Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Minggu XXVII Masa Biasa

Yes 25:6-10a; Mzm 23; Flp 4:12-14.19-20; Mat 22:1-14

Sudah Diundang, tetapi Apakah Kita Mengenakan Pakaian Pesta?

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com||Dalam Injil hari ini, Yesus menggambarkan Kerajaan Surga sebagai perjamuan perkawinan yang diselenggarakan seorang raja bagi putranya. Perjamuan sudah disiapkan, makanan tersedia, dan undangan telah disampaikan. Namun, sebagian orang menolak datang karena lebih sibuk dengan urusannya sendiri. Sang raja kemudian mengundang orang-orang yang ditemukan di jalan, baik maupun jahat. Betapa luar biasanya kemurahan hati Allah! Ia tidak hanya mengundang orang yang dianggap baik, saleh, dan pantas, tetapi membuka pintu bagi semua orang. Namun, ketika raja memasuki ruang perjamuan, ia menemukan seseorang yang tidak mengenakan pakaian pesta. Orang itu kemudian dikeluarkan. Mengapa? Bukankah ia sudah memenuhi undangan? Bukankah ia sudah hadir dalam perjamuan? Di sinilah Yesus mengingatkan kita bahwa menerima undangan Allah belum cukup apabila kita tidak bersedia membiarkan undangan itu mengubah kehidupan kita. Tuhan mengundang kita bukan karena kita sudah sempurna, melainkan supaya kita diperbarui oleh kasih-Nya.

Pakaian pesta adalah kehidupan yang diubah oleh rahmat Allah

Saudara-saudari, pakaian pesta bukan terutama soal pakaian yang mahal dan indah, melainkan hati yang telah diubah oleh rahmat Allah. Tuhan mengundang kita bukan karena kita sudah baik, tetapi supaya kita menjadi baik. Undangan-Nya adalah rahmat; pakaian pesta kita adalah kehidupan yang diubah oleh rahmat itu. Dalam kehidupan zaman sekarang, kita sering lebih memperhatikan penampilan daripada isi hati, lebih sibuk membangun citra diri daripada memperbaiki diri. Kita ingin terlihat baik di hadapan orang lain, tampil saleh di gereja, mendapat pujian di masyarakat, bahkan menunjukkan kebaikan kita melalui media sosial. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa menjadi orang yang tampak baik tidak sama dengan menjadi orang yang sungguh baik. Kita bisa rajin mengikuti Misa tetapi masih menyimpan kebencian; aktif dalam pelayanan Gereja tetapi haus penghormatan; banyak berbicara tentang persaudaraan tetapi mudah menghakimi dan menyebarkan gosip; mengaku mencintai Tuhan tetapi tidak peduli kepada orang miskin dan mereka yang menderita. Itulah gambaran manusia yang sudah masuk ke ruang perjamuan tetapi belum mengenakan pakaian pesta. Pakaian pesta Kerajaan Allah adalah belas kasih yang menggantikan kebencian, kerendahan hati yang mengalahkan kesombongan, kejujuran yang mengalahkan kepalsuan, persaudaraan yang mengatasi perpecahan, dan pelayanan yang menggantikan keinginan untuk dilayani.

Kita dapat berada di dalam Gereja, tetapi belum hidup menurut Injil

Perumpamaan ini sebenarnya mengandung peringatan yang sangat serius bagi kita yang sudah menjadi anggota Gereja. Orang yang tidak berpakaian pesta itu bukan orang yang berada di luar perjamuan. Ia sudah berada di dalam ruang perjamuan! Demikian juga kita. Kita sudah dibaptis, menerima sakramen-sakramen, mengikuti Ekaristi, berdoa, dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan Gereja. Semuanya adalah anugerah yang sangat berharga. Namun, apakah semuanya itu telah mengubah kehidupan kita? Kita mungkin sudah bertahun-tahun mengikuti Misa, tetapi apakah kita semakin sabar? Kita mungkin sudah ribuan kali mengucapkan doa Bapa Kami, tetapi apakah kita semakin mudah mengampuni? Kita mungkin sering menerima Tubuh Kristus, tetapi apakah kita semakin mampu menerima sesama sebagai saudara? Bahaya terbesar dalam kehidupan beriman bukan hanya ketika seseorang meninggalkan Gereja, tetapi juga ketika seseorang tetap berada di dalam Gereja tanpa membiarkan Injil mengubah hatinya. Ia hadir secara fisik, tetapi belum sungguh membuka diri kepada rahmat yang menyelamatkan.

