
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (Transfigurasi Tuhan)
Dan 7:9–10, 13–14; Mzm 97; 2Pet 1:16–19; Mat 17:1–9
Dengarkanlah Dia – Belajar Membedakan Suara Allah di Tengah Banyaknya Suara Dunia
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Hari ini Gereja merayakan Pesta Transfigurasi Tuhan. Perhatian kita sering tertuju pada wajah Yesus yang bercahaya, pakaian-Nya yang putih berkilau, atau kehadiran Musa dan Elia di atas Gunung Tabor. Semua itu memang luar biasa. Namun, jika kita mendengarkan Injil dengan saksama, pusat peristiwa ini bukanlah cahaya yang menyilaukan, melainkan suara Bapa yang keluar dari dalam awan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Dengarkanlah Dia!” (Mat. 17:5). Inilah pesan utama Transfigurasi. Allah tidak hanya memperlihatkan siapa Yesus, tetapi juga menunjukkan kepada siapa kita harus mendengarkan.
Mengapa Bapa berkata, “Dengarkanlah Dia”? Karena sejak dahulu hingga sekarang manusia hidup di tengah begitu banyak suara. Ada suara ambisi yang mendorong kita mengejar kekuasaan dan popularitas. Ada suara ketakutan yang membuat kita mudah menyerah. Ada suara media sosial yang sering lebih menentukan cara berpikir daripada Sabda Allah. Ada suara opini publik yang berubah-ubah, suara kepentingan pribadi, suara kebencian, bahkan suara pencobaan yang menjanjikan kebahagiaan semu. Di tengah hiruk-pikuk itu, Allah tidak berkata, “Dengarkan semua suara.” Ia berkata dengan tegas, “Dengarkanlah Dia!” Sebab hanya Kristus yang memiliki sabda kehidupan kekal; hanya Dia yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
Mendengarkan Yesus bukan hanya soal membuka telinga ketika Injil dibacakan. Mendengarkan berarti menjadikan Sabda-Nya sebagai pedoman hidup. Ketika kita harus mengambil keputusan yang sulit, kita bertanya: Apa yang diajarkan Kristus? Ketika membangun keluarga, kita bertanya: Bagaimana Yesus mengajarkan kasih, kesetiaan, dan pengampunan? Ketika melayani di Gereja, kita bertanya: Apakah pelayanan ini sungguh mencerminkan kerendahan hati Kristus? Ketika menghadapi konflik, kita bertanya: Apa yang akan dilakukan Yesus? Sabda Tuhan bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi. St. Yakobus mengingatkan, “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.”
St. Petrus memahami hal ini. Dalam bacaan kedua ia menulis bukan berdasarkan cerita yang dibuat-buat, melainkan sebagai saksi mata. Ia sendiri melihat kemuliaan Kristus dan mendengar suara Bapa di Gunung Tabor. Pengalaman itu mengubah seluruh hidupnya. Karena itu Petrus mengajak Gereja untuk berpegang teguh pada Sabda Tuhan sebagai pelita yang bercahaya di tempat gelap sampai fajar menyingsing (2Ptr. 1:19). Dunia kita memang penuh kegelapan: kebingungan moral, kekerasan, korupsi, manipulasi informasi, dan hilangnya arah hidup. Namun Sabda Kristus tetap menjadi terang yang tidak pernah padam. Orang yang berpegang pada Sabda tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh arus zaman.
Pesan ini juga sangat selaras dengan perjalanan sinodal Gereja. Sinode mengajarkan bahwa Gereja adalah Gereja yang mendengarkan. Namun, tujuan mendengarkan bukan sekadar mengumpulkan banyak pendapat. Tujuan akhirnya adalah bersama-sama menemukan suara Allah. Karena itu kita belajar mendengarkan suara saudara dan saudari kita dengan hormat, sebab Roh Kudus dapat berbicara melalui mereka. Kita belajar mendengarkan jeritan kaum miskin, mereka yang terluka, para migran, orang muda, dan mereka yang tersingkir. Kita juga belajar mendengarkan suara alam yang sedang “mengeluh” akibat kerusakan lingkungan, sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’. Bahkan kita belajar membaca peristiwa-peristiwa hidup sebagai “tanda-tanda zaman”, tempat Allah sedang menyatakan kehendak-Nya. Semua proses mendengarkan itu tidak menggantikan Sabda Kristus, tetapi justru membawa kita semakin mampu mendengar suara-Nya yang bergema melalui sejarah dan kehidupan.
Saudara-saudari, setiap hari kita harus memilih suara mana yang akan kita ikuti. Jika kita lebih banyak mendengarkan suara dunia daripada suara Kristus, hidup kita akan kehilangan arah. Tetapi jika kita setia mendengarkan Yesus melalui Kitab Suci, doa, Ekaristi, suara hati yang dibentuk oleh Injil, dan melalui proses pembedaan bersama dalam Gereja, maka kita akan berjalan di jalan yang benar. Seperti para murid yang turun dari Gunung Tabor dengan hati yang diteguhkan, kita pun dipanggil turun ke tengah dunia untuk membawa terang Kristus. Semoga pada Pesta Transfigurasi ini kita memperbarui komitmen untuk selalu mendengarkan Dia, Putra Allah yang dikasihi Bapa. Sebab hanya dengan mendengarkan Dia, hidup kita diubah, keluarga kita diteguhkan, Gereja dibaharui, dan dunia memperoleh pengharapan.
Amin.