
Yer 14:17-22; Mzm 79:8.9.11.13; Mat 13:36-43
Komsoskam.com ||”Kemurnian Gandum Diuji oleh Kehadiran Ilalang”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ketika mendengar penjelasan Yesus tentang gandum dan ilalang, mungkin kita masih bertanya-tanya: mengapa Allah tidak segera melenyapkan ilalang? Bukankah kehadiran ilalang mengganggu pertumbuhan gandum? Bukankah dunia akan menjadi lebih baik jika semua yang jahat segera disingkirkan? Namun Yesus justru berkata: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.” Sekilas jawaban ini tampak aneh. Akan tetapi, di balik kesabaran Allah tersimpan kebijaksanaan yang sangat mendalam.
Salah satu kebijaksanaan itu adalah bahwa kehadiran ilalang justru membuat identitas gandum semakin nyata, semakin teruji, dan semakin murni. Gandum tidak menjadi gandum karena hidup sendirian. Gandum menjadi kuat karena tetap bertumbuh meskipun di sekelilingnya ada ilalang. Kehadiran yang palsu membuat yang asli semakin tampak. Emas dimurnikan dalam api. Demikian pula iman, kasih, dan kesetiaan dimurnikan ketika berhadapan dengan tantangan. Kalau tidak pernah ada orang yang menyakiti kita, bagaimana kita belajar mengampuni? Kalau tidak pernah ada ketidakadilan, bagaimana kita belajar memperjuangkan kebenaran? Kalau tidak pernah ada kebencian, bagaimana kasih kita akan terbukti tulus? Kebaikan bukan sekadar ide, tetapi menjadi nyata ketika diuji oleh kehadiran kejahatan.
Karena itu, orang-orang yang sulit dalam hidup kita sering kali menjadi “alat pemurnian” yang dipakai Tuhan. Rekan kerja yang tidak jujur menguji integritas kita. Orang yang memfitnah menguji kerendahan hati kita. Mereka yang membenci kita menguji apakah kasih kita sungguh berasal dari Kristus atau hanya berlaku bagi orang yang menyenangkan hati kita. Dengan demikian, kejahatan memang tidak berasal dari Allah, tetapi Allah sanggup mengubah situasi yang jahat menjadi kesempatan untuk memurnikan orang-orang yang mengasihi-Nya.
Bacaan pertama dari Nabi Yeremia memberikan teladan yang indah. Di tengah bangsa yang berdosa dan keras kepala, Yeremia tidak ikut menjadi keras hati. Ia menangis bersama bangsanya dan memohon belas kasih Allah. Ia tidak membiarkan kejahatan orang lain mengubah dirinya menjadi pribadi yang pahit. Inilah sikap gandum yang sejati: tetap menghasilkan buah meskipun tumbuh di tengah ilalang.
Saudara-saudari, sering kali kita menghabiskan tenaga meminta Tuhan mengubah orang lain. Padahal mungkin Tuhan sedang memakai orang-orang itu untuk mengubah kita. Bukan supaya kita menjadi lemah terhadap kejahatan, tetapi supaya kasih, kesabaran, pengampunan, dan keteguhan iman kita menjadi semakin murni. Ilalang tidak boleh mengubah gandum menjadi ilalang. Sebaliknya, gandumlah yang harus tetap menunjukkan jati dirinya sebagai gandum.
Maka marilah kita memohon rahmat pada hari ini agar kita tidak mudah kehilangan semangat ketika berhadapan dengan kejahatan. Percayalah, Tuhan tidak pernah kehilangan kendali atas ladang-Nya. Ia sedang bekerja, bukan hanya mempersiapkan penghakiman pada akhir zaman, tetapi juga memurnikan orang-orang yang menjadi milik-Nya. Semoga ketika masa panen tiba, kita didapati sebagai gandum yang telah matang, tetap setia, dan menghasilkan buah berlimpah bagi Kerajaan Allah.
Amin.