
Para pengunjung sedang sedang berdoa di depan relekwi St. Fransisus Xaverisus di Basilika St.Fransisus Xaverius Goa, India (foto Supplied)
Oleh UCA News Reporter
Polisi di negara bagian Goa, India barat, menetapkan seorang pria Hindu sebagai tersangka setelah ia diduga menyebut Santo Fransiskus Xaverius sebagai “teroris” dalam sebuah acara publik.
Kepala Menteri Goa, Pramod Sawant, pada 20 April menyatakan bahwa aparat tengah memproses kasus terhadap Gautam Khattar dengan tuduhan melukai perasaan keagamaan umat Kristen.
Khattar, yang dikenal sebagai YouTuber, menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri pertemuan yang diselenggarakan kelompok Hindu di Vasco da Gama pada 18 April. Dalam acara itu, turut hadir Menteri Goa Mauvin Godinho serta dua anggota legislatif negara bagian.
Dalam pidatonya, Khattar diduga menyebut Santo Fransiskus Xaverius sebagai “teroris, barbar, dan penguasa kejam”. Ia juga menuduh misionaris Yesuit asal Spanyol abad ke-16 itu menghabiskan hidupnya untuk mengonversi ratusan ribu umat Hindu menjadi Kristen.
Tak hanya itu, Khattar juga diduga melontarkan komentar mengenai relik suci sang santo yang disimpan di Basilika Bom Jesus. Relik tersebut selama ini dihormati umat Katolik dan menjadi tujuan ziarah.
Santo Fransiskus Xaverius, yang dikenal sebagai “Goencho Sahib” atau pelindung Goa, dihormati oleh jutaan umat di India. Setiap tahun, peringatan hari rayanya pada 3 Desember menarik ribuan peziarah dari berbagai agama.
Khattar juga diduga menyindir kondisi jasad sang santo dengan pernyataan yang dianggap menghina, termasuk menyebut jasad tersebut telah rusak. Pernyataan itu merujuk pada tradisi eksposisi relik suci yang digelar setiap 10 tahun sekali selama 45 hari, dan menarik jutaan pengunjung. Pada penyelenggaraan terakhir tahun 2024, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai 8 juta orang.
Pemerintah negara bagian menegaskan akan mengambil tindakan tegas. “Tindakan keras akan diambil tanpa memandang siapa pelakunya,” ujar Sawant.
Jika terbukti bersalah, Khattar terancam hukuman hingga tiga tahun penjara, denda, atau keduanya.
Sementara itu, Keuskupan Agung Goa menyatakan “dukacita mendalam” atas pernyataan tersebut dan mendesak tindakan tegas terhadap pelaku. Pernyataan itu juga menilai ucapan Khattar berpotensi merusak kerukunan antarumat beragama di wilayah tersebut.
Tokoh politik dari Partai Kongres, Peter D’Souza, turut melaporkan kasus ini ke polisi. Sejumlah laporan serupa juga diajukan oleh berbagai pihak.
Di sisi lain, penyelenggara acara, Sanatan Dharm Raksha Samiti, menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas Kristen. Mereka mengaku tidak mengantisipasi pernyataan Khattar dan segera menghentikannya saat kejadian berlangsung (UCA NEWS, 21 April 2026)