Paus: COVID-19 Mengingatkan Kita adalah Satu Komunitas

866 total views, 2 views today

Komsoskam.comPaus Fransiskus mengatakan pandemi virus corona (COVID-19) mencoba mengingatkan bahwa kita adalah satu komunitas manusia. Hal ini disampaikannya dalam sesi wawancara dengan media harian Italia La Stampa.

Ia mengatakan krisis saat ini akan membantu mengingatkan ‘sekali lagi dan untuk semua’ bahwa kita adalah satu komunitas. Menurutnya, pandemi ini akan mengajarkan umat manusia bahwa kekeluargaan universal itu penting dan kritis.

“Tidak akan lagi menjadi ‘mereka’. Itu akan menjadi ‘kita’. Karena kita hanya bisa keluar dari situasi ini bersama,” ujar Paus Fransiskus dalam wawancaranya dengan La Stampa, seperti dikutip dari vaticannews.va, Jumat (20/3/2020).

Dalam sesi wawancaranya, Paus berbicara tentang kesedihan dan rasa sakit yang semua orang alami akibat wabah virus mematikan asal Wuhan ini. Satu-satunya cara untuk selamat dari situasi ini, katanya, adalah dengan bersatu.

Selain itu, pemimpin gereja Katolik sedunia ini mengajak seluruh umat untuk menjalani masa sulit ini dengan penebusan dosa, belas kasih dan harapan.

“Kita membutuhkan kerendahan hati. Karena terlalu sering kita lupa ada masa-masa kelam dalam hidup juga,” imbuhnya.

Dikatakannya, manusia terlalu percaya diri dengan kehidupan duniawi sehingga lupa bahwa masa-masa buruk bisa datang kapan saja dan menghantui siapa saja.

“Kita pikir mereka hanya terjadi pada orang tertentu saja. Tetapi saat ini kegelapan datang bagi semua orang,” lanjutnya.

Paus mengatakan bahwa musim Prapaskah melatih seluruh umat manusia untuk menunjukkan solidaritasnya kepada orang lain, terutama untuk mereka yang menderita.

Doa

Paus menekankan pentingnya doa, mengingat bagaimana para rasul berharap kepada Yesus untuk menyelamatkan mereka selama badai (Markus 4:35-41). “Doa membantu kita memahami kerentanan kita,” ujar Paus.

“Ini adalah seruan dari mereka yang tenggelam, yang merasa mereka dalam bahaya dan sendirian. Dalam situasi yang sulit dan putus asa, penting untuk mengetahui bahwa Tuhan ada di sana sebagai tempat untuk bergantung,” katanya.

Semua menderita

Paus Fransiskus tidak membuat perbedaan antara orang percaya dan tidak percaya. Orang-orang menangis karena mereka menderita. “Semua orang menderita,” katanya. “Kita semua adalah anak-anak di hadapan Tuhan,” tambahnya.

Mereka sekarat tanpa orang yang dicintai

Paus kemudian berbicara tentang orang-orang yang sekarat sendirian dan tanpa adanya kenyamanan dalam keluarga mereka. Paus mengaku terkejut dengan kisah seorang wanita tua yang mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada orang yang dicintainya melalui telepon milik perawat.

“Rasa sakit dari mereka yang telah meninggal tanpa pamit menjadi luka di hati mereka yang tertinggal,” kata Paus Fransiskus.

Paus pun berterima kasih kepada seluruh perawat, dokter dan sukarelawan. Yang meskipun kelelahan luar biasa masih menawarkan diri untuk merawat penderita COVID-19.

“Dengan kesabaran dan kebaikan, mereka bertahan untuk anggota keluarga yang tidak bisa hadir menjaga di sana,” pungkasnya.

Seluruh umat manusia tengah dihadapkan dengan persoalan wabah virus corona (COVID-19). Angka infeksi yang cukup tinggi dan terus meningkat mengakibatkan kepanikan dimana-mana.

Tanpa disadari, pandemi ini membuat warga bumi ‘kompak’ untuk saling bahu-membahu dalam penanganan wabah ini. Misalnya dengan membuat penggalangan dana untuk kebutuhan medis. Tindakan ini benar-benar membuktikan bahwa kita adalah satu komunitas.

Facebook Comments
Baca juga  Unika Medan Produksi Sendiri 'Hand Sanitizer' untuk Lingkungan Kampus

Yantika Simatupang

Freelance writer

Leave a Reply