Mengenakan pakaian pesta berarti berani meninggalkan manusia lama

Pakaian pesta dalam Injil mengingatkan kita akan ajakan Rasul Paulus untuk mengenakan manusia baru, yang diciptakan menurut kehendak Allah (lih. Ef 4:22-24). Artinya, iman Kristiani bukan hanya menambahkan kegiatan keagamaan dalam kehidupan kita, tetapi mengubah cara kita hidup. Orang yang mengenakan Kristus tidak mungkin terus-menerus merasa nyaman dengan kebencian, ketidakjujuran, keserakahan, kesombongan, dan ketidakpedulian. Rahmat Allah menggerakkan kita untuk bertobat. Orang yang dahulu suka membalas dendam mulai belajar mengampuni. Orang yang dahulu hanya memikirkan dirinya sendiri mulai memperhatikan kebutuhan sesama. Orang yang dahulu selalu ingin menang mulai berani mengalah demi kebaikan bersama. Orang yang dahulu merasa paling benar mulai belajar mendengarkan. Inilah pakaian pesta yang dikehendaki Allah. Bukan berarti kita tidak pernah jatuh dalam dosa, tetapi kita tidak lagi membiarkan dosa menjadi cara hidup kita. Pertobatan bukanlah menjadi manusia yang tidak pernah salah, melainkan menjadi manusia yang terus bersedia diubah oleh Tuhan.

Pakaian pesta itu harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari

Saudara-saudari, bagaimana kita mengenakan pakaian pesta Kerajaan Allah secara nyata? Dalam keluarga, pakaian pesta itu tampak ketika suami dan istri saling menghormati, orang tua mendengarkan anak-anak, dan anggota keluarga berani meminta maaf. Dalam kehidupan Gereja, pakaian pesta itu tampak ketika para pelayan tidak mencari kedudukan dan penghormatan, tetapi sungguh melayani umat dengan rendah hati. Dalam masyarakat, pakaian pesta itu tampak ketika kita berlaku jujur, tidak mengambil hak orang lain, menghargai perbedaan, membantu mereka yang miskin, dan merawat alam ciptaan. Bahkan dalam dunia digital, pakaian pesta itu tampak ketika kita tidak menyebarkan kebencian, fitnah, atau berita bohong, tetapi menggunakan media sosial untuk menyampaikan kebenaran, kebaikan, dan pengharapan. Pakaian pesta Kerajaan Allah bukan sesuatu yang hanya dikenakan pada hari Minggu; pakaian itu harus terlihat dalam seluruh kehidupan kita, dari Senin sampai Sabtu. Orang lain seharusnya dapat mengenali bahwa kita adalah murid Kristus bukan terutama dari simbol yang kita kenakan, melainkan dari kasih yang mereka alami melalui diri kita.

Tuhan menyediakan perjamuan untuk mengubah kehidupan kita

Bacaan pertama dari Kitab Yesaya memberikan gambaran yang sangat indah tentang Allah yang menyediakan perjamuan bagi segala bangsa. Dalam perjamuan itu, Tuhan meniadakan perkabungan dan menghapus air mata dari wajah manusia. Inilah tujuan undangan Allah: Ia ingin menyelamatkan, memulihkan, dan membahagiakan manusia. Bacaan kedua juga mengingatkan kita melalui kesaksian Paulus bahwa kekuatan hidupnya berasal dari Kristus. Ia mampu menghadapi kelimpahan maupun kekurangan karena Tuhan menguatkannya. Maka pakaian pesta bukan sesuatu yang kita hasilkan hanya dengan kemampuan sendiri. Kita mengenakan pakaian pesta karena terlebih dahulu menerima rahmat Allah yang mengubah dan menguatkan kita. Ekaristi yang kita rayakan hari ini adalah perjumpaan dengan Kristus yang memberikan diri-Nya kepada kita. Kita datang membawa kelemahan dan dosa, tetapi Tuhan ingin agar kita pulang dengan hati yang semakin diperbarui. Kita datang untuk menerima kasih-Nya, lalu diutus untuk membagikan kasih itu kepada sesama.

Jangan hanya hadir dalam perjamuan, tetapi pulanglah sebagai manusia baru

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita membawa pulang satu pertanyaan yang sangat penting: “Apakah perjumpaan saya dengan Tuhan sungguh telah mengubah cara saya berpikir, berbicara, memperlakukan sesama, dan menjalani kehidupan?” Jangan sampai kita begitu memperhatikan pakaian yang kita kenakan ketika datang ke gereja, tetapi melupakan pakaian rohani yang kita bawa ketika pulang. Jangan sampai kita merasa cukup karena sudah dibaptis, sudah mengikuti Misa, sudah menerima Komuni, dan sudah terlibat dalam pelayanan. Semua itu adalah anugerah dan jalan pertumbuhan iman, tetapi harus menghasilkan buah dalam kehidupan. Tuhan tidak hanya mengundang kita untuk masuk ke dalam perjamuan-Nya; Ia mengundang kita untuk hidup sebagai manusia yang telah disentuh dan diubah oleh kasih-Nya. Maka marilah kita memohon: “Tuhan, Engkau telah mengundang aku ke dalam perjamuan-Mu. Jangan biarkan aku hanya hadir dengan pakaian yang indah, tetapi dengan hati yang tidak berubah. Tanggalkanlah dariku kebencian, kesombongan, keserakahan, kepalsuan, dan ketidakpedulian. Kenakanlah kepadaku pakaian belas kasih, kerendahan hati, kejujuran, persaudaraan, dan perdamaian. Semoga setiap kali aku berjumpa dengan-Mu, aku pulang sebagai manusia yang semakin menyerupai Kristus.”

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com