Kuasi Paroki St. Paskalis Diski: “KARENA SALING MENDUKUNG, GEREJA KITA TERUS BERKEMBANG”

681 total views, 6 views today

Gereja Katolik Diski awalnya berdiri atas kesepakatan 25 kepala keluarga. Sebenarnya masih banyak umat Katolik yang lain, berasal dari daerah Tapanuli, Tanah Karo, Dairi dan Langkat. Namun karena bangunan fisik Gereja belum ada, banyak di antara mereka beribadah di Gereja Protestan. Mula-mula umat beribadah di Rumah Luther Sitanggang/Br. Panggabean, Jl. Binjai Km. 13 Gg. Pribadi, di bawah pimpinan Porhanger/ Ketua Dewan Stasi pertama, W. Sibarani. Dengan berjalannya waktu, akhirnya umat Katolik yang sempat beribadah di Gereja Protestan pun bergabung dengan umat Katolik lainya.

Untuk memperlancar tugas pelayanan dan pembinaan umat, diutuslah AJ. Simarmata dan W. Sibarani untuk menghubungi Pastor Diego Biggelar, OFMCap. (Pastor Opung Bornok Simbolon) yang berkomunitas di Jl. Pemuda Medan. Dengan adanya pelayanan Opung Bornok ini, jumlah umat di sekitar daerah Diski semakin bertambah. Sehingga tempat untuk beribadah tidak memadai lagi.

Kemudian, para tokoh umat pun mencari lahan untuk membangun Gereja. Dengan berbagai tantangan akhirnya pada tahun 1963 didirikan Gereja darurat, terbuat dari dinding tepas dan atap rumbia di sekitar Jl. Medan Binjai Km 14,5 Diski. Proses pembangunan dilakukan secara bergotong-royong dan melibatkan semua umat, termasuk Muda-mudi Katolik di daerah Diski. Hari demi hari jumlah umat pun terus bertambah. Dua tahun kemudian, tahun 1965 umat Diski merenovasi kembali Gerejanya. Bangunan Gereja darurat berubah menjadi bangunan Gereja yang permanen.

Awalnya Stasi Diski merupakan salah satu stasi di Paroki Katedral Medan. Pada 1 Januari 1980 Paroki Katedral Medan mekar dan berdirilah Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai. Sejak saat itu pula stasi Diski masuk menjadi salah satu Stasi di Paroki Binjai. Setelah berdiri hampir 20 tahun, Gereja Katolik Diski belum juga memiliki nama pelindung. Tahun 1983 oleh Pastor Esdras Tarigan digagaslah nama pelindung untuk Stasi Diski. Akhirnya dipilihlah Santo Paskalis sebagai pelindung Stasi Diski. Umat Stasi Diski mencoba menghidupi spiritualitas Santo Paskalis dalam berbagai kehidupan menggereja di Diski. Umat mencoba berdevosi kepada Sakramen Mahakudus dan juga spiritualitas yang berpihak kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan.

gereja lama Kuasi Paroki Diski

Perjalanan Stasi menjadi Kuasi Paroki

Umat Katolik di Diski terus bertumbuh subur. Karena Gereja lama tidak mampu menampung umat lagi, pada tahun 2001 Gereja Stasi Diski diperbesar. Gereja baru ini selesai pada pertengahan tahun 2003, diresmikan oleh Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. A. Gonti Pius Datubara, OFMCap pada waktu itu. Tahun 2008 Uskup KAM juga hadir di Stasi Diski untuk memberkati menara Gereja. Tidak hanya itu, umat Stasi Diski pelan-pelan terus membenahi Gereja mereka. Tahun 2012 Gereja Diski sudah memiliki taman dan Gua Maria.

Saat ini jumlah umat Stasi Diski berkisar 2.037 jiwa. Umat yang terdiri dari 503 Kepala Keluarga ini dibagi menjadi 16 lingkungan. Pertumbuhan umat ini bisa berkembang dengan baik tentunya dipengaruhi dari kerja keras para pengurus Gereja. Kekompakan para pengurus lama dengan pengurus baru membuat perkembangan iman dan fisik Gereja terus  ter-update.

Sejak kepemimpinan Ketua Dewan Stasi Pertama, W, Sibarani, JD. Sitanggang, SE. Saragih, AR. Pinem, SE. Saragih, B. Sijabat, S. Munthe, SP. Lumban Gaol, N. Sembiring dan Masa Ginting kerjasama antar pengurus tetap terjalin. “Saat periode, kami siap mendukung para pengurus yang terpilih. Karena dengan saling mendukung, besar kemungkinan Gereja kita akan terus berkembang,” kata mantan KDS Diski, SP. Lumban Gaol.

Masa Ginting, Ketua Dewan Stasi sekarang mengakui bahwa dukungan banyak diterima dari orang-orang terdekatnya. “Selain bantuan dari Istri, Mari Br. Barus tentu para mantan pengurus sangat mendukung saya untuk mengerjakan pekerjaan ini,” tegasnya.

Dukungan dan kerjasama sejak stasi Diski ini berdiri membuahkan hasil. Perkembangan iman dan jumlah umat yang mantap akhirnya 4 Desember 2018 lalu, Stasi St. Paskalis Diski kini sudah menjadi Kuasi Paroki St. Paskalis Diski. Pada 10 Maret 2019 mendatang Uskup KAM yang baru, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap akan hadir untuk pengesahan Kuasi Paroki St. Paskalis Diski. “Kami berharap April mendatang Kuasi Paroki St. Paskalis Diski sudah mempunyai Pastor Paroki,” tambah Sekretaris Kuasi Paroki Diski, Pasti Tarigan.

pengurus gereja kuasi paroki diski

Kepengurusan Kuasi Paroki St. Paskalis Diski

Kepengurusan Stasi Diski yang dipilih pada tahun 2017 lalu akan diteruskan menjadi kepengurusan kuasi Paroki Diski. Ketua Dewan kuasi Paroki Diski, Masa Ginting, Wakil Viktor Hutagalung. Sekretaris Pasti Tarigan, Wakil Pardingotan Situmorang. Bendahara Pantun Mila Sari Br. Sembiring dan wakil Ester br. Nainggolan. Kepengurusan ini akan bertugas di Kuasi Paroki Diski hingga 2024 mendatang. Kuasi Paroki Diski saat ini memiliki 4 Stasi, diantaranya: Stasi St. Maria Sei Semayang, Stasi Sei Mencirim, Stasi Paluhmanan dan Stasi Bulucina.

Saat ditemui ‘Tim Menjemaat’ Masa Ginting dan Pasti Tarigan banyak bercerita tentang tantangan dan suka-duka mereka untuk memperjuangkan Stasi Diski menjadi Kuasi Paroki. Ke depannya, mereka berjanji akan lebih bekerja keras lagi memajukan Kuasi Paroki Diski.

“Banyak Program yang harus kami tuntaskan setelah penyesahan Stasi Diski pada 10 Maret Mendatang. Selain mengadakan kursus katakese bagi umat, kami akan membangun satu Gereja untuk menambah Stasi Di samping itu, kami juga ingin membenahi ruang Sekretariat dan membangun Rumah Koster. Mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik,” kata Masa Ginting.

(Rina Barus)

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *