Mendaratkan Dialog Antara Agama Dan Kepercayaan Dalam Karya Pastoral Paroki

2,303 total views, 1 views today

Penulis, RD. Benno Ola Tage | Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama KAM

Secara tradisional, kita mengenal adapun tugas Gereja adalah untuk merayakan iman (Liturgyia), mewartakan iman (Kerygma), membangun dan hidup  persekutuan (Kononia), saling menolong (Diakonia), dan kesaksian hidup (Martirya). Untuk mewujudkan tugas-tugas Gereja ini, dalam tingkat keuskupan di bentuk komisi, misalnya komisi liturgy bertugas untuk mewujudkan perayaan-perayaan liturgy. Komisi Kitab Suci bertugas untuk mengajarkan Kitab Suci, dan komisi katekese untuk mengajaran iman Kristini. Hal yan sama terjadi juga di tingkat paoki dan stasi. Di sanapun dibentuk seksi-seksi untuk menjalankan amanat tugas Gereja di atas.

Di Keuskupan Agung Medan telah dibentuk komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan (HAK KAM) sejak tahun 1996. Komisi HAK KAM diharapkan untuk dibentuk berupa seksi HAK di paroki maupun di stasi. Tugas Gereja manakah yang diamanatkan untuk dijalankan oleh Komisi HAK KAM? Adapun tugas Gereja ynag dijalankan adalah tugas untuk membangun relasi, komunikasi, dengan  pemeluk agama lain. Dalam hal ini, komisi HAK KAM memjalankan tugas untuk membantu dan mendorong Gereja  untuk membangun bersekutuan antara Gereja Katolik dengan pemeluk agama lain. Seraya pada saat yang sama, tindakan ini mengungkapkan dan mengekspresikan kesaksian hibup dalam masyarakat pluralisme agama dan kepecayaan (Martirya).

Tuhan Yesus memberi tugas kepada kita (murid-muridnya)  untuk membawa damai (Mat.5:9) dengan mencintai sesama (Yoh 13:34), bahkan mencintai musuh-musuh kita (Luk.6:27). Firman Allah ini juga menjadi landasan penghayatan kita untuk membangun dialog, komunikasi, bahkan kerjasama dengan pemeluk agama bukan Katolik. Komisi HAK Keuskupan Agung Medan memotivasi  untuk, serta memandu paroki-paroki berelasi dengan pemeluk agama lain berdasarkan iman akan Firman Yesus yang menggerakkan kita untuk mencintai. Harapan yang menjadi tujuan dari misi dialog adalah persaudaraan antar manusia.

Dalam konteks ini, Komisi HAK KAM tidak memiliki agenda politik, yakni berdialog dengan tujuan mendapatkan dukungan politik demi kepentingan Gereja Katolik dan umatnya. Visi dan misi Komisi HAK KAM bukan sebuah taktik untuk menginjili pemeluk agama lain. Visi dan misi Komisi HAK KAM dirumuskan dengan sangat jelas dalam dokumen Konsili Vatikan II, “Konstitusi  Dogmatik tentang Gereja (Lumen Gentium):”Kepada dan bersama para penganut agama-agama lain Gereja Katolik ingin diselamatkan oleh Allah yang mahakuasa dan penyayang . Gereja tidak menolak apapun yang benar, baik dan sakral dalam semua agama. Gereja Katolik memandang para penganut agama-agama sebagai teman seperjalanan menuju kediaman yang abadi (LG 16). Adapun juga dari hasil Konsili Vatikan II, dalam dokumen Misi bagi Bangsa-Bangsa (Ad Gentes) menulis bahwa orang Kristen dipersatukan dengan orang-orang lain oleh pengharapan dan cintakasih. Hendaknya mereka menjadi akrab dengan tradisi-tradisi Nasional dan keagamaan sesama warga. Umat Katolik hendaknya adalah orang-orang yang bergembira dan hormat dalam menyingkap benih-benih Sabda yang tersembunyi di dalam budaya dan agama-agama penduduk setempat (AG 11).

