Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Senin Pekan XXVI Masa Biasa

Ayb 1:6–22; Mzm 17; Luk 9:46–50

Ketika Allah Mengubah Ukuran Kita

Komsoskam.com|| Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Bacaan tentang Ayub dan Injil hari ini kelihatannya berbeda, tetapi sebenarnya mempunyai pesan yang sama: jangan menilai seseorang hanya dari keberhasilan hidupnya. Kita kadang berpikir begini: kalau seseorang baik, rajin berdoa dan dekat dengan Tuhan, hidupnya pasti sehat, lancar, berhasil dan berkecukupan. Kalau ia mengalami banyak masalah, kita mulai bertanya: “Apa dosanya? Apa kesalahannya? Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” Kisah Ayub membongkar cara berpikir seperti itu. Ayub adalah orang yang baik, jujur dan takut akan Allah. Tetapi ia tetap mengalami penderitaan yang sangat berat. Ia kehilangan harta dan anak-anaknya. Jadi, orang yang menderita belum tentu sedang dihukum Tuhan. Dan orang yang hidupnya berhasil belum tentu lebih dikasihi Tuhan. Kita tidak boleh menjadikan iman seperti transaksi: “Saya sudah berdoa dan berbuat baik, maka Tuhan harus membuat hidup saya berhasil.” Ayub justru mengajarkan pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah saya masih percaya kepada Tuhan ketika hidup tidak berjalan seperti yang saya harapkan?”

Hal yang sama muncul dalam Injil. Para murid bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka. Mereka sudah berjalan bersama Yesus, tetapi cara berpikir mereka masih seperti cara berpikir dunia: siapa yang paling penting, siapa yang paling hebat, siapa yang paling dihormati. Yesus kemudian mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya. Yesus berkata, “Barangsiapa menerima anak ini dalam nama-Ku, ia menerima Aku.” Seolah-olah Yesus berkata kepada para murid: “Kalian sedang mencari siapa yang paling besar; Aku justru meminta kalian memperhatikan yang kecil.” Di sinilah Ayub dan anak kecil dalam Injil bertemu. Ayub kehilangan hampir semua yang membuat orang disebut berhasil. Anak kecil belum mempunyai apa-apa yang membuatnya disebut besar. Tetapi keduanya tetap berharga di mata Allah. Nilai manusia tidak ditentukan oleh banyaknya harta, jabatan, keberhasilan atau pujian. Kita berharga karena kita adalah ciptaan dan milik Allah.

Karena itu, Saudara-saudari, berhati-hatilah ketika melihat orang lain mengalami penderitaan. Kalau seseorang sakit, kehilangan pekerjaan, gagal dalam usaha, mengalami bencana atau masalah keluarga, jangan cepat berkata: “Mungkin dia kurang berdoa. Mungkin Tuhan sedang menghukumnya.” Kita tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang. Jangan menambah luka orang yang sedang terluka dengan penghakiman kita. Yesus tidak meminta kita menjadi hakim bagi orang yang menderita. Yesus meminta kita menjadi saudara baginya. Kadang-kadang orang yang sedang menderita tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau datang, duduk di sampingnya, mendengarkannya, mendoakannya, menolongnya dan berkata: “Saudaraku, engkau tidak sendirian. Saya ada bersamamu. Tuhan pun tidak meninggalkanmu.” Itulah kebesaran menurut Yesus. Bukan menjadi lebih tinggi daripada orang lain, tetapi mempunyai hati yang mau merendah untuk menemani mereka yang kecil, lemah dan terluka.

Maka Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengubah ukuran kita. Jangan mengukur kasih Tuhan dari lancar atau tidaknya hidup. Jangan mengukur nilai seseorang dari kaya atau miskin, sehat atau sakit, berhasil atau gagal. Ketika kesulitan datang, daripada bertanya, “Tuhan, mengapa ini terjadi kepadaku?”, kita dapat belajar berdoa: “Tuhan, bantulah aku tetap percaya kepada-Mu dalam keadaan ini.” Dan ketika melihat orang lain menderita, jangan pertama-tama bertanya, “Apa kesalahannya?”, tetapi bertanyalah, “Apa yang dapat saya lakukan untuk menolongnya?” Ayub mengajarkan bahwa kita tetap dapat percaya kepada Tuhan ketika hidup menjadi berat. Anak kecil dalam Injil mengajarkan bahwa orang yang kecil sekalipun sangat berharga di mata Tuhan. Maka marilah kita berdoa: “Tuhan, ketika hidupku baik, ajarlah aku bersyukur tanpa menjadi sombong. Ketika hidupku sulit, ajarlah aku tetap percaya tanpa berputus asa. Dan ketika aku melihat orang lain menderita, jangan biarkan aku menghakiminya. Jadikanlah aku saudara yang mau mendekat, mendengarkan, dan berjalan bersamanya.”
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com