Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Rabu Pekan XXVI Masa Biasa

 

Ayb 9:1–12.14–16; Mzm 88; Luk 9:57–62
PERINGATAN ST. HIERONIMUS

Tangan pada Bajak, Mata Tetap ke Depan

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Injil hari ini memperlihatkan beberapa orang yang sebenarnya ingin mengikuti Yesus. Seorang berkata, “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Yang lain dipanggil langsung oleh Yesus. Yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikuti Engkau, Tuhan, tetapi….” Persoalannya ternyata bukan hanya apakah kita mau mengikuti Yesus, melainkan seberapa teguh kita mengikuti-Nya. Sebab mudah mengatakan “ya” ketika hati sedang berkobar, ketika hidup berjalan baik, ketika doa terasa indah. Yang lebih sulit adalah tetap mengatakan “ya” ketika perjalanan menjadi berat, ketika pengorbanan mulai dituntut, ketika Tuhan membawa kita ke jalan yang tidak kita rencanakan.

Karena itu Yesus memberikan gambaran yang sangat kuat: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Bayangkan seorang petani yang sedang membajak. Tangannya memegang bajak, tetapi matanya terus melihat ke belakang. Apa yang terjadi? Alur bajaknya akan berbelok-belok. Supaya alurnya lurus, tangannya harus teguh dan matanya harus tertuju ke depan. Yesus sedang berbicara tentang hati seorang murid. Kita dapat saja sudah mengikuti Tuhan, tetapi hati masih terus menoleh ke belakang: kepada kenyamanan yang pernah kita miliki, luka yang belum kita lepaskan, kegagalan yang terus kita sesali, dosa lama yang masih menarik kita, atau kebiasaan lama yang sebenarnya sudah diminta Tuhan untuk kita tinggalkan. Kaki kita mungkin berjalan bersama Yesus, tetapi hati kita masih tinggal di belakang.

Menoleh ke belakang juga dapat berarti terus membiarkan masa lalu menentukan masa depan kita. Ada orang yang tidak maju karena terus berkata: “Saya pernah gagal.” “Saya pernah disakiti.” “Orang itu pernah mempermalukan saya.” “Hidup saya sudah terlanjur begini.” Masa lalu memang tidak dapat dihapus, tetapi masa lalu tidak harus menjadi penguasa masa depan kita. Petrus pernah menyangkal Yesus, tetapi ia tidak berhenti pada penyangkalannya. Paulus pernah menganiaya Gereja, tetapi ia tidak tinggal dalam masa lalunya. Rahmat Allah selalu membuka jalan ke depan. Karena itu mengikuti Yesus berarti berani berkata, “Apa yang terjadi kemarin adalah bagian dari sejarahku, tetapi Kristuslah yang menentukan arah hidupku.” Kita belajar dari masa lalu, tetapi kita tidak hidup menghadap ke belakang.

Bacaan pertama dari Kitab Ayub memperdalam keteguhan itu. Ayub sedang menghadapi sesuatu yang tidak dipahaminya. Ia tidak mempunyai jawaban atas semua penderitaannya. Namun ia menyadari bahwa Allah jauh lebih besar daripada kemampuan manusia memahami jalan-Nya. Di sinilah iman menjadi dewasa. Kita sering ingin berkata, “Tuhan, kalau aku mengerti, aku akan mengikuti-Mu.” Tetapi iman berkata sebaliknya, “Tuhan, aku belum mengerti, tetapi aku tetap mengikuti-Mu.” Keteguhan iman bukan berarti kita mempunyai jawaban atas segala sesuatu. Keteguhan berarti tetap memegang tangan Tuhan ketika kita belum mengetahui ke mana jalan membawa kita. Kita tidak setia karena jalannya selalu mudah; kita setia karena kita tahu siapa yang kita ikuti.

St. Hieronimus yang kita peringati hari ini memperlihatkan bahwa keteguhan mengikuti Kristus harus terus dipelihara oleh Sabda Allah. Ia memberikan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari, menerjemahkan dan menjelaskan Kitab Suci. Baginya, Sabda bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan untuk mengenal Kristus. Karena itu pertanyaan bagi kita bukan hanya, “Berapa banyak Sabda Tuhan yang sudah saya dengar?” tetapi, “Sabda mana yang sudah saya lakukan?” Mungkin kita sudah ratusan kali mendengar tentang pengampunan, tetapi masih menyimpan dendam. Kita berkali-kali mendengar tentang kerendahan hati, tetapi masih sulit mengalah. Kita mendengar tentang pelayanan, tetapi masih mencari penghargaan. Kita mendengar panggilan untuk berubah, tetapi terus berkata, “Tuhan, aku mau… tetapi…” Sabda baru sungguh hidup ketika ia mengubah arah hidup kita.

Maka hari ini Yesus meminta satu hal: keteguhan hati. Tangan pada bajak, mata tetap ke depan. Bukan berarti kita tidak pernah lemah, jatuh atau ragu. Murid yang teguh bukan orang yang tidak pernah jatuh; ia adalah orang yang setiap kali jatuh, kembali bangkit dan mengarahkan wajahnya kepada Kristus. Marilah kita bertanya: Apa yang masih membuat saya terus menoleh ke belakang? Luka apa yang harus saya serahkan? Dosa apa yang harus saya tinggalkan? Kenyamanan apa yang harus saya lepaskan? Sabda apa yang sudah berkali-kali saya dengar tetapi belum saya lakukan? Dan marilah kita mengubah doa kita. Bukan lagi, “Tuhan, aku akan mengikuti-Mu, tetapi….” Melainkan, “Tuhan, mungkin aku belum memahami semuanya. Jalannya mungkin tidak mudah. Ada sesuatu yang mungkin harus kulepaskan. Tetapi karena Engkau yang memanggilku, aku akan tetap mengikuti-Mu. Tanganku pada bajak, mataku tertuju kepada-Mu, dan langkahku akan terus bergerak ke depan.”
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com