
Di India, 71 persen lansia menggunakan handphone seluler biasa, 41 persen menggunakan smartphone, dan 13 persen memanfaatkannya secara akitf (Foto: HelpAge India)
Komsoskam.com|| Perkembangan teknologi digital dan telepon pintar telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Ironisnya, generasi yang dahulu meletakkan fondasi revolusi komputer, internet, dan telepon seluler kini justru menjadi kelompok yang paling rentan tertinggal oleh perubahan yang mereka bantu ciptakan.
Generasi Baby Boomer—mereka yang lahir setelah Perang Dunia II hingga tahun 1964—merupakan para insinyur, ilmuwan komputer, pengusaha, dan investor yang berperan besar dalam melahirkan komputer pribadi, membangun infrastruktur internet, serta mendanai pengembangan perangkat dan jaringan telekomunikasi modern. Namun, di usia senja, mereka kini menghadapi dunia yang hampir seluruh layanannya bergantung pada aplikasi digital.
Laporan HelpAge India 2025 menggambarkan tantangan tersebut. Sebanyak 71 persen lansia masih menggunakan telepon seluler biasa (feature phone), hanya 41 persen yang memiliki telepon pintar, dan hanya sekitar 13 persen yang benar-benar mampu memanfaatkannya secara aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital belum sepenuhnya ramah bagi kelompok lanjut usia.
Kehidupan yang Kini Bergantung pada Smartphone
Hanya sekitar satu dekade lalu, kepemilikan smartphone masih terbatas. Kini, perangkat tersebut hampir menjadi syarat utama untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Berbagai layanan publik beralih ke sistem digital. Perbankan, pelayanan kesehatan, pembayaran, administrasi pemerintahan, hingga komunikasi keluarga semakin bergantung pada aplikasi telepon pintar. Pemerintah di banyak negara memilih digitalisasi karena dinilai lebih efisien dan mampu menekan biaya operasional.
Namun, konsekuensinya tidak ringan. Banyak layanan kini hanya menyediakan formulir daring, sistem pertanyaan otomatis (FAQ), atau aplikasi yang rumit. Bantuan langsung dari petugas manusia semakin sulit ditemukan. Bagi lansia yang tidak terbiasa menggunakan teknologi, kondisi ini menjadi hambatan besar.
Persoalan menjadi lebih rumit apabila layanan digital menggunakan bahasa yang tidak dikuasai pengguna. Kesalahan kecil dalam mengisi formulir dapat menghambat akses terhadap layanan penting.
Revolusi yang Berlangsung Sangat Cepat
Perubahan teknologi yang dialami manusia saat ini berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan revolusi-revolusi sebelumnya.
Revolusi Industri berlangsung sekitar 150 tahun. Revolusi Digital berkembang dalam beberapa dekade. Namun, Revolusi Mobile hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 tahun.
Peluncuran iPhone pertama oleh Apple pada tahun 2007 mengubah wajah industri telepon seluler. Telepon tidak lagi sekadar alat untuk menelepon dan mengirim pesan singkat, tetapi berubah menjadi komputer mini yang selalu berada di genggaman.
Generasi X mengembangkan banyak perangkat lunak, sementara generasi Milenial mempopulerkan berbagai aplikasi digital. Namun, para eksekutif, pendiri perusahaan, dan investor dari generasi Baby Boomer-lah yang menyediakan modal dan mengambil keputusan penting sehingga revolusi teknologi tersebut dapat terwujud.
Ironisnya, teknologi yang dahulu mereka bangun kini justru menjadi tantangan terbesar dalam kehidupan mereka sendiri.
Manfaat Sekaligus Tantangan
Teknologi digital sesungguhnya membawa banyak manfaat bagi para lansia.
Melalui telepon pintar, mereka dapat berkomunikasi dengan anak dan cucu yang tinggal di berbagai negara tanpa biaya telepon yang mahal. Informasi kesehatan, layanan publik, maupun berbagai pengetahuan dapat diakses hanya melalui satu perangkat kecil.
Namun, manfaat tersebut sering kali dibayangi berbagai kesulitan.
Banyak aplikasi memiliki tampilan yang rumit, istilah teknis yang membingungkan, atau proses verifikasi yang panjang. Tidak sedikit formulir daring yang sulit dipahami bahkan gagal berfungsi dengan baik.
Alih-alih mempermudah, teknologi justru dapat membuat sebagian lansia merasa terasing.
Ketika Layanan Publik Menjadi Tidak Ramah
Penulis artikel mengisahkan pengalamannya tinggal di beberapa negara yang masih menghormati kaum lanjut usia sehingga selalu ada orang yang bersedia membantu.
Namun, ia juga mendengar berbagai kisah dari negara-negara Barat mengenai pasien lanjut usia (lansia) yang mengalami keterlambatan memperoleh pelayanan medis karena rumah sakit terlebih dahulu mengharuskan keluarga mengisi formulir melalui aplikasi telepon seluler.
Dahulu, petugas administrasi rumah sakit cukup mengisi formulir secara langsung sehingga pasien dapat segera memperoleh penanganan. Kini, proses administrasi sering kali sepenuhnya dilakukan secara digital.
Contoh lain datang dari dunia perbankan. Salah satu bank terbesar di Kamboja bahkan tidak lagi menyediakan layanan internet banking melalui komputer. Seluruh transaksi hanya dapat dilakukan melalui aplikasi telepon pintar.
Di Mana Posisi Kecerdasan Buatan?
Penulis juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurutnya, AI memang sangat membantu, tetapi memiliki keterbatasan. Dalam dunia penelitian AI dikenal istilah model collapse, yaitu kondisi ketika sistem AI terus-menerus belajar dari hasil AI lainnya sehingga kualitas informasi perlahan menurun, layaknya membuat fotokopi dari fotokopi yang terus diulang.
Kesalahan AI bahkan memiliki istilah khusus, yaitu hallucination, ketika sistem menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya keliru.
Karena itu, pengetahuan manusia tetap menjadi sumber utama yang dibutuhkan AI. Tanpa karya jurnalistik, penelitian, dokumentasi, dan pengalaman nyata manusia, kualitas informasi yang dihasilkan AI justru akan semakin menurun.
Pengalaman Hidup Tidak Bisa Didigitalisasi
Menurut penulis, ada satu hal yang tidak dapat digantikan teknologi, yaitu pengalaman hidup.
Lansia membawa memori, kebijaksanaan, pengalaman, dan pelajaran yang diperoleh selama puluhan tahun menjalani kehidupan. Semua itu tidak dapat sepenuhnya disimpan di komputasi awan (cloud) ataupun dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak memandang rendah orang-orang lanjut usia.
“Ketika Anda melihat seorang lansia yang berjalan tertatih atau tampak kebingungan menggunakan teknologi, berhentilah sejenak. Ajaklah berbicara. Dengarkan kisahnya. Mungkin Anda akan memperoleh pelajaran berharga yang tidak akan pernah diberikan oleh mesin.”
Pada bagian akhir tulisannya, penulis mengungkapkan sebuah ironi yang menarik. Ia akan berusia 64 tahun pada Januari mendatang. Meski mengkritik berbagai dampak revolusi digital, ia tetap menulis artikelnya menggunakan tablet yang terhubung dengan papan ketik Bluetooth sambil melakukan riset melalui telepon pintarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukanlah menolak teknologi, melainkan memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpihak kepada manusia, termasuk mereka yang telah memasuki usia lanjut (lansia).
(Terry Friel,UCA NEWS,06 Agustus 2026)