Bentuk-Bentuk Dialog antar Agama dan Kepercayaan

Dalam dokumen “Dialogue and Mission (no.28-35)  yang dikeluakan lembaga kepausan untuk dialog dengan agama bukan Kristen (Secretariat for Non-Christians-SNC), untuk membangun dialog dengan agama lain dapat dilakukan dalam empat  bentuk berikut:Pertama, dialog kehidupan. Dialog ini dilakukan oleh semua orang. Ini adalah dialog paling mendasar. Karena dialog ini digerakkan oleh kebutuhan mendasar manusia yang dicapai hanya melalui pergaulan dan kerjasama dengan orang lain. Pergaulan masyarakat dan kerjasama antara pemeluk berbeda agama terjadi karena alasan kerja, adat, interaksi di pasar dan dunia bisnis, pergaulan antar tetangga beda agama.

Dialog kehidupan ini sangat jelas terlihat dalam kehidupan atau perilaku sosial  umat Katolik di Keuskupan Agung Medan. Ucapara adat untuk perkawinan, kematian, bahkan pemberkatan rumah baru serta arisan marga adalah bentuk nyata dialog kehidupan. Dialog ini tidak menyinggung agama, dan dilakukan siapa saja. Dialog kehidupan tampaknya juga kegiatn ekonomi pada keanggotaan dalam CU, politik, kerjasama dalam masyarakat yang berbeda agama untuk kebaikan hidup bersama dalam masyakarakat. Sebagai mana pada tanggal 6 April 2019, pastor vikjen Mikhael Manurung OFM.cap menerima lukisan Mrg.Kornelius OFM.cap yang merupakan hasil karya tangan Xu Ching Cai, seorang ahli kaligrafi China beragama Budha dalam pameran lukisan dan Kaligrafi yang disponsori oleh lembaga Agama Budha.

Kedua, Dialog karya (kerjasama antara lembaga agama). Dialog ini merupakan kerjasama antara lembaga resmi agama dalam karya sosial, bencana alam, atau proyek bersama untuk mengentas masalah sosial-kemanusiaan. Dialog  karya dimotivasikan oleh keprihatian lembaga-lembaga agama untuk secara bersama-sama menyelesaikan persoalan kehidupan masyatakat di mana mereka berada. Bagi Gereja Katolik, dialog ini bisa dilakukan oleh pihak hirarki atau umat awam. Dialog kehidupan oleh awam  tampak pada gerakan anak muda Katolik yang tergabung dalam kelompok “Sint Egidio,” yang bekerjasama dengan pemuka agama Hindu untuk membuka semacam pendidikan anak yang dinamakan “sekolah damai” disekitar bantaran sungai Deli di kawasan Multatuli Medan.

Ketiga, dialog pandangan teologis. Dialog teologis terjadi antara kalangan ahli dalam agama masing-masing, bahkan penganut agama tertentu yang memiliki pengetahuan tentang agama lain. Karena ilmu agama, teologis,sejarah dan sejarah agama yang terkadang rumit, maka dialog ini hanya dapat dilaksanakan oleh kaum yang ahli dalam hal keagamaan. Tujuannya adalah untuk saling memahami dan menghargai nilai-nilai rohani agama lain. Dialog teologis tidak dimaksudkan untuk menyerang, dan mempersalahkan ajaran agama lain dari sudut pandang agama si penyerang. Dialog semacam ini dilakukan dalam bentuk seminar, studi bersama yang diselenggarakan untuk mengerti agama lain oleh para pakar dalam bidang keagamaan. Tujuan dialog ini untuk menghindari konflik-konflik yang disebabkan oleh perbedaan ajaran iman dan keyakinan agama.

Keempat,dialog pengalaman keagamaan (dialog iman). Dalam dialog ini, orang ingin memperkaya penghayan imannya dengan belajar dari  pengamalan iman pengikut agama lain. Dalam dialog ini, penganut agama yang satu membagi pengalaman hidup doa yang berakar dari agamanya kepada penganut agama lain. Dalam hal ini, misalnya, umat Katolik bisa belajar metode meditasi agama Hindu atau Budha. Mgr.Anicetus A.Sinaga OFM.Cap bertahun-tahun menggunakan metode meditasi Zen dari Agama Sinto di Jepang dalam bermeditasi. Ini merupakan dialog tingkat tertinggi yang hanya dibangun oleh mereka yang memiliki cita-cita rohani yang tinggi.

Dari keempat dialog ini, dialog kehidupan dan dialog karya dapat dibumikan dalam karya pastoral paroki. Dialog kehidupan dapat dilakukan oleh pastor paroki bersama dewan paroki untuk mengucapkan selamat hari raya kepada pemimpin agama lain. Misalnya, Idul Fitri kepada unsur pemerintah beragama Islam, maupun para ulama. Seksi PSE tidak hanya berorientasi dalam membantu ekonomi atau bantuan sosial bagi umat Katolik, tetapi bersama dengan lembaga karitas Protestant atau agama lain ambil bagian dalam karya sosial bersama, atau terlibat dalam menangani bencana tertentu. Dialog karya telah diperlihatkan oleh Komisi PSE keuskupan dalam menyediakan fasilitas, tenaga medis dan relavan dalam tragedi kapal Sinar Bangun pada bulan Juli 2018 di danau Toba. Dialog antar agama bukanlah sekadar mewujudkan program tertentu. Dialog antar agama harus menjadi gaya hidup. Ladang dialog dan kerjasama antar agama masih terbentang luas di paroki-paroki dan keuskupan. Oleh karena itu, umat hendaknya semakin menyadari bahwa aktivitas harian mereka merupakan bentuk dialog kehidupan.Dari dialog kehidupan,  bisa melangkah  ke dalam dialog karya, dialog teologis dan dialog pengalaman keagamaan.

Tips Berdialog

Roberto Catalano- Co-direktur lembaga dialog antar agama dari gerakan Focolare di Roma menyampaikan bahwa empat tips dalam dialog antar agama (termasuk dialog dengan agama Kristen bukan Katolik). Pertama, setiap orang adalah anak Allah, tanpa membuat perbedaan berdasarkan agama, kelas sosial, setiap orang orang adalah partner dialog. Ini menjadi keyakinan dasar dalam berdialog. Kedua, Jangan menunggu pihak lain untuk berdialog. Ini siatip dialog harus datang dari pihak kita. Ketiga, dialog secara konkrit. Ini dilakukan melalui kerjasama dalam dialog kehidupan dan dialog karya. Keempat, kita harus memiliki sikap rendah hati dalam berdialog. Dialog antar agama bukan untuk menunjukkan agama apa  yang paling benar ajaran agamanya, paling hebat dalam karya, pengikut agama mana yang paling pintar, dan berkuasa secara poltik.

Penutup

Dialog agama masih dihadang banyak kesulitan, misalnya sikap ekslusif (menutup diri dalam kelompok agamanya), situasi politik, lemahnya pengatahuan agama dan penghayatan iman umat. Namun Roberto Catalano mengikatkan bahwadialog agama selalu mengandung resiko. Namun kita dipanggil untuk berdialog karena itu adalah ekspresi panggilan Gereja untuk martria dan koinonia. Dalam dialog antar agama dan kepercayaan, bersikap tetap dan bijaksana dalam berbicara akan menghasilkan persahabatan (koinonia) dengan agama  lain/Gereja bukan Katolik sekaligus menghadirkan kesaksian hidup dalam tindakan konkrit.

(Tulisan ini juga terbit dalam Majalah Menjemaat Edisi Mei 2019)

Jansudin Saragih

"Carpe diem" | Youtube : 2share4life

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *