Betlehem Ketaren: Semakin Larut dalam Karya Pastoral Komunikasi Sosial

235 total views, 1 views today

Komsoskam.com – Medan, Mengangkat batu dari sungai guna pembangunan gereja itu mulia. Berbicara jelas guna pengembangan Gereja itu juga tak kalah mulianya. Namun bila kita diberi minat menulis, mengapa tidak? Mari mulai menulis, kalau tidak sekarang kapan lagi?” Demikian satu kata mutiara dituturkan oleh Betlehem Kataren dalam satu bincang dengan Komsoskam.com, Sabtu (2 November 2019), via media sosial.

Suami dari Helpina br. Tarigan, mengaku telah lama gemar akan dunia ‘membaca’ dan ‘menulis’. “Hobi tersebut menjadikan saya selalu mendapat rangking sewaktu bersekolah, saya juga mudah menuangkan isi hati dan buah pikiran, semisal: puisi, anekdot, berita maupun artikel. Di samping itu, kegemaran ini juga memudahkan saya bergaul dengan banyak orang,” ujar ayah dari Yolanda Sanjelitha br. Ketaren, Yoga Makarios Ketaren, Yosef Virgious Ketaren dan Yoandectus Ketaren.

Betlehem sehari-hari mengemban peran sebagai sekretaris DPPH St. Fransiskus Assisi Berastagi. Di ranah yang sama, dia juga dipercaya membantu pastor sebagai katekis dan koordinator Katekese Persiapan Perkawinan. “Saya juga mengampu sekretaris Yayasan Pusaka Karo. Selain itu, juga menjadi anggota Sinode VI KAM, dan selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan komisi-komisi: KOMKAT, KKS, KOMKEL, PSE, KOMEV dan terlebih juga KOMLIT di bagian Misale Romawi Karo,” imbuhnya.

Di tengah seabrek kegiatan tersebut, eks Dosen di Universitas Quality ini juga mengisi posisi Redaktur Pelaksana majalah KAM berbahasa Karo, Ralinggungi. “Disamping semua kegiatan-kegiatan itu semua, untuk menyekolahkan anak-anak dan menyejahterakan keluarga, saya bercocok tanam berbagai jenis bunga Krisan serta juga tanaman-tanaman hortikultura.”

Walau mulanya gagap dalam bidang komunikasi sosial, Betlehem tak patah arang untuk mempelajarinya. Malah, dirinya semakin larut dalam karya pastoral ini. “Ketika mulai kuliah di luar Sumatera Utara, saya sangat menyadari kekurangan saya di bidang komunikasi sosial. Ketika disuruh diskusi kelompok apalagi membuat tugas kelompok, saya selalu kewalahan sebab merasa kurang sekali membenahi diri di bidang yang satu ini,” katanya.

Dia kemudian memutuskan bergabung ke PMKRI cabang Palembang. Di organisasi ini, Betlehem mendapat bekal berharga. “Saya senang sekali saat diikutsertakan mengelola buletin kecil. Demikian juga ketika mengikuti tahun Sekolah Porhanger selama tiga tahun. Setiap latihan-latihan kerja kelompok, pleno, maupun tugas-tugasnya, sehingga saya merasa asyik “bermisi melalui tulisan”,” ucapnya, seraya menandaskan bahwa pengalaman itu yang menuntunnya dalam upaya pendirian Ralinggungi.

“Saya sangat meyakini kebenaran dari adagium Latin “Verba Volant, Scripta Manent” (cakap mudah melayang, tulisan relatif tetap). Sebagai seorang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya yang berciri “sastra lisan” saya melihat daya tulisan sangat berguna mengurangi persoalan dalam komunikasi “katanya” dan “katanya”.  Longgarnya modifikasi dalam komunikasi lisan itu terkadang sulit dipertanggungjawabkan dan sering buruk akibatnya,” ucapnya.

Menurutnya, dengan menuliskan peristiwa-peristiwa ke dalam bentuk berita misalnya, selain prosesnya menguatkan ingatan. Maka, bila kemudian dibutuhkan data dan faktanya, akan mudah untuk mencari dokumennya. “Beberapa kali ketika saya disuruh pastor menuliskan panorama paroki, saya sangat terbantu dengan tulisan-tulisan saya baik di Menjemaat maupun di Ralinggungi.”

“Kepada saya juga pernah diingatkan oleh pastor-pastor, terlebih oleh pastor Ignatius Simbolon, OFMCap dan P. Karolus Sembiring, OFMCap bahwa katekis-katekis, guru-guru agama maupun pemuka jemaat yang hanya mengandalkan ingatannya dalam menyampaikan materi ajar,  cenderung pengajarannya tidak terstruktur, tidak sistematis, gersang isi, serta cenderung memunculkan banyak persepsi sendiri dengan perkataan “menurutku” dan “sesuai pengalamanku”,” terang Betlehem.

Dia melanjutkan, keadaan itu membuat proses katekisasi seperti itu membosankan para pendengarnya dan tak jarang mengurangi niatnya datang guna ikut pertemuan. Pihak Gereja juga melihat bahwa bahan-bahan katekese dalam bahasa Karo masih sangat kurang ketersediaannya. “Untuk itu berkat bimbingan dan dorongan kedua pastor tersebut, saya bersama teman alumni Sekolah Porhanger lainnya dan juga tim redaksi Ralinggungi berusaha bekerja keras guna ketersediaan bahan katekese berupa Katekismus Kecil “Mejuah-juah man Bandu” dan Katekismus Orang Muda “Youcat” dalam bahasa Karo.”

 

Apresiasi Karya Komsos KAM

Dalam kesempatan bincang tersebut, Betlehem mengapresiasi karya Komisi Sosial KAM. “Semakin tahun saya lihat semakin maju. Majalah Menjemaat juga sekarang ini selain tampilannya bagus, isinya artikelnya bernas dan sangat penting dan enak untuk dibaca. Para penulisnya beragam, ada pastor, suster dan pemuka awam serta selalu juga ada dari kaula muda,” katanya, dan menambahkan bahwa dirinya dan para kolega di kalangan pengurus Gereja senantiasa membaca berita Gereja KAM melalui komsoskam.com.

“Saya juga mengapresiasi keterlibatan Komisi Sosial KAM dalam pegadaan video Storytelling Kitab Suci bersama KKS KAM. Memang, dalam hati saya merasa di bidang satu ini, pembuatan video-video singkat tentang hubungan kemanusiaan lintas gereja/agama maupun tentang ajaran kekatolikan masih perlu ditingkatkan oleh KOMSOS KAM ke depannya,” ujarnya.

Dia mengakui, keterlibatan dalam pelayanan bidang Komunikasi Sosial di KAM, termasuk dalam menulis budaya Karo di majalah Menjemaat, turut memberi dampak kepada dirinya.

“Seingat saya, pihak keuskupan telah tiga kali berturut-turut memanggil saya menjadi narasumber “Budaya Karo” pada pertemuan Imam dan Biarawan Balita dan Non Native di Pematang Siantar,” katanya. “Saya juga pernah menjadi narasumber di paroki Berastagi, dan pernah diminta Paroki Sta. Perawan Maria Kabajahe maupun Paroki St. Petrus Paulus Kabanjahe, untuk mengisi sesi budaya pada Seminar Inkulturasi. Namun waktunya bersamaan dengan lokakarya yang diadakan Komisi tertentu di KAM.”

Karena aktif menulis isu budaya Karo, menjadi alasan Paroki Berastagi untuk mengutus Betlehem mendampingi RP. Leo Joosten, OFMCap ke Jakarta, pada September 2018. “Keberangkatan tersebut dalam rangka menerima penghargaan sebagai pelestari budaya, sebab saya dianggap bisa membantu pastor itu menjawab pertanyaan seputar budaya Karo. Padahal di sana saya sama sekali tidak ada ditanya pihak. Hahahaha.”

Berbicara mengenai Ralinggungi, Betlehem senang bahwa majalah ini mendekatkan keuskupan dengan umatnya, terutama mereka yang berbahasa ibu bahasa Karo. “Fokus pastoral sebagai gerak bersama juga semakin mudah dipahami karena dibahasakan dengan bahasanya sendiri. Saya juga senang karena semakin banyak pastor paroki bersedia menulis melalui media ini. Demikian juga teman-teman seperti Ananta Bangun dan Eva br. Barus yang senantiasa berkarya pada setiap edisinya, tulisan mana memberikan pencerahan dan menjadi “variasi warna” yang memperkaya isi majalah itu,” pungkas pria kelahiran Kabanjahe 27 Agustus 1966.

 

Eva Barus

Keluarga Betlehem Ketaren

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *