
Paus Leo XIV mengajak para komunikator Katolik di seluruh dunia untuk menggunakan media digital sebagai sarana melayani kebenaran, membela martabat manusia, dan memajukan kesejahteraan bersama.
Seruan itu disampaikan Paus dalam pesan kepada para peserta Kongres Dunia SIGNIS yang sedang berlangsung di Kigali, Rwanda, dengan tema “Komunikasi Digital untuk Harmoni Budaya dan Kesejahteraan Lingkungan.”
Pesan tersebut ditandatangani atas nama Paus oleh Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, dan dibacakan pada pembukaan kongres yang dimulai pada 4 Agustus, sebagaimana dilaporkan Vatican News.
Dalam pesannya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa komunikasi digital bukan sekadar sarana menyampaikan informasi, melainkan juga kekuatan yang membentuk budaya dan hati nurani masyarakat.
Mengutip ensikliknya Magnifica Humanitas, Paus mengatakan bahwa komunikasi di ruang digital memiliki kemampuan besar dalam membentuk cara manusia memandang dunia. Karena itu, ia mendorong para pekerja media Katolik untuk mengembangkan strategi komunikasi digital yang praktis, berlandaskan kebenaran serta penghormatan terhadap martabat setiap pribadi.
Menurut Paus, komunikasi seperti itu akan membantu membangun budaya yang dijiwai nilai-nilai Injil, terutama semangat persekutuan dan perdamaian.
Paus juga menghubungkan tanggung jawab dalam berkomunikasi dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Menurutnya, teknologi digital hendaknya dimanfaatkan untuk mendorong setiap orang bertindak demi kebaikan seluruh keluarga manusia dan kelestarian ciptaan.
Ia berharap pertemuan tersebut memberikan “dorongan baru” bagi upaya menjadikan berbagai platform komunikasi sebagai sarana yang sungguh mengabdi pada kesejahteraan bersama.
Menutup pesannya, Paus mempercayakan seluruh peserta kepada perlindungan Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, serta menjamin doa-doanya bagi mereka. Ia juga menganugerahkan Berkat Apostolik sebagai tanda “hikmat dan kekuatan dalam Tuhan.”
Kongres Dunia SIGNIS berlangsung pada 3–8 Agustus 2026 dan menjadi kongres
SIGNIS pertama yang diselenggarakan di benua Afrika. Acara ini diikuti oleh para komunikator Katolik dari lebih dari 40 negara di lima benua.
Selama kongres, para peserta membahas berbagai isu penting, antara lain etika media, kecerdasan buatan (AI), komunikasi digital, keterlibatan kaum muda, komunikasi mengenai lingkungan hidup, serta peran media Katolik dalam membangun rekonsiliasi dan harmoni budaya.
Sejumlah tokoh yang menjadi pembicara pada sesi pembukaan antara lain Kardinal Antoine Kambanda dari Kigali, Presiden Dunia SIGNIS Helen Osman, Presiden SIGNIS Afrika Pastor Walter Chekwendu Ihejirika, Nunsius Apostolik untuk Rwanda Uskup Agung Arnaldo Sánchez Catalán, serta Uskup Agung Fortunatus Nwachukwu, Sekretaris Dikasteri Vatikan untuk Evangelisasi.
Prefek Dikasteri Vatikan untuk Komunikasi, Paolo Ruffini, dijadwalkan menyampaikan pesan secara virtual, sementara Nataša Govekar, Direktur Teologi-Pastoral pada dikasteri yang sama, menjadi salah satu pembicara sidang pleno.
SIGNIS merupakan Asosiasi Komunikasi Katolik Sedunia yang diakui oleh Vatikan. Organisasi ini berdiri pada tahun 2001 melalui penggabungan dua organisasi komunikasi Katolik yang didirikan pada 1928.
Saat ini SIGNIS berkarya dalam bidang jurnalisme, radio, televisi, perfilman, pendidikan media, media digital, dan teknologi baru, dengan anggota yang tersebar di lebih dari 100 negara.
Misi SIGNIS adalah mendukung para komunikator Katolik serta ikut mentransformasi budaya dalam terang Injil melalui promosi martabat manusia, keadilan, dan rekonsiliasi.
(UCA NEWS, 5 Agustus 2026)