terus menekuni dunia tulis menulis,” katanya kepada Komsoskam.com via Whatsapp, Senin (24 Oktober 2019).

Saat ini, Fr. Heru dipercaya mengemban peran Pemimpin Redaksi Majalah Petra. “Ini adalah majalah komunikasi yang diterbitkan oleh Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar untuk media pewartaan dan sarana berefleksi bagi para frater, calon imam diosesan region Gerejawi Sumatera,” ucapnya.

Dia menjelaskan, majalah Petra mencoba eksis di tengah gencarnya media online yang setiap saat diakses. “Media ini terbit triwulan sekali. Kendati masih dalam bentuk media cetak, media ini menjadi wadah yang hendak dikembangkan sebagai sarana pastoral menyapa umat Allah. Tema yang disajikan juga tidak hanya seputar Seminari, melainkan Gereja Universal dalam segala dinamikanya.”

Baca juga  Michael Syahputra Purba: Gemar Belajar Komputer, Jadi Gampang Belajar Jurnalistik

Bagi Calon Imam Diosesan Keuskupan Tanjung Karang tersebut, Majalah Menjemaat sebagai media komunikasi di Keuskupan Agung Medan memberi warna tersendiri bagi para frater di Seminari Tinggi.

“Kehadiran Menjemaat juga menambah kekayaan pengetahuan bagi para frater terkait majalah lokal yang harus disimak dan dibaca, apalagi sebagai calon imam diosesan yang akan berkarya di keuskupan. Mengapa demikian? Majalah menjemaat juga mengulas situasi dan peristiwa yang terjadi di seputar keuskupan Medan.  Maka informasi dari media ini harus dibaca dan disadari sebagai bentuk kecintaan terhadap keuskupan dan pastoralnya bagi umat Allah,” imbuh Fr. Heru.

Menurutnya, meski di tengah perkembangan media online, media cetak hendaknya tetap berjuang untuk tetap eksis. “Memang ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pengelola. Namun kita patut bersyukur dengan media semacam ini kita bisa menyapa banyak umat yang ada di berbagai tempat.”

Melalui Komsoskam.com, Fr. Heru juga berbagi kata mutiara yang selalu dia tularkan dalam berbagai kesempatan. “Tarikanlah pena kehidupanmu dan buatlah dunia tersenyum. Ini menjadi usaha dan daya juang, agar setiap peristiwa menjadi sarana pewartaan, lebih-lebih hal baik yang kiranya bisa memberi pengaruh positif demi kemajuan banyak orang, juga dunia. Bagi orang muda di mana saja Anda berada, ringankanlah tangan Anda menorehkan sejarah keabadian dengan menulis,” pungkasnya.

 

(Ananta Bangun)

Fr. Heru dengan salah satu buku karya-nya

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *