Petrus Hasiholan Dabukke, Pemuda Lintas Agama

132 total views, 2 views today

Petrus atau Sihol, demikian biasa disapa. Nama lengkapnya Petrus Hottua Hasiholan Saragi Dabukke. Pemuda ini lahir di Sumbul tahun 1992 yang lalu. Saat ini sedang menjalani studi pasca sarjana di Unimed, dengan konsentrasi pendidikan kewarganegaraan. Pilihan studinya ini juga memberinya kesempatan untuk ambil bagian dalam aneka dialog maupun kegiatan lintas agama. Salah satu misalnya dengan kegiatan Kopi Toleransi, yang menghadirkan tokoh-tokoh agama dan penganut kepercayaan yang diakui di negara ini. Kegiatan ini mengulas kekinian para pemuka agama dan pemuda dalam menjalankan keyakinan agama yang berbeda-beda. Sihol percaya bahwa dengan kesempatan berinteraksi dan tukar pengalaman, akan terbangun kesadaraan yang benar akan perbedaan agama yang menjadi penopang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Sihol meyakini, dengan dialog lintas Agama, masing-masing penganut keyakinan semakin menyadari bahwa Indonesia bukanlah negara agama, namun agama-agama yang berbeda bisa hidup dengan keragaman masing-masing. Inilah kekhasan Indonesia yang dibangun berdasarkan pancasila.

Sihol juga terlibat aktif dalam beberapa pementasan seni dan budaya. Ketertarikan ini berkembang saat ia mengikuti sanggar Gelora Teater di UK KMK St. Martinus Unimed. Melaui wadah ini, Sihol mampu mengasah bakatnya dalam seni peran dan pementasan. Tak jarang ia juga tampil sebagai pemeran dan sekaligus sutradara. Dengan tekat dan niat untuk berkarya, Sihol menganimasi orang orang muda di kawasan Silalahi Nabolak untuk berkarya dengan event Silahi Sabungan Art Festival. Ia punya pandangan bahwa kebersamaan dalam perbedaan mesti direkatkan dengan karya dan pengalaman bersama.

Sebuah pengalaman berharga yang sangat aktual dengan keadaan bangsa ini ia temukan dalam program INGAGE (interfaith new generation initiative and engagement ) sebuah agenda kebangsaan yang dikembangkan oleh ICRS ( Indonesian Consortium for Religious Studies ). Dalam kesempatan ini, Sihol benar-benar merasa diuji dan dibangunkan. “Kekhatolikan saya sungguh diuji” tuturnya. Ia diajak untuk mengunjungi langsung dan dituntun menemukan keluhuran dalam setiap agama dan kepercayaan. “Ada damai saat kita mengenal mereka dengan baik” tambahnya.

Lebih mengesankan lagi, mereka juga diharuskan live-in dengan memilih agama yang berbeda. Lantas ia pun memilih pesantren guna menjawab penasarannya selama ini.” Apakah pesantren benar dibumbui dengan radikalisme seprti yang kerap diisukan?” Nyatanya, dengan hidup dan tinggal bersama ia merasa sangat akrab dengan anak-anak pesantren. “ Kami bisa saling bertukar pandangan dan pengalaman hidup dengan rukun” tandasnya. Sihol menyadari, keterbatasan pengetahuan dan interaksi sering memberikan persepsi dan asumsi yang berbea dengan kenyataan.

Dengan pengalam ini, Ia pun semakin giat mengorganisir dialog dan melakukan aksi-aksi lintas agama. Menurutnya kehadiran dan keterbukaan pemuka-pemuka agama dalam dialog kebersamaan sangat memberikan teladan bagi kaum muda. “Kegiatan ini tidak hanya penting sebagai bentuk kerukunan umat Allah, namun juga relevan dengan kondisi kebangsaan Indonesia yang sedang direduksi kebhinekaannya” katanya.

Kepada kaula muda katolik, ia mengajak agar keluar dari zona nyaman dan berseru “ Jangan puas hanya menjadi penikmat karya, orang muda harus jadi pekarya”. Ia optimis, anak-anak muda mampu mencipta perubahan dengan jalan kreatif yang damai. “Berkarya menjadi ajang berdialog dan tukar pikiran dan sebagai pengikat rasa kebersamaan meski dalam perbedaan “ ungkapnya.

Dalam waktu dekat ini, ia juga mengajak orang muda/ pelajar untuk terlibat dalam mengangkat budaya Sitolu Huta, Ulos, dan alam Silalahi, lewat Silahi Sabungan Art Festival akan berlanjut dengan pementasan pada 21-23 Juli 2017 di Paropo & Silalahi.

Tulisan ini telah terbit dalam Majalah Menjemaat

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *