
Kel 23:20–23a; Mzm 91; Mat 18:1–5.10
Peringatan Para Malaikat Pelindung
Aku Mengutus Malaikat Berjalan di Depanmu
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com||Ada satu kenyataan iman yang mungkin jarang kita sadari dalam kehidupan sehari-hari: kita tidak berjalan sendirian. Tuhan berkata dalam bacaan pertama, “Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.” Betapa indahnya: Allah tidak hanya menunjukkan tujuan, tetapi juga menyertai perjalanan menuju tujuan itu. Salah satu bentuk penyertaan-Nya adalah melalui para malaikat. Kita mungkin tidak melihat mereka, tetapi iman mengajarkan bahwa Allah dalam penyelenggaraan-Nya menjaga dan menuntun hidup manusia. Karena itu Mazmur hari ini berkata, “Malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.” Ada tangan Allah yang tidak kelihatan yang bekerja jauh lebih sering daripada yang kita sadari.
Kalau boleh sedikit tersenyum, mungkin tidak semua malaikat pelindung mempunyai beban kerja yang sama. Ada yang mungkin tugasnya agak tenang; ada yang mungkin harus bekerja ekstra karena orang yang dilindunginya suka mengambil keputusan yang berbahaya! Dan saya membayangkan malaikat pelindung yang bertugas di jalanan Medan mungkin harus kerja lembur: sepeda motor datang dari kanan-kiri, orang tiba-tiba memotong jalan, angkot berhenti mendadak, lampu kuning kadang dianggap tanda untuk mempercepat kendaraan. Mungkin malaikatnya berkata, “Tuhan, yang satu ini perlu perhatian khusus!” Tetapi di balik humor itu ada pesan serius. Percaya kepada perlindungan Allah tidak berarti kita boleh hidup ceroboh. Jangan berkata, “Ada malaikat pelindung,” lalu mengemudi sembarangan. Bacaan pertama justru berkata, “Hormatilah dia dan dengarkanlah perkataannya.” Perlindungan Tuhan mengundang kerja sama kita: mendengarkan suara hati, menggunakan akal budi, bertanggung jawab, menghindari bahaya yang tidak perlu, dan memilih yang baik.
Injil membawa kita lebih dalam lagi. Setelah menempatkan seorang anak kecil di tengah para murid, Yesus berkata, “Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini, karena malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.” Jadi malaikat pelindung bukan hanya berbicara tentang perlindungan, tetapi juga tentang martabat manusia. Kalau Allah begitu memperhatikan seorang yang kecil sehingga malaikatnya selalu memandang wajah Bapa, siapakah kita sehingga berani menganggap seseorang tidak penting? Jangan meremehkan anak kecil, orang miskin, orang tua, orang sakit, bawahan, mereka yang tidak berpendidikan, atau orang yang tidak mempunyai kedudukan. Orang yang mungkin kecil di mata kita sangat berharga di mata Allah. Devosi kepada malaikat pelindung seharusnya membuat kita bukan hanya merasa dilindungi, tetapi juga semakin menghormati manusia yang dilindungi Allah.
Dan ada satu langkah lagi. Jika Allah mengutus malaikat untuk berjalan di depan kita, bukankah kita pun dapat menjadi “malaikat” bagi sesama? Tentu bukan malaikat dalam arti makhluk rohani, tetapi menjadi alat penyertaan Allah. Ada orang yang membutuhkan seseorang berjalan di depannya untuk menunjukkan jalan; ada yang membutuhkan seseorang berjalan di sampingnya karena sedang kesepian; ada yang hampir jatuh dan membutuhkan tangan yang menopang. Orang tua menjadi “malaikat” bagi anaknya ketika melindungi dan menuntun; seorang sahabat ketika mengingatkan temannya agar tidak mengambil jalan yang salah; seorang guru ketika menuntun murid; seorang imam ketika membawa umat semakin dekat kepada Tuhan. Bahkan di jalanan Medan, kita dapat membantu pekerjaan malaikat pelindung dengan tidak membuat hidup orang lain semakin berbahaya! Berkendaralah dengan tertib, berilah jalan, jangan mudah marah, dan hormatilah keselamatan sesama.
Saudara-saudari, hari ini marilah kita mensyukuri sebuah kebenaran sederhana tetapi meneguhkan: aku tidak berjalan sendirian. Dalam jalan yang mudah maupun sulit, dalam perjalanan yang kita pahami maupun yang belum kita mengerti, Allah berkata, “Aku mengutus malaikat berjalan di depanmu.” Maka dengarkanlah tuntunan Tuhan, jangan sengaja memilih jalan yang membahayakan jiwa maupun sesama, dan percayalah bahwa penyelenggaraan Allah menyertai perjalanan kita. Tetapi jangan berhenti dengan berkata, “Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memberikan malaikat untuk menjagaku.” Tambahkanlah sebuah doa: “Tuhan, jadikanlah aku juga alat perlindungan-Mu bagi orang lain. Jangan biarkan kehadiranku menjadi bahaya, luka atau batu sandungan; jadikan kehadiranku penuntun, penghiburan dan perlindungan bagi sesamaku.” Semoga malaikat Tuhan berjalan di depan kita, dan semoga melalui hidup kita, orang lain pun mengalami bahwa Allah tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjalan sendirian.
Amin.