Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Sabtu Pekan XXVII Masa Biasa

Gal 3:22-29; Mzm 105; Luk 11:27-28

Kebesaran Sejati: Membiarkan Sabda Allah Mengubah Hidup

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com || Dalam Injil hari ini, seorang perempuan berseru kepada Yesus, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!” Perempuan itu mengagumi Maria karena kehormatannya sebagai ibu Yesus. Tetapi Yesus mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang lebih mendalam: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya.” Yesus tidak sedang merendahkan Maria, melainkan menunjukkan sumber kebahagiaan dan kebesarannya yang sejati. Maria bukan hanya berbahagia karena melahirkan Yesus, tetapi terutama karena ia mendengarkan, mempercayai, dan melaksanakan kehendak Allah. Kebesaran dalam Kerajaan Allah bukan diukur dari siapa kita menurut pandangan manusia, melainkan dari seberapa sungguh kita membiarkan Sabda Allah mengubah kehidupan kita.

Saudara-saudari, dunia sering mengukur kebesaran manusia dari jabatan, kekayaan, gelar, keturunan, popularitas, dan penghormatan yang diterimanya. Bahkan dalam kehidupan Gereja, kita dapat tergoda merasa lebih penting karena kedudukan, tugas pelayanan, atau banyaknya kegiatan keagamaan yang kita lakukan. Tetapi Yesus memberikan ukuran yang berbeda. Di hadapan Allah, yang membuat kita besar bukanlah seberapa tinggi kedudukan kita, melainkan seberapa dalam Sabda-Nya berakar dalam hati kita. Rasul Paulus dalam bacaan pertama menegaskan bahwa kita semua adalah anak-anak Allah karena iman dalam Kristus Yesus. Martabat kita tidak ditentukan oleh perbedaan status manusiawi, sebab kita semua satu dalam Kristus. Karena itu, orang yang sederhana tetapi setia menghidupi Sabda Allah dapat menjadi lebih besar dalam Kerajaan Allah daripada orang yang sangat dihormati tetapi hidupnya jauh dari kehendak Tuhan.

Namun, mendengarkan Sabda Allah tidak sama dengan sekadar mendengar bacaan Kitab Suci atau menghadiri perayaan Ekaristi. Sabda Allah harus bergerak dari telinga menuju hati, dari hati menuju keputusan, dan dari keputusan menjadi tindakan nyata. Ketika mendengar Sabda tentang pengampunan, kita dipanggil mengampuni. Ketika mendengar tentang kasih, kita dipanggil menolong. Ketika mendengar tentang kerendahan hati, kita harus berani mengakui kesalahan. Ketika mendengar tentang persaudaraan, kita harus berhenti merendahkan dan menghakimi sesama. Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa kali saya sudah mendengarkan Sabda Tuhan?” melainkan, “Apa yang sudah berubah dalam hidup saya karena Sabda Tuhan?” Sebab Sabda Allah bukan diberikan hanya untuk menambah pengetahuan kita tentang Tuhan, tetapi untuk menjadikan kehidupan kita semakin menyerupai Kristus.

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini Yesus mengundang kita untuk berhenti mengejar kebesaran yang hanya tampak di mata manusia dan mulai membangun kebesaran yang bernilai di hadapan Allah. Kita tidak harus menjadi orang terkenal untuk menjadi kudus. Kita tidak harus memiliki jabatan tinggi untuk menjadi berharga. Seorang ibu yang setia merawat keluarganya, seorang ayah yang jujur dalam pekerjaannya, seorang anak yang menghormati orang tuanya, atau seseorang yang berani mengampuni dapat memperlihatkan kebesaran Kerajaan Allah. Marilah kita meneladan Maria yang mendengarkan dan menyimpan Sabda Allah dalam hatinya, lalu mewujudkannya dalam seluruh kehidupannya. Jangan hanya menjadi pendengar Sabda; jadilah manusia yang diubah oleh Sabda. Sebab kebesaran sejati bukanlah ketika dunia semakin mengagumi kita, melainkan ketika orang lain semakin dapat melihat Kristus melalui kehidupan kita.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com