Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Kamis Pekan XXVI Masa Biasa

Yes 66:10–14c; Mzm 131:1–3; Mat 18:1–5
Pesta St. THERESIA dari Kanak-Kanak Yesus

Menjadi Kecil: Berani Mengakui Aku Membutuhkan Tuhan

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com||Para murid bertanya kepada Yesus: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Di balik pertanyaan itu tersembunyi kecenderungan yang sangat manusiawi: ingin menjadi besar, kuat, penting, dan tidak bergantung kepada siapa pun. Yesus tidak menjawab dengan sebuah teori. Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Anak itu sekarang menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi guru bagi para murid. Lalu Yesus berkata: “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Yesus sedang membalik cara berpikir mereka: kalian ingin menjadi besar? Belajarlah menjadi kecil. Kalian ingin menjadi kuat? Beranilah mengakui bahwa kalian membutuhkan Allah.

Salah satu godaan manusia modern adalah sikap self-sufficient: merasa diri cukup, mampu mengatur semuanya sendiri, tidak membutuhkan orang lain. Pada batas tertentu, kemandirian memang baik. Kita harus bertanggung jawab dan mengembangkan kemampuan yang Tuhan berikan. Tetapi kemandirian dapat berubah menjadi ilusi bahwa kita cukup bagi diri sendiri: saya punya pengetahuan, uang, jabatan, teknologi, relasi dan kemampuan; saya dapat menentukan hidup saya sendiri. Dari “saya tidak membutuhkan orang lain,” perlahan kita dapat sampai pada sikap yang lebih berbahaya: “Saya juga tidak membutuhkan Tuhan.” Kita mungkin masih berdoa dan pergi ke gereja, tetapi dalam kenyataannya Tuhan hanya kita cari ketika kemampuan kita sendiri sudah tidak bekerja. Tuhan menjadi pilihan terakhir, bukan pusat kehidupan.

Karena itu Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah. Anak kecil sadar, bahkan tanpa harus mengatakannya: aku membutuhkan orang lain. Ia membutuhkan tangan yang menggendong, makanan yang diberikan, rumah yang melindungi, dan orang yang menuntunnya. Bacaan pertama menggunakan gambaran yang sangat lembut: Allah berkata melalui Yesaya, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah kamu akan Kuhibur.” Mazmur pun menggambarkan jiwa yang tenang seperti seorang anak dalam pelukan ibunya. Inilah iman: bukan kelemahan yang pasif, tetapi keberanian untuk mempercayakan diri. Menjadi seperti anak kecil berarti berani berkata: “Tuhan, aku tidak cukup bagi diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau.” Semakin dewasa iman seseorang, semakin ia menyadari bukan bahwa ia semakin tidak membutuhkan Tuhan, melainkan bahwa tanpa Tuhan ia tidak dapat menemukan kepenuhan hidupnya.

Maka dua kata Yesus hari ini sangat penting: bertobat dan merendahkan diri. “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil…” dan “Barangsiapa merendahkan diri seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar.” Pertobatan yang dimaksud bukan hanya meninggalkan dosa-dosa tertentu. Pertobatan juga berarti meninggalkan kesombongan kemandirian absolut: dari aku mampu sendiri menjadi aku membutuhkan Tuhan; dari aku tahu semuanya menjadi Tuhan, ajarlah aku; dari aku tidak membutuhkan orang lain menjadi aku membutuhkan saudara-saudaraku; dari kehendakku harus terjadi menjadi jadilah kehendak-Mu. Kerendahan hati bukan merendahkan nilai diri. Kerendahan hati adalah hidup dalam kebenaran: menyadari kemampuan kita sekaligus keterbatasan kita; menyadari bahwa hidup, bakat, kesehatan, waktu, bahkan kesempatan untuk melayani adalah pemberian.

Di sinilah St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi guru yang sangat indah. “Jalan Kecil” Theresia bukan spiritualitas orang yang lemah dan menyerah. Justru Theresia mempunyai keberanian untuk menerima bahwa dirinya kecil dan kemudian mempercayakan kekecilannya kepada kasih Allah. Ia tidak berkata, “Aku harus menjadi kuat dahulu supaya Allah mencintaiku.” Ia percaya bahwa justru karena kecil, ia dapat membiarkan dirinya diangkat oleh Allah. Inilah rahasianya: kekudusan bukan terutama hasil kemampuan kita mendaki menuju Allah; kekudusan adalah kesediaan membiarkan Allah mengangkat kita kepada-Nya. Kita tetap berusaha, berdoa, bekerja dan berjuang, tetapi kita tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri. Kita bekerja sebaik-baiknya sambil berkata: “Tuhan, tanpa rahmat-Mu, aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

Sikap self-sufficient juga mempunyai akibat dalam hubungan kita dengan sesama. Orang yang merasa cukup dengan dirinya sendiri semakin sulit mendengarkan, menerima nasihat, mengakui kesalahan, meminta pertolongan dan meminta maaf. Ia merasa pendapatnya paling benar dan caranya paling baik. Karena itu kerendahan hati seorang anak mempunyai konsekuensi yang sangat konkret. Dalam keluarga, kita berani berkata, “Aku membutuhkanmu.” Dalam komunitas, “Saya tidak dapat mengerjakan semuanya sendiri.” Dalam pelayanan, “Pendapat saya bukan satu-satunya jawaban.” Ketika salah, “Maafkan saya.” Ketika tidak tahu, “Tolong ajari saya.” Ketika lemah, “Tolong doakan saya.” Kalimat-kalimat sederhana itu membutuhkan kerendahan hati yang besar. Orang yang rendah hati tidak takut membutuhkan orang lain, karena ia tidak sedang sibuk membuktikan bahwa dirinya hebat.

Saudara-saudari, mungkin itulah sebabnya Yesus tidak menempatkan seorang penguasa, orang kaya atau ahli Taurat di tengah para murid. Ia menempatkan seorang anak kecil. Hari ini anak itu seakan berdiri juga di tengah-tengah kita dan bertanya: Kepada siapa engkau sungguh mengandalkan hidupmu? Apakah kepada kemampuan, kekayaan, jabatan, pengalaman dan rencanamu sendiri, atau kepada Allah? St. Theresia mengajak kita kembali kepada Jalan Kecil: melakukan yang dapat kita lakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi mempercayakan seluruh hidup kepada Allah. Maka marilah kita berdoa: “Tuhan, bebaskan aku dari kesombongan merasa cukup dengan diriku sendiri. Ajarlah aku bertobat dari keinginan mengendalikan segala sesuatu. Berilah aku kerendahan hati seorang anak yang berani berkata: aku membutuhkan Engkau, aku mempercayai Engkau, dan aku menyerahkan diriku kepada-Mu.” Sebab dalam Kerajaan Allah, yang terbesar bukanlah orang yang merasa tidak membutuhkan siapa pun, melainkan orang yang cukup rendah hati untuk menyadari bahwa ia membutuhkan Allah dan sesamanya.